
Pagi harinya tuan David berbaring sakit dan itu membuat Elive kerepotan karena harusnya hari ini mereka datang ke rumah Claudia tapi sayangnya tuan David malah sakit dan berbaring.
"Dad kenapa sakitnya mendadak begini, kenapa gak besok saja" ucap Elive.
"Mom yang namanya orang sakit kan gak bisa tau kapan dia akan sakit dan kapan dia akan sembuh" sahut Ailda yang ada di sana.
"Alice benar Mom, yaudah kalau kalian mau pergi kalian pergi saja Daddy akan tinggal di rumah" ucap Tuan David.
"Yang benar Dad" tanya Elive memastikan.
"Tapi Mom kita tunda saja sampai Dad sembuh baru kita berangkat ke rumah Claudia lagian ini bukan masalah pentingkan" ucap Jack.
"No Jack kita harus kesana sekarang Mommy sudah beri tau Keluarganya Claudia kalau sekarang kita akan kesana" ucap Mom Elive.
"Kalian pergilah Dad bisa di rumah sendirian, lagian banyak pelayan juga yang akan merawat Daddy kan".
Dengan berat hari Elive pergi ke rumah Claudia tanpa Tuan David, hanya ada Ailda dan Jack yang menemaninya dengan membawa banyak bingkisan dan makanan Elive datang kesana.
Sampainya di rumah Claudia mereka di sambut dengan sangat ramah oleh keluarga Claudia, bahkan jamuan makanan pun sangat banyak berjajar di atas meja ruang tengah.
"Silahkan di nikmati Nyonya Elive" ucap Daddynya Claudia yang bernama Marsel.
"Terima kasih Tuan anda baik sekali, maaf kami tak membawa apa apa" ucap Elive tersenyum ramah pada Daddynya Claudia.
"Oh ya dimana Mommynya Claudia tuan" tanya Elive.
"Momnya Claudia sudah tak ada Nyonya dia hanya tinggal dengan aku Daddynya" ucap marsel Daddynya Claudia.
"Apa? Maafkan saya tuan saya tak tau" ucap Elive tak enak hati.
"Tak masalah Nyonya".
" pelayan tolong panggilkan Claudia, suruh dia cepat turun ke bawah" titah Marsel pada pelayannya.
"Baik tuan".
Claudia datang kesana dengan memakai gaun warna hijau botol yang sangat cantik bahkan sangat serasi dengan wajahnya.
Hal itu membuat semua orang terkagum kagum tapi tidak dengan Jack yang bahkan tak suka pada Claudia.
" duduk nak Nyonya Elive mau bicara denganmu" ucap Marsel.
__ADS_1
"Ya Dad".
"Tuan sesuai dengan apa yang pernah kita bicarakan, aku datang kemari hendak melamar putri anda untuk Jack anak sulung saya" ucap Elive to the point.
"Bukannya Jack adalah.. " ucap Marsel tak melanjutkan ucapannya karena tak mau membuat Elive tersinggung.
"Ya dulunya dia adalah asisten pribadi keluarga saya namun karena kami sekeluarga sudah sangat sayang jadi kami mengangkatnya sebagai anak sulung kami" ucap Elive.
"Oh maafkan saya Nyonya saya tak bermaksud" ucap Marsel.
"Kalau saya terserah pada Claudia karena dia yang akan menentukan hidupnya sendiri, bagaimana Clau" tanya Marsel pada Putrinya.
"aku terima Dad" ucap Claudia malu malu.
"Syukurlah akhirnya putraku akan menikah juga" ucap Elive senang.
Namun berbeda dengan Jack yang tak suka dengan lamaran ini, bahkan sejak tadi dia hanya melihat Ailda saja dan Jack bisa melihat dengan jelas kalau raut wajah Ailda seperti tak suka pada lamaran itu.
Dengan itu juga Jack dapat menyimpulkan kalau Ailda marah karena Jack akan segera menikah.
Setelah lama mengobrol panjang akhirnya Elive memutuskan untuk pulang karena Jack juga akan ada pekerjaan.
Setelah Jack dan Ailda berada di halaman rumah Claudia, dengan cepat Claudia datang ke sana.
Jack menatap pada Ailda sekilas.
"Maafkan aku Clau tapi malam ini aku sibuk lain kali saja ya" tolak Jack.
"Oh baiklah" ucap Claudia.
**
Malam harinya Ailda duduk di dekat halaman rumah tuan David, matanya menatap keatah langit melihat bintang bintang yang bertaburan di atas sana.
Sungguh hatinya sangat sakit saat menyaksikan acara lamaran tadi, bukan apa apa karena sekarang hatinya sudah memilih berlabuh pada Jack tapi di sisi lain juga dia tak mau mengecewakan tuan David dan Nyonya Elive.
"Kapan kebahagiaan aku datang, apa aku tak pantas bahagia" gumam Ailda menatap kosong pada langit.
Namun tanpa Ailda sadari Jack sudah ada di sampingnya berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.
"Sedang apa sendirian" tanya Jack, malam ini dia ingin mengutarakan cintanya pada Ailda.
__ADS_1
"Hah Jack" ucap Ailda kaget dan langsung menatap pada Jack, sedangkan Jack langsung duduk di samping Ailda.
"Sedang apa di sini Jack" tanya Ailda.
"Hanya ingin menikmati indahnya malam saja" jawab Jack sambil menatap langit langit.
Ailda hendak pergi dari sana namun dengan cepat Jack menghentikan langkahnya dengan memegang tangan Ailda.
"Duduklah aku hanya ingin bicara penting denganmu" ucap Jack.
Ailda kembali duduk di samping Jack matanya menatap pada langit tanpa sedikit pun menatap pada Jack.
"Maaf" ucap Jack pada Ailda.
"Untuk apa" tanya Ailda namun tetap saja matanya masih menatap pada langit nan indah itu.
"Ail aku tau kau marah atas sikap aku yang kemarin kemarin, makannya aku mau minta maaf, oh ya satu lagi Ail sejujurnya aku tak bisa melupakan kamu mau kan kau kembali padaku seperti dulu" ucap Jack sungguh sungguh.
Ailda menatap pada wajah Jack yang serius itu, ingin rasanya Ailda bilang ya tapi apa lah daya Jack sebentar lagi akan menikah.
"Maaf Jack tapi kau akan menikah, kalau kau punya hubungan denganku bagaimana dengan Claudia, coba lah lihat dia sekali saja" ucap Ailda.
"Dulu aku pernah mencintainya sebesar yang aku punya tapi dia pergi dan kau tau alasan dia pergi dariku" tanya Jack.
Ailda menggelengkan kepalanya.
"Alasannya hanya karena aku adalah seorang supir dia malu punya suami seperti aku bahkan saking malunya dia bahkan dia sampai kuliah kedokteran ke luar negri hanya untuk menghindariku, dan sekarang obsesinya sangat kuat untuk mendapatkan aku tapi aku menolak mentah mentah wanita seperti Claudia, enak saja dulu aku sampai memohon padanya agar mau bersamaku tapi dia malah pergi" jelas Jack.
"Tapi Jack cintanya sangat tulus padamu, bahkan aku bisa melihatnya sendiri" ucap Ailda.
"Bukan Ailda yang kau lihat itu bukan cinta tapi keserakahan saat dia tau aku anak angkat tuan David sekarang dia mendekatiku dan seolah olah lupa pada kejadian waktu itu".
" tapi aku belum bisa nerima kamu Jack".
"I know, kita temenan saja aku janji akan menjadi teman yang baik, dari pada kita bertengkar terus bahkan kita saling caci maki mending kita berteman saja" ucap Jack.
"Teman? Boleh".
Jack mengulurkan tangannya untuk berjabatan dengan Ailda, dengan cepat Ailda pun membalasnya.
"Aku harap kita bisa terus akur" ucap Jack.
__ADS_1
Ailda tersenyum meski pun dalam hatinya merasa ini tidak benar, bukan ini yang Ailda mau tapi mau bagaimana lagi semoga dengan cara ini Ailda bisa merelakan Jack untuk Claudia.