Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
Trauma


__ADS_3

Malam semakin larut, saat Andra mengantar Liana pulang. Malam ini, akan menjadi kenangan terindah bagi Andra dan Liana.


"Terima kasih, kamu sudah menerima cintaku," ucap Andra seraya menggenggam jemari Liana lembut.


"Aku yang harusnya berterima kasih padamu. Kau sudah melihat sifatku selama enam bulan ini seperti apa. Tapi, kau tetap bisa menerimaku." setitik air mata jatuh, membasahi pipi Liana.


Jemari Andra terangkat dan menghapus air mata itu. Kembali, matanya menatap dalam mata Liana. Ia bisa melihat kejujuran di sana.


Andra menarik Liana ke dalam pelukannya. Mengecup kepala gadis itu berkali-kali. Awalnya, Liana tidak berani membalas pelukan Andra. Namun, perlahan ia mulai mengangkat kedua tangan dan melingkarkannya di tubuh Andra.


Tanpa Liana tahu, Andra menyunggingkan senyuman mendapati sang kekasih membalas pelukannya. Mereka saling melepaskan diri, saat kaca mobil diketuk dari luar.


Andra menurunkan kaca mobilnya. Tatapan penuh selidik menghujam mereka. Liana tersenyum kikuk menatap ibunya.


"Malam, Tante," sapa Andra.


"Malam." ibu dari Liana membalas sapaan Andra.


"Terima kasih sudah mengantar Liana pulang. Kalian, tidak berbuat macam-macam, 'kan?" tanya ibu Liana.


Gelengan kepala kuat Andra dan Liana berikan sebagai jawaban. Senyum kepuasan tersungging di bibir ibu Liana.


"Bagus kalau begitu. Kalian, tidak boleh bertindak di luar batas. Ingat itu!"


Andra dan Liana hanya mengangguk mendengar nasihat itu. Liana pun membuka pintu mobil perlahan.


"Kalau begitu, saya permisi dulu, Tante," pamit Andra.


"Iya."


Andra kembali menutup kaca mobilnya. Perlahan, mobil mulai meninggalkan tempat itu. Liana masih memperhatikan mobil Andra hingga menghilang.


"Mau sampai kapan kamu di situ?"


Pertanyaan itu mengalihkan perhatian Liana. "Iya, Ma. Aku masuk," jawab Liana.


"Kamu sudah pacaran dengan dia?" tanya sang mama setelah Liana menyejajarkan langkah mereka.

__ADS_1


"Sudah," Jawa Liana pelan.


"Sejak kapan?"


"Hari ini." Lagi, Liana berucap lirih.


Mama Liana melangkah cepat. Meninggalkan putri semata wayangnya di belakang.


"Mama, gak maraj, 'kan?" tanya Liana.


"Kenapa mama harus marah? Andra baik dan terlihat bertanggung jawab. Apalagi, mama sudah mengenal dia selama enam bulan ini."


"Tidak seperti laki-laki itu, 'kan?"


Mama Liana menghentikan langkahnya. Kemudian, berbalik menatap sang putri. Helaan napasnya terdengar berat.


"Liana, bagaimana pun juga, laki-laki itu tetap ayahmu. Darahnya, mengalir di dalam tubuhmu. Ingat itu!"


Liana memutar bola matanya malas. Seakan muak mendengar penjelasan yang sama berulang kali.


"Dan itu, adalah sesuatu yang aku sesali. Seandainya aku bisa memilih, aku tidak menginginkan pria itu menjadi ayahku!" jawab Liana sengit.


"Memahami? Sampai kapan, Ma? Seumur hidup?" Liana tertawa menahan amarah.


"Enak sekali menjadi orang tua. Selalu dan selalu minta untuk dipahami. Apa mereka juga belajar memahami anaknya?"


Liana memilih berlalu dari hadapan mamanya. Ada rasa sakit yang tak tertahan, saat mereka membicarakan pria yang harus Liana panggil ayah itu.


"Sayang, kau akan mengerti saat menjadi orang tua nanti," ucap mama saat ia mengejar Liana masuk.


"Sayangnya, aku tidak berniat menikah!"


Bagai tersambar petir, mama Liana melepas pegangannya pada lengan sang putri, setelah mendengar jawaban itu. Liana menggunakan kesempatan itu untuk masuk ke kamarnya.


Tubuh mama Liana melemas hingga luruh ke lantai. Ia pasti tak menyangka, jika apa yang dilakukan ayahnya membekas di hati putri tercinta. Bahkan, mungkin mendatangkan trauma.


Sementara dalam perjalanan pulang, Andra tersenyum sendiri. Sungguh, malam ini menjadi malam terindah dalam hidupnya.

__ADS_1


"Perjuanganku tidak sia-sia. Semangat Andra," ucapnya pada diri sendiri.


"Semoga dalam beberapa waktu ke depan, aku bisa melamar Liana dan meminangnya," harap Andra.


Andra tiba di rumah setelah mengendara selama setengah jam. Pria itu bersiul bahagia seraya memutar kunci mobil di jari telunjuknya.


"Bahagia banget," ucap seseorang.


Andra menghentikan langkahnya dan menoleh. Sepupu sekaligus sahabatnya terlihat duduk di sofa. Dengan senyum merekah, ia menghampiri pria itu.


"Yoi, Bro. Kau ingat tentang gadis yang aku ceritakan di rumah sakit?" tanya Andra.


"Oh, yang ibunya jadi pasienku itu?"


Andra menganggukkan kepala membenarkan.


"Kenapa?" tanyanya lagi.


"Aku berhasil menjadikan dia pacarku," ucapnya bahagia.


"Wow ... selamat, Bro. Akhirnya, gak belok lagi," ejeknya.


"Sialan! Gara-gara mulutmu itu, mama hampir mati," umpat Andra sengit.


Pria yang berprofesi sebagai dokter itu tergelak mendengar umpatan sepupunya. "Yang penting, 'kan sekarang kamu gak jones lagi," ucapnya dengan mimik mengejek.


"Iya, dong. Kan, gelar jonesnya udah pindah," balas Andra.


"Pindah ke siapa?"


"Ke kamu lah," lanjut Andra.


Andra semakin tergelak melihat ekspresi kesal sepupunya itu. Ia pun beranjak masuk ke kamar, meninggalkan sepupunya itu sendiri.


"****," umpatnya.


***

__ADS_1


untuk crazy up, aku usahakan ya guys. tapi gak bisa janji✌️


__ADS_2