Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
Kembali


__ADS_3

Liana mulai mencari tahu tentang kebenaran saham atas namanya itu. Ia sengaja mendatangi advokat ternama di kota itu. Mereka pun mulai mengecek keabsahannya.


"Tidak ada yang perlu diragukan. Saham ini memang milik, Anda," jawab seorang pengacara yang memeriksa berkas saham milik Liana.


Suasana hening merajai ruangan itu. Berbagai pertanyaan muncul dalam benak Liana. Ia tidak tahu dari mana saham itu berasal. Bagaimana bisa, ia memiliki saham di perusahaan yang sudah ibunya berikan pada sang ayah?


Ini terasa janggal. Apa yang terjadi sebenarnya? pikir Liana.


"Terima kasih. Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit Liana.


Tak ada lagi yang bisa Liana ragukan. Gadis itu menghela napas lelah. Ia merasa terjebak dalam sebuah masalah pelik perusahaan.


"Aku harus lihat sendiri masalah yang terjadi di perusahaan mana," gumam Liana.


Hari itu juga, Liana mengajukan pengunduran diri dari perusahaan tempatnya bekerja selama kurang lebih satu tahun ini. Beruntung, perusahaan juga tidak mempersulitnya, hingga Liana bisa resign tanpa butuh waktu lama.


Tiba di kosannya, ia pun menemui pemiliknya dan berpamitan. Setelah itu, Liana segera membereskan barang-barangnya dan pergi.


***


Liana tiba di kota kelahirannya tepat pukul delapan malam. Tidak banyak yang berubah dari kota itu. Gadis itu segera menuju rumah yang pernah ia tinggali bersama mamanya dulu. Tanpa ia sadari, seseorang yang mengawasinya, tersenyum melihat kedatangan gadis itu.


Andra, selalu mengawasinya. Tidak pernah ia melepas Liana sedikit pun. Setiap gerak geriknya selalu ada dalam pantauan Andra. Ia pun mengikuti langkah Liana menuju rumahnya. Setelah memastikan keselamatan gadis itu, ia pun kembali.

__ADS_1


Saatnya mengikatmu, Sayang, gumamnya dalam hati.


Liana membuka pintu rumah dan tersenyum. "Liana kembali, Ma. Maaf, Liana pergi cukup lama," gumamnya.


Tanpa membuang waktu, Liana membereskan rumah itu. Dua jam kemudian, Liana pun selesai. Ia merebahkan tubuhnya yang terasa lelah, hingga kemudian ia terlelap.


***


Bunyi alarm membangunkan Liana dari tidur nyenyaknya. Ia bergegas menuju perusahaan yang telah dikuasai oleh keluarga baru sang ayah. Tidak butuh waktu lama, Liana tiba di perusahaan itu.


Ini adalah kali pertama ia menginjakkan kaki di perusahaan. Hampir seluruh karyawan menatapnya heran. Seorang security menghampiri dirinya.


"Maaf, Ibu, ingin bertemu siapa?" tanyanya.


"Direktur Sandi," jawab Liana tanpa basa-basi.


"Katakan saja padanya, Liana sudah datang!" titah Liana.


Security itu segera menuju mejanya dan menghubungi seseorang. Tidak lama kemudian, ia segera menghampiri Liana kembali.


"Ibu, sudah ditunggu di ruangan bapak. Mari, ikut saya," ucap security itu


Mereka pun menuju ruangan Sandi di lantai enam. Tiba di sana, Liana dipersilakan masuk.

__ADS_1


"Jadi, kamu sudah yakin dengan kepemilikan saham itu?" tanya Sandi.


"Tidak usah basa-basi. Sekarang, bagaimana caranya menyelamatkan perusahaan yang sudah susah payah dirintis keluarga mama," ucap Liana sinis.


Wajah Sandi berubah keruh setelah mendengar kata-kata Liana. Dengusan kasar terdengar dari mulut pria itu.


"Ada seseorang yang ingin membantu dengan investasi. Tapi, dia mengajukan sebuah syarat," ucap Sandi kemudian.


"Siapa?" tanya Liana.


Kalau memang ada, kenapa harus menunggu aku kembali?


"Papa juga tidak tahu. Dia hanya mengutus seseorang untuk menyampaikan pesannya," jawab Sandi.


"Papa?" Tawa Liana menyembur mendengar kata menggelikan itu.


Melihat Liana menertawainya, membuat Sandi salah tingkah dan tersenyum kaku. Beberapa detik kemudian, Liana menghentikan tawanya.


"Lalu, apa isi pesannya?" tanya Liana.


"Dia mau menginvestasikan dana sebesar satu milyar, asal bisa menikah denganmu!" jawab Sandi tegas.


Wajah Liana berubah kaku. Ia menatap tajam ayahnya itu.

__ADS_1


"Sekarang aku tahu tujuanmu memberiku saham ini! Kau benar-benar luar biasa!"


Liana segera pergi meninggalkan ruangan itu dalam keadaan marah. Sementara Sandi, menatap nanar kepergian sang putri.


__ADS_2