
Keesokkan harinya, Andra mendatangi rumah Liana. Sud berkali-kali ia mengetuk pintu, tetapi tidak ada yang membukanya. Andra semakin panik. Apa lagi, tidak ada cahaya sedikitpun dari dalam. Ia takut, terjadi sesuatu pada Liana.
Tanpa menunda lagi, Andra segera mendobrak pintu rumah itu. Ia segera memanggil dan mencari Liana. Andra pun mengerutkan dahi, saat tak mendapati Liana. Rumah itu, bahkan terkesan tidak di tempati.
"Kemana dia pergi? Jangan-jangan ...." Andra berbalik meninggalkan rumah itu.
Ia meminta bantuan Nino, untuk mencari tahu keberadaan Liana di berbagai rumah sakit di kota itu. Nino sampai bertanya, dengan apa yang terjadi. Andra pun menceritakan kekhawatirannya. Ia takut, Liana berbuat nekat dengan melakukan aksi bunuh diri.
Nino pun menyanggupi permintaan Andra. Sementara pria itu, mencari di berbagai tempat. Ia juga meminta bantuan polisi. Sayangnya, polisi tidak bisa langsung mencarinya. Andra diminta kembali melapor lusa, setelah 48 jam.
"Mana mungkin saya menunggu selama 48 jam. Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu pada pacar saya?" tanyanya.
"Maaf, Pak. Itu sudah aturannya. Anda, bisa mencoba bertanya pada teman-temanya. Mungkin saja, pacar, Anda, berada di sana."
Sementara di bandara, Liana sudah bersiap menuju kota lain. Ia bertekad, untuk memulai kehidupan baru. Ia sudah mengajukan resign, melalui surel pagi tadi.
"Selamat tinggal Jakarta. Jika suatu hari aku kembali, semoga tidak ada lagi hal yang perlu ditangisi," ucapnya lirih.
Liana mematikan ponselnya, kemudian membuangnya ke tempat sampah. Meninggalkan kota itu dengan langkah pasti.
***
Andra masih mencari keberadaan Liana. Ponselnya berdering, Di sana, terlihat nama Fia. Andra mendesah kesal. Alih-alih menolak, ia justru menjawab panggilan itu.
"Halo," sapanya.
"Aku melihat Liana di bandara. Apa dia sudah bisa melakukan perjalanan jauh? Kondisinya sudah membaik?"
Mendengar kata bandara, membuat Andra mempercepat laju mobilnya. "Tunggu aku di sana!" Andra memutus panggilan. Ia bahkan tidak menjawab satu pun pertanyaan Fia.
Satu jam kemudian, ia tiba di bandara. Andra memarkir asal mobilnya. Ia kembali menghubungi Fia. Menanyakan keberadaan gadis itu. Setelah mendapat jawabannya, ia segera menuju ke sana.
"Di mana kau bertemu dengan Liana?" tanya Andra.
"Di bagian check in. Aku tidak bisa mengejarnya."
"Jadi, kau tidak tahu kemana dia pergi?"
Fia menggelengkan kepalanya. Andra mengumpat keras, melihat Fia menjawab dengan gelengan.
"Sebenarnya, apa yang terjadi? Kenapa Liana meninggalkan kota?" cecar Fia.
"Aku juga tidak tahu. Beberapa hari ini, aku sengaja tidak menemui dia. Berharap emosinya stabil."
"Coba kau cari tahu. Siapa tahu, ada yang terjadi di rumah sakit."
__ADS_1
Andra menganggukkan kepalanya. Ia segera menghubungi Nino, dan meminta pria itu mencari tahu. Setelah itu, menutup sambungan.
"Kau ingin pulang?" tanya Andra.
"Ya."
"Biar aku antar," tawar Andra.
"Hmm."
Andra mengambil barang bawaan Fia. Mereka menuju parkiran bersama. Selama perjalanan, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Andra mengantarkan Fia hingga rumah orang tuanya.
Alis Andra terangkat tinggi, melihat perbedaan yang mencolok antara Liana dan Fia. Padahal, mereka berdua adalah saudara satu ayah.
"Apa sejak kecil kau tinggal di sini?" tanya Andra.
Ia melontarkan pertanyaan itu tanpa sadar. Fia tersenyum lemah dan menganggukkan kepala. Gadis itu mengerti, akan apa yang Andra pikirkan.
"Kau pasti berpikir, bila ini tidak adil untuk Liana dan almarhum Tante Diana."
Andra tak menjawab. Namun, dari tatapannya, Andra membenarkan pernyataan Fia. Kekehan terdengar dari bibir gadis itu.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu. Intinya, setelah aku memeriksa semua aset keluarga, tidak satu pun atas nama Liana atau Tante Diana. Semua, atas nama papa. Saat aku bertanya pada pengacara keluarga, mereka bilang, Tante Diana sendiri yang mengalihkan hartanya pada papa. Entahlah. Aku tidak mengerti." Fia mengakhiri ceritanya.
"Sudah malam. Masuklah," ucap Andra kemudian.
***
"Gimana? Apa yang kau temukan?" tanya Andra.
Rupanya, pria itu menemui Nino ke rumah sakit. Nino menunjukkan laptopnya. Di sana, ada seorang wanita sosialita yang datang mengunjungi ruangan Liana. Sayangnya, di dalam ruangan tidak dipasangi cctv. Rumah sakit tetap menjaga privasi pasien. Hanya bagian lorong dan meja perawat yang terpasang.
"Bisa Lo perjelas?"
Nino membalikkan laptop dan mengutak-atiknya. Kemudian, kembali mengarahkannya pada Andra.
"Itu ... mamanya Fia," ucap Andra lirih.
"Mamanya Fia?"
"Ya. Ibu tiri Liana."
Nino membulatkan matanya. "Di tanggal itu, aku dapat laporan dari beberapa perawat dan dokter yang menangani Liana, jika dia berteriak histeris."
"Sial! Apa yang dia ucapkan?" Andra mengepalkan tangannya kuat.
__ADS_1
"Kata-katanya pasti menyakiti Liana. Karena itu, dia pergi."
"Nin, bisa tolong gue cari pengacara?" Andra mengalihkan topik.
"Pengacara?" ulang Nino. "Buat apa?" lanjutnya.
"Cari saja. Nanti kau akan tahu!" Andra segera meninggalkan ruangan Nino.
"Dasar sepupu laknat," umpat Nino.
***
Di kota lain, Liana sudah menemukan sebuah tempat tinggal. Hanya sebuah kamar kos mungil. Tidak terlalu mahal, cukup ramah di kantong. Liana segera membereskan barang-barangnya.
"Ah, lelahnya," gumam Liana setelah selesai membereskan.
Gadis itu mengambil dompet yang terletak di atas nakas. Ia segera keluar dari kamar kos barunya. Berniat mencari makanan. Untungnya, kamar kos Liana tak jauh dari jalan. Ada banyak penjaja makanan di sana. Ia hanya tinggal memilih makanan yang diinginkan.
Selesai makan, Liana kembali ke kamar kosnya. Ia menatap langi-langit kamar. "Gimana caranya aku cari kerja, ya? Ponsel aja gak punya." Liana mendesah lelah.
Tak lama, ia tertidur pulas. Rasa lelah, segera menghantarkannya ke dalam dunia mimpi dengan cepat. Pagi harinya, Liana mencari counter terdekat. Ia akan membeli ponsel baru. Berbekal sisa tabungan dan gaji terakhirnya, Liana segera membeli ponsel dan nomor baru.
Usai membeli ponsel, ia mencoba berkeliling kota itu. Memulai awal yang baru untuk kehidupannya. Dalam perjalanan, ia melihat lowongan pekerjaan di sebuah butik. Liana tersenyum dan mencoba masuk ke sana.
"Siang, Mba. Apa di sini sedang membutuhkan karyawan?" tanyanya.
"Iya, benar. Apa, Mbak, membawa surat lamarannya?" pegawai toko itu bertanya.
"Saya belum bawa. Tapi, apa boleh saya melamar lebih dulu?" mohon Liana.
"Tentu saja boleh."
Jawaban itu membuat Liana menoleh. Di pintu masuk, seorang gadis cantik berdiri dan melangkah ke arahnya. Liana terkejut melihat gadis itu. Apa dia pemiliknya?
"Halo, aku Nisya, pemilik butik," sapa gadis cantik itu.
"Saya, Liana." Liana memperkenalkan dirinya.
Seriously? Inikah gadis yang Nino maksud? Gadis itu tersenyum lebar. "Kamu gak perlu bawa surat lamaran. Kapan pun kamu ingin mulai bekerja, silakan datang."
Bukannya bahagia, Liana justru merasa aneh dengan reaksi yang gadis itu tunjukkan. Ada yang aneh. Apa dia kenal aku? Atau, kami pernah bertemu?
"Jadi, kapan kamu akan mulai bekerja?" tanya Nisya antusias.
Sebaiknya, aku cari pekerjaan lain saja. "Biar saya persiapkan diri dulu. Nanti, saya akan datang lagi ke sini. Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit Liana.
__ADS_1
Liana tetap menunjukkan senyum manisnya. Namun, tak menunjukkan kecurigaan sedikit pun.