Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
Wajah asli Fia


__ADS_3

"Hanya karena itu kau membenciku?" tanya Liana. Hal itu membuat Liana ingin tertawa. Adakah orang yang bisa membenci orang lain, hanya karena masalah sepele? Terlebih, ia tidak pernah bertemu dengan pria itu lagi.


Fia mengendikkan bahu acuh. "Karena dia bilang, kau cantik. Apa matanya buta? Aku jauh lebih baik darimu. Lebih cantik dan lebih kaya. Sampai aku berpikir, untuk mendekatimu, lalu menghancurkan wajahmu." Fia menghentikan ucapannya.


"Apa kau ingat dengan gosip, di mana dirimu menjadi sugar baby? Itu terjadi, setelah beberapa hari sebelumnya, kau bertemu pria itu di hotel," terang Fia.


Kembali, ingatan Liana melayang pada kejadian kurang lebih 10 tahun yang lalu. Itu, gosip yang membuatku berakhir dihina oleh cowok yang sedang ku dekati hingga aku memilih menjauh dan membenci pria.


"Jangan bilang ... kau yang melakukan itu!"


Fia tersenyum dan mengangguk. Liana terkejut, lalu mengepalkan tangannya kuat. Amarah mulai menguasai dirinya. Andra yang menyadari itu, segera menahan sang istri. Ia menggelengkan kepalanya, meminta Liana untuk tidak bertindak gegabah.


"Dasar bodoh! Aku tidak pernah benar-benar ingin berteman denganmu!" tegas Fia.


"Baguslah, kau sudah mengakuinya sekarang. Jafi, aku tidak perlu repot-repot menghindarimu." Liana bangkit berdiri dan mendekati Andra.

__ADS_1


"Dia, memiliki gangguan kepribadian narsistik. Dari penyelidikanku, semua itu terjadi karena ibunya, menuntut kesempurnaan dari dia." Liana memberitahukan hasil penyelidikan yang sudah ia lakukan selama dua tahun ini.


"Menyelidikinya?" tanya Andra.


Liana pun menceritakan pada Andra, bila polisi, menunjukkan ponsel Fia yang ada di TKP, saat dirinya tertembak. Polisi sudah melihat semua isi pesan yang ada di dalam ponsel tersebut. Sayangnya, rencana Fia gagal. Rencana yang seharusnya membunuh Liana dan merebut Andra, justru berbalik melukainya. Termasuk dengan keberadaan Dilan.


"Apa?" Andra sangat terkejut mendengar semua yang Liana paparkan.


Pria itu pun mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang yang pernah ia minta untuk menyelidiki Dilan. Namun, panggilannya tidak tersambung. Melihat itu, Liana justru terkekeh. Ia meminta pria yang berjaga di pintu, untuk memanggil seseorang.


Pria itu segera melangkah masuk. Tak lama, ia kembali bersama pria lain, yang Andra kenal. Dia adalah salah satu anak buah terbaik sang ayah.


"Andrew," ucap Andra terkejut.


Pria itu menundukkan kepala, memberi hormat pada Andra dan Liana. Andra kehilangan kata-kata. Ia berbalik menatap sang istri penuh tanya.

__ADS_1


"Hah!" Liana menghela napas kesal. "Pantas saja, papa bilang kau itu hanya pintar dalam bisnis!" ejeknya. Ia berjalan mendahului sang suami.


Andra menatap tak percaya pada sang istri. Ia pun mengejar Liana hingga menuju parkiran. Ia masuk ke dalam kursi pengemudi lebih dulu. Melihat itu, Liana segera masuk ke sampingnya.


"Apa maksudmu berkata seperti itu?" tanya Andra yang mulai menjalankan mobil keluar dari area tempat itu.


"Yah, kau tidak bisa melihat hal berbeda dari Fia. Sebenarnya, Bianca pernah memberitahuku, jika Fia sepertinya tidak sungguh-sungguh ingin berteman dengan kami."


"Lanjutkan," pinta Andra.


"Saat itu, aku tidak percaya. Tapi, saat dia tahu kami bersaudara dan memelukmu di dekat jembatan, dia melihat keberadaanku. Saat itu, dia tersenyum mengejek."


"Maksudmu, dia sengaja memanasimu?" tanya Andra. Liana menganggukkan kepala.


Kini, Andra mengakui kebodohannya. "Lalu, di mana Dilan sekarang?" tanya Andra.

__ADS_1


"Dia sudah pergi. Dia juga sudah mengakui semuanya pada pihak kepolisian. Karena itu, Dilan memilih pergi."


__ADS_2