
Liana mengejar Andra dan menghadang jalanya. Ia menatap nyalang pria di depannya. Satu tamparan kuat melayang ke pipi sang suami. Wajah Andra sampai berpaling karenanya.
"Kau anggap aku apa? Setelah kau mengambil paksa hakmu, sekarang kau ingin membuang ku?" tanya Liana.
Wanita itu tertawa keras. Bahkan air matanya ikut menetes. Bukan karena rasa lucu. Akan tetapi, ia merasa sakit di hatinya yang teramat sangat. Merasa dibuang bak sampah yang tak lagi berguna.
Andra tak bereaksi. Tatapannya datar, sedatar ekspresinya. Liana menghentikan tawanya dan menghapus sudut matanya. Kemudian, kembali menatap nyalang Andra.
"Luar biasa! Inikah dirimu yang sebenarnya? Ceraikan aku atau bunuh aku! Pilih salah satu!" tegas Liana.
Ada keterkejutan di mata Andra. Ia tak percaya, bila Liana mengatakan kata-kata itu. Pria itu menarik napas dalam.
"Sudah kukatakan aku tidak akan menceraikanmu. Kalau kau tidak ingin pergi, biar aku yang pergi!" Andra pun melangkah pergi.
Liana tak membiarkannya lolos. Ia mengikuti langkah Andra dan menahannya. Mau tidak mau, Andra kembali menahan langkahnya. Ia menatap Liana. Napas Liana terlihat memburu.
"Kau benar-benar brengsek! Aku membencimu! Egois! Kau tidak pernah peduli dengan perasaanku!" pekik Liana.
Ia terus memukuli Andra dengan membabi buta. Memakinya dengan kata-kata kasar. Suara tangisnya terdengar menyayat hati. Tak ada balasan sedikit pun dari Andra. Pria itu membiarkan Liana melepaskan semua emosi yang selalu ia tahan selama ini.
Hati Andra terasa nyeri melihat seberapa hancurnya Liana. Ia menahan air mata sekuat tenaga. Perlahan pukulan Liana melemah, hingga akhirnya ia jatuh terduduk. Andra menopang tubuhnya cepat. Kemudian memeluknya.
"Aku lebih suka kau seperti ini. Menumpahkan setiap kekesalanmu, tanpa perlu menahan diri. Terakhir pertengkaran kita, kau bahkan tidak selepas ini," ucap Andra.
__ADS_1
Liana tidak menjawab. Ia masih terisak, dalam pelukan Andra. Berkali-kali Andra mengecup kepala sang istri. Air matanya ikut terjatuh, merasakan kepedihan di hati istrinya.
Setelah beberapa saat, Liana sudah terlihat lebih tenang. Andra mengangkat tubuhnya, dan membawa sang istri ke kamar. Liana tak bergeming. Ia tetap pada posisi menghadap Andra. Menatap sang suami dengan mata sembab.
"Tidurlah. Kau pasti lelah." Andra mengusap kepala Liana lembut.
Rasa lelah yang Liana rasakan, ditambah usapan dari Andra, perlahan membawanya ke dalam mimpi. Andra tak melepas pandangannya dari Liana. Setelah memastikan Liana tertidur, Andra keluar dari kamar.
Andra menopang kepalanya dengan kedua tangan. Berkali-kali menghela napas dalam. Kemudian, membuka laci meja kerjanya. Mengambil benda yang tersimpan di dalam dan menatapnya lama.
"Jika ini memang jalan yang terbaik, aku akan melepasmu," gumam Andra.
Segera Andra mengambil ponselnya. Ia segera menghubungi seseorang. Tak butuh waktu lama, orang yang ia hubungi menjawab.
Setelah mendapat jawaban, Andra memutus panggilan. Ia menatap nanar ponselnya. Setelah itu, Andra menyusul Liana. Ia merebahkan tubuhnya di samping sang istri. Memeluk tubuh itu erat. Sebelum akhirnya melepaskan.
Pagi-pagi sekali, Andra bangun lebih dulu. Ia menyiapkan sarapan untuk Liana. Hanya sekedar membuat roti lapis. Setelah itu, ia pun berangkat lebih dulu. Sebelum berangkat, ia mengecup kening Liana.
Pukul tujuh pagi, Liana mulai membuka matanya. Ia menatap sekeliling kamar sebentar. Apa dia tidur di kamar sebelah? batinnya.
Ia pun bangkit dari tempat tidur dan membersihkan diri. Beberapa menit kemudian, ia sudah siap. Ia terkejut, saat berdiri di depan meja makan. Ada sticky note tertempel di sana.
Jangan lupa sarapan! Andra.
__ADS_1
Senyum kecil terbit di wajah Liana. Ia pun melahap roti lapis tersebut, sebelum berangkat bekerja.
***
Mobil Liana memasuki gedung perkantorannya. Saat akan memasuki lobby, ia melihat Fia di sana. Untuk apa dia di sini?"
Fia pun menyadari kehadiran Liana. Ia mendekati sahabat sekaligus saudara tirinya.
"Liana, aku dan Andra tidak memiliki hubungan apa pun. Aku hanya membantunya untuk meluluhkan hatimu," ucapnya.
Senyum miring terlihat di wajah Liana. "Tidak perlu menjelaskannya. Gue gak butuh penjelasan dari lo. Sekarang, minggir!" usir Liana.
"Gue harus jelasin sama lo. Karena pagi tadi, Andra mengusir gue dan mama dari kota ini! Kalau dia gak bisa dekat sama lo, itu karena diri Lo sendiri! Cemburu Lo gak beralasan tahu gak!" teriak Fia.
Liana menghentikan langkahnya dan berbalik. Kembali mendekati Fia.
"Lo bilang apa? Gak beralasan? Ingat latar belakang Lo! Gue, bukan nyokap yang bisa kalian bodohi selama bertahun-tahun. Bahkan, saat kalian merebut paksa perusahaan ini!" desis Liana.
Mata Fia terbelalak. "Aku bukan pelakor!" teriaknya lagi.
"Dengar baik-baik! Di dunia ini, tidak akan pernah ada pencuri yang mengaku!" Liana pun memanggil keamanan, "satpam! seret dia keluar dari sini. Jangan lagi biarkan dia masuk ke tempat ini! Mengerti?"
Liana segera berbalik meninggalkan Fia.
__ADS_1