
Andra menangkap tubuh Liana yang terjatuh. Namun, bukan sang istri yang tertembak, melainkan Fia. Darah mulai mengalir dari luka di tubuhnya. Membuat Fia ambruk seketika.
Liana menghampiri Fia. "Bangun!" teriak Liana.
"Kau tidak boleh mati tanpa seijinku! Kau ... harus membayar semua kesalahanmu!"
liana terus berteriak histeris. Tidak ada setitik pun air mata jatuh dari matanya. Andra memeluk Liana erat. Berharap sang istri tenang. Salah seorang anak buah Andra datang. Ia pun memberikan kode, agar pria itu membawa Fia ke rumah sakit.
"Tenang, Liana! Kau harus tenang!" tegas Andra, "kita ke rumah sakit sekarang!"
Andra segera menarik pergelangan tangan Liana. Tak ada perlawanan darinya. Liana, hanya mengikuti langkah Andra.
***
Di depan ruang operasi, Andra dan Liana duduk menunggu. Tatapan Liana terlihat kosong. Beberapa kali, Andra menggenggam tangan Liana. Namun, ia tak sedikit pun merespon.
"Apa kau merasa bersalah dengan kejadian ini?" tanya Andra lirih.
__ADS_1
Liana menoleh dan menatap andra datar. "Tidak," jawab Liana singkat.
"Lalu, kenapa kau diam saja sejak tadi?"
Liana belum sempat menjawab, ketika seseorang dengan kursi roda menghampiri mereka. Pandangan Liana dan Andra terfokus pada sosok di depan mereka. Terlihat, pria itu mengangkat tangannya dengan susah payah.
Sebuah tamparan tanpa rasa, mendarat di pipi Liana. Sudut bibir Liana terangkat. Senyum sinis, ia berikan pada pria itu.
"Tadinya aku berniat memaafkanmu. Tapi, melihat bagaimana kau membela anak kesayanganmu itu, aku tidak jadi memaafkanmu!" Liana bangkit berdiri dan meninggalkan tempat itu.
Andra menatap datar pria yang berstatus ayah dari istrinya. "Lepaskan Liana. Biar aku yang menjaganya. Kalian tidak perlu mencarinya lagi. Apalagi, sampai mengganggunya. Jika sampai aku tahu, maka aku sendiri yang akan menghancurkan kalian," ancam Andra.
"Bagaimana pun, aku ayahnya!" ucap Sandi susah payah.
Andra kembali berbalik. Mendekati pria itu dan berbicara lirih padanya. Membuat bulu kuduk Sandi meremang.
"Kau memang ayahnya secara biologis. Tapi, apa kau sudah menjalankan peranmu sebagai ayah dengan baik? Tidak! Selama ini, kau hanya sibuk dengan keluarga barumu! Apa alasanmu melakukan semua itu? Apa tidak sedikit pun kau menyayangi Liana? Tanyakan itu pada hatimu!"
__ADS_1
Kali ini, Andra benar-benar meninggalkannya di sana. Tidak peduli, seberapa kuat pria itu memanggil namanya.
***
Liana menatap air kolam yang terlihat tenang. Terlihat jelas ikan-ikan yang berenang ke sana kemari. Senyum Liana terbit.
"Seandainya ada kehidupan kedua, aku ingin menjadi salah satu bagian dari kalian. Paling tidak, tidak ada pengkhianatan. Karena kalian diciptakan, bukan untuk saling berkhianat layaknya manusia," gumam Liana.
"Jangan melihat segala sesuatu dari satu sudut pandang saja. Kita hanya tidak tahu, seberapa sulit mereka bertahan hidup. Jika dipelihara seperti ini, mungkin terlihat lebih baik. Karena mereka tak perlu kesulitan mencari makan sendiri. Tapi, bagaimana dengan ikan-ikan yang hidup bebas di lautan?"
Liana menoleh dan mendapati Andra berdiri di sampingnya. Kembali, pandangan Liana tertuju pada kolam di depannya. Tidak menjawab pertanyaan Andra sama sekali.
"Aku tahu, bagaimana hancurnya hatimu saat ini. Mungkin, kata maaf tidak akan cukup untuk menyembuhkan lukamu. Tapi, beri aku satu kesempatan terakhir."
Liana tersenyum sinis. Ia mengalihkan tatapan pada Andra. "Kau ingin sebuah kesempatan?" tanya Liana.
Pria itu mengangguk pasti. Jantungnya berdebar keras, menanti ucapan Liana yang selanjutnya.
__ADS_1
"Satu bulan. Hanya satu bulan. Buat aku jatuh cinta padamu lagi. Tanpa bantuan siapa pun!"