
Andra mulai membuka matanya. Menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku. Saat menoleh, ia tak melihat keberadaan Liana di sana. Ia pun bangkit dan merapikan tempat tidur mereka. Setelahnya, ia mendekati toilet.
"Sayang," panggil Andra.
Pria itu mengetuk pintu beberapa kali. Tak mendapat sahutan, ia mencoba membukanya. Setelah itu, beralih keluar. Ia terkejut, saat melihat cahaya dari arah ruang tamu.
"Apa Liana keluar? Tapi, kenapa pintu depan terbuka?" gumam Andra.
Gegas Andra mendekati pintu depan. Tubuhnya terpaku, melihat Liana jatuh tersungkur di depan pintu. Beberapa detik kemudian, ia tersadar dan menghampiri sang istri.
Matanya semakin terbelalak, melihat noda darah yang berceceran. Liana bahkan sudah kehilangan kesadaran diri. Tak ingin membuang waktu, Andra segera mengangkat tubuh istrinya.
"Kamu harus kuat, Sayang. Kamu harus kuat," ucap Andra.
Pria itu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia bahkan tak peduli dengan lampu lalu lintas yang berubah merah. Beruntung, jalanan belum terlalu macet hari itu. Andra berhasil tiba di rumah sakit dalam kurun waktu sepuluh menit.
***
Duduk, berdiri, berjalan mondar-mandir, adalah hal yang Andra lakukan sejak Liana memasuki ruang operasi. Dokter mengatakan, bila Liana membutuhkan operasi, untuk melihat bagian dalam yang mungkin terkena tusukan. Belum lagi, benda yang menusuk Liana tidak diketahui bentuk dan ukurannya.
Tak lama, Silviana dan Hartawan tiba dengan wajah panik. Tak lama, Nino keluar dari ruang operasi. Ketiganya segera mendekati Nino.
"Bagaimana kondisinya, Nin?" tanya Andra khawatir.
"Itu tusukan pisau. Benda itu mengenai bagian usus halusnya. Kami harus memotong usus yang terkena luka tusukan tadi." Nino menjelaskan.
"Lalu, apa Liana baik-baik saja?" tanya Silviana.
"Kondisinya sudah mulai stabil. Sebentar lagi, kami akan pindahkan ke ruang rawat," jawab Nino.
"Syukurlah," ucap mereka bertiga bersamaan.
__ADS_1
Tak lama, Liana mulai dibawa ke ruang rawat. Andra, Silviana dan Hartawan mengiringinya. Liana masih berada dalam pengaruh obat bius. Mereka dengan setia menunggu di sana. Andra membenarkan posisi selimut Liana.
"Andra," panggil Hartawan.
"Iya, Pa," jawab Andra.
"Siapa yang melakukan ini?"
"Andra belum sempat mencari tahu. Tadi, aku terlalu panik dan belum mengecek cctv," jawab Andra jujur.
"Periksa sekarang! Papa tidak ingin orang itu lolos dengan mudah," titah Hartawan.
Pria itu terlihat sangat marah saat ini. Andra menganggukkan kepala. Ia segera pulang lebih dulu. Beruntung, saat tidur malam tadi, ia menggunakan kaus oblong dan celana panjang training.
***
Mobil Andra memasuki halaman rumah. Ia segera membersihkan noda darah yang berceceran di lantai tadi. Kemudian, pria itu memilih membersihkan diri. Satu jam kemudian, Andra sudah selesai menyiapkan barang bawaan milik Liana. Tak lupa, ia mengambil ponsel miliknya dan Liana.
"Siapa dia?" gumam Andra.
Berulangkali Andra memutar video itu. Namun, ia tak bisa mengenali wajah orang dalam video tersebut. Andra pun memilih melaporkannya ke pihak yang berwajib. Ia juga menyerahkan bukti video cctv di rumahnya.
"Apa istri, Anda, tidak memiliki musuh?" tanya petugas.
"Ada. Ibu tiri dari istri saya sendiri," jawab Andra.
Meski tak yakin, hanya wanita itu yang punya motif yang jelas untuk melakukan hal ini. Andra pun menjelaskan masalah di antara mereka. Pihak berwajib juga meminta foto orang yang dicurigai oleh Andra.
"Kami akan menyelidiki kasus ini lebih lanjut. Termasuk cctv di sekitar kejadian. Apa korban sudah bisa kami temui, untuk bertanya secara langsung?" tanya polisi.
"Saat saya tinggalkan tadi, dia belum sadar."
__ADS_1
"Kalau begitu, biar kami menemui korban lebih dulu," ucap polisi itu kemudian.
"Silakan."
Andra pun lebih dulu berpamitan. Sementara pihak polisi, akan mengikutinya dari belakang. Dalam perjalanan, Andra kembali memikirkan pelaku yang melakukan hal ini.
Tiba di sana, Liana baru saja sadarkan diri. Andra memeluk istrinya erat. Ia bisa sedikit bernapas lega, setelah melihat Liana membuka matanya. Meski wajah wanita itu masih terlihat pucat dan lemas.
Polisi yang mengikuti Andra pun mulai mengajukan beberapa pertanyaan padanya. Liana menceritakan kejadian yang menimpanya.
"Apa, Anda, tahu siapa yang melakukan hal ini?" tanya seorang petugas.
Liana tak menjawab. Entah apa yang ia pikirkan saat ini. Andra mendekati Liana dan menggenggam tangannya.
"Katakan saja. Kau tidak perlu takut," ujar Andra.
"Ibu tiriku," jawab Liana lirih.
***
sambil nunggu up selanjutnya, gak ada salahnya kamu mampir di karya iniππ
Sebuah kejadian yang membuat seorang Anaya Putri (23tahun) harus hamil tanpa seorang suami. Naya harus merelakan kehormatannya ketika insiden tidak disengaja yang ditimbulkan karena salah alamat dan menjadi cinta satu malam bersama dengan pria asing.
Naya hidup sebatang kara, dia harus melahirkan, membesarkan dan merawat anaknya. Saat sang anak sudah besar, ternyata dia memiliki sifat yang sangat genius dan berusaha menyatukan kedua orangtuanya.
Mampukah Anaya menjalani kehidupannya?
Akankah kebahagiaan menyapanya di akhir kisah nanti? Dan siapa pria yang sudah membuat Naya menjadi berbadan dua?
__ADS_1