Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
Nomor tak dikenal


__ADS_3

Sudah lebih dari tiga minggu Liana bersikap dingin pada Andra. Awalnya, Andra berpikir, mungkin Liana sedang kedatangan tamu bulanannya. Namun, nyatanya sang istri masih betah dalam mode itu.


Malam ini, Andra sengaja pulang sedikit larut. Saat tiba di rumah, ia melihat Liana belum tidur. Wanita itu menatap kosong layar datar di depannya. Ia bahkan tak menyadari kedatangan Andra.


Saat itu, Andra pun menyadari bahwa Liana tengah memikirkan sesuatu. Wajahnya terlihat begitu muram. Sekretaris Liana, beberapa kali menghubungi Andra, mengatakan bila Liana menemui para manager secara acak setiap hari. Semua itu, dilakukan selalu dalam waktu dadakan.


Andra menyentuh pundak sang istri lembut. Liana pun tersadar dari lamunannya. Ia menoleh ke belakang dan melihat Andra pulang. Liana pun bangkit berdiri dan mengunci pintu rumah.


"Kamu udah makan?" tanyanya tanpa menoleh.


"Sudah," jawab Andra.


Pria itu cukup heran dengan perubahan Liana. Meski terlihat dingin, Liana tetap memperhatikan kebutuhannya. Meski hanya sebatas perut, itu membuat Andra bernapas lega.


"Kalau begitu, aku duluan," pamit Liana.


Andra mengejar Liana dan memeluknya. Wanita itu tak menolak kontak fisik dengan sang suami. Andra yang merindukan Liana, merebahkan kepalanya di pundak sang istri.


"Sudah malam, istirahatlah!"


"Apa kau menungguku pulang?"


"Tidak," jawab Liana cepat. Ia segera melepas pelukan Andra.

__ADS_1


Senyum Andra mengembang. Cukup puas dengan perubahan Liana. Meski dia benar-benar tidak bisa menebak jalan pikiran Liana.


***


Liana tengah membaca dokumen yang harus ditanda tangani, saat Fika masuk menyerahkan sebuah undangan. Tatapan Liana berpindah pada kartu undangan berwarna salem di mejanya.


"Ini ... undangan tender dari grup Salim?" tanya Liana.


"Benar, Bu," jawab Fika.


"Terima kasih, Fik," ucap Liana.


"Sama-sama. Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit Fika.


Liana kembali fokus pada pekerjaannya. Sampai matahari terbenam, Liana melupakan undangan itu. Ia kembali pulang. Tubuhnya terasa amat lelah saat ini. Saat ia tiba, Andra pun baru saja tiba di sana.


Liana hanya tersenyum kecil. Mereka masuk bersama. Setengah jam kemudian, Liana lebih dulu tiba di ruang makan. Ia memasak makanan yang mudah untuk mereka. Tak lama, Andra bergabung di meja makan.


"Kamu dapat undangan dari grup Salim?" Andra memulai percakapan.


"Undangan apa?" tanya Liana.


"Lelang proyek yang ada akan dibangun di daerah X."

__ADS_1


Rasanya aku pernah mendengar tentang proyek dari grup Salim. Tapi, kapan? Aku lupa, gumamnya.


Melihat kerutan di dahi sang istri, Andra meyakini, bila Liana belum menerima undangan itu.


"Sudahlah. Jangan dipikirkan!"


Mereka melanjutkan makan malam. Andra pun memiliki ide, untuk mengajak Liana pergi bersama.


"Mau pergi bersama ke lelang itu?"


"Lihat nanti saja." Liana bangkit dan masuk ke dalam kamarnya.


Liana duduk bersandar pada kepala ranjang. Ia masih memikirkan tentang keberadaan Fia di perusahaannya. Beberapa kali ia sengaja melewati ruangan para manager. Namun, ia tidak melihat keberadaan Fia sama sekali.


"Sudahlah. Aku lelah mencari. Mungkin saja, dia tidak bekerja di sana." Liana menghela napas kasar.


Saat akan merebahkan diri, ponselnya berdering. Ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak di kenal. Ia mengirimkan sebuah gambar. Sebenarnya, Liana sangat tidak suka membuka pesan dari nomor tak dikenal.


Namun, ia tak sengaja memencetnya. Liana memicingkan mata, saat melihat foto Andra dan Fia yang sedang makan bersama di sana. Ada tanggal dan waktu yang tertera di sudut foto itu. Sepertinya, orang yang mengirimkan foto itu, mengaktifkan info waktu pada fitur kameranya.


"Siang ini," gumam Liana. "Siapa yang mengirim ini?" Liana menekan tombol panggil pada aplikasi itu.


Sayang, nomor itu tak lagi aktif. Liana menaruh ponselnya di atas nakas.

__ADS_1


"Benarkah? Apa Fia bekerja di tempat Andra? Jika iya, itu masuk akal. Karena itu aku tidak menemukannya di kantor. Apa benar mereka memiliki hubungan?"


Lagi, Liana tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia seakan tak ingin mengkonfirmasinya pada Andra, hingga seringkali berakhir pada kesalahpahaman antara mereka. Apakah kali ini Liana akan melakukan hal yang sama, ataukah sebaliknya?


__ADS_2