
Liana tersadar dari pingsannya. Entah sudah berapa lama ia tak sadarkan diri. Ia mulai melihat sekeliling. Otaknya sedang mencerna kejadian yang sempat terjadi sebelumnya.
"Fia!" gumamnya.
Tubuhnya tak bergerak, saat pintu ruangan itu terbuka. Mata Liana membelalak lebar melihat siapa orang yang masuk. Lagi, lagi, Liana merasa sulit bernapas. Terlebih, orang itu tersenyum miring pada Liana.
"Tadinya, aku tidak lagi berniat mencarimu. Tapi rupanya, kau sendiri yang mengantarkan diri padaku," ucapnya dengan wajah bahagia.
Pria itu pun berjalan mendekat. Membuat Liana memundurkan tubuhnya hingga ke ujung ranjang. Bagaimana Fia bisa berurusan dengan bajingan ini? batin Liana.
Tangan pria itu terulur, ingin menyentuh Liana. Melihat itu, Liana berteriak sekencang mungkin tanpa sadar. Pria itu terbahak melihat ketakutan di mata Liana.
"Jadi, kau masih takut padaku?" Pria itu pun menjentikkan jemarinya.
Tak lama, beberapa orang masuk. Ia memberikan perintah, untuk membawa Liana ke ruang rahasia.
"Bawa dia ke ruangan rahasia. Aku ingin tahu, apa hubungan dia dengan anak dari Maya!"
Pandangan Liana terangkat, mendengar nama yang pria itu sebutkan. Pikiran buruk mulai menari-nari indah di kepalanya. Liana terus mencoba untuk memberontak. Namun, ia kalah tenaga dengan mereka. Saat dibawa ke sana, ia melihat Fia terikat di atas ranjang.
__ADS_1
"Fia!" teriak Liana.
Fia yang memang sudah sadar, melihat keberadaan Liana. Fia berteriak tanpa suara. Air mata sudah membanjiri wajahnya. Kemudian, pintu kembali terbuka. Pria itu masuk dengan gaya yang santai.
"Jadi, apa hubungan kalian?" tanya pria itu.
"Bukan urusanmu!" pekik Liana.
Dia kembali terbahak melihat kemarahan di wajah kedua wanita itu. Ia pun maju mencengkeram wajah Liana. Membuat ia meringis kesakitan.
"Semakin kau terlihat garang, aku semakin ingin menaklukkan mu. Dulu, aku kehilangan dirimu. Tapi sekarang, tidak akan kubiarkan kau lolos!"
Ia menghempaskan wajah Liana dengan kasar. Pria itu beralih pada Fia. Menatap tubuh Fia dari kepala sampai ke ujung kaki. Tanpa sebab, terlihat jelas tubuh Fia menggigil ketakutan.
Liana membeku mendengar setiap kata yang terucap dari laki-laki paruh baya itu. Memuaskan? Apa dia seorang .... Liana tak mampu meneruskan pemikirannya.
"Apa dulu dia menjualku padamu?" tanya Liana.
Fia membelalakkan matanya. Ia mencoba mendengarkan pembicaraan mereka. Menjual? Mama menjual Liana pada laki-laki yang lebih pantas jadi ayahnya?
__ADS_1
"Kau benar. Saat itu, aku langsung tertarik padamu. Kau muda, cantik, dan terlihat menggiurkan. Membuatku ingin menerkammu. Belum lagi, saat kau terlihat melawan. Ah, aku semakin ingin memilikimu." Pria itu tertawa lebar.
Dasar gila! umpat Liana dalam hati.
"Sekarang pilih, kau atau dia yang akan membayar hutang Maya padaku?" tanyanya.
Bukan hanya Liana, Fia pun terkejut mendengar pertanyaan dari pria itu. Ia kembali mendekati Fia dan membuka penutup mulutnya.
"Hutang apa maksudmu?" tanya Fia, begitu ia bisa berbicara.
"Ah, kau tidak tahu bagaimana gaya hidup ibumu? Dua tahun lalu, dia meminjam uangku untuk berfoya-foya. Dan sekarang, hutangnya sudah berbunga-bunga. Apalagi, dia sudah ada di dalam penjara. Aku tidak yakin, dia bisa membayar uangku lagi," tuturnya.
"Aku saja," jawab Fia.
Liana terkejut mendengar ucapan Fia. "Tidak, Fia! Kau jangan mengambil keputusan dengan cepat! Andra sedang ada dalam perjalanan ke sini. Kita pasti selamat!"
"Selama ini, mama sudah bertindak jahat padamu. Aku bahkan tidak tahu, kalau dia sudah menjualmu. Dia juga sudah merebut harta keluargamu," ucap Fia dengan nada bergetar.
"Tapi semua itu tidak sebanding dengan apa yang akan kau lakukan!" tolak Liana.
__ADS_1
"Sudah cukup kalian berdebat. Karena kau sudah memutuskan, maka aku akan dengan senang hati membawamu menuju surga."
Liana terus berteriak, memanggil Fia. Namun, Fia hanya tersenyum pedih. Ia seakan tengah berkorban untuk menebus kesalahan ibunya pada Liana.