Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
Dokter obgyn?


__ADS_3

Sudah satu minggu ini Liana menjauhi Andra. Indera penciumannya terasa sangat peka dengan wewangian. Entah sudah berapa kali, dalam sehari Andra mengganti merek sabun mandinya. Tidak hanya itu, parfum, shampoo, sampai pewangi ruangan pun tak luput.


Namun, Liana lebih suka mematikan AC dan membuang semua produk pengharum ruangan. Ia membuka jendela kamar lebar-lebar. Membiarkan angin yang diciptakan alam masuk, tetapi tidak membiarkan Andra menyentuh dirinya.


Tak hanya di dalam kamar, mobil, dan ruang kantornya pun sama. Semua produk pengharum ruangan, ia singkirkan. Ia bahkan merenovasi ruangannya, agar kaca jendela bisa terbuka lebar. Begitu pun dengan ruang rapat.


Silviana yang melihat kelakuan aneh sang menantu pun tersenyum lebar. Ia sangat paham, apa yang kini tengah dialami Liana. Seperti pagi ini, Liana memilih pergi lebih dulu. Ia tidak ingin berada di dekat Andra. Hal ini membuat Andra semakin frustasi.


"Kenapa wajahmu murung begitu?" ejek Silviana.


"Mama, prihatin sedikit dong sama aku," rungut Andra. Bibir pria itu dimanyunkan, layaknya bocah kecil yang tidak dituruti keinginannya.


Melihat tingkah putra semata wayangnya, Silviana tertawa keras. Andra semakin memberengut kesal melihat ekspresi mamanya. Tidak tahukah dia, bahwa Andra sedang sangat sensitif?


"Ini masih di awal, Sayang. Masih ada beberapa bulan ke depan. Bisa jadi, istrimu akan semakin menjauh, atau semakin lengket," ujar Silviana setelah meredakan tawanya.


Hartawan yang sejak tadi pura-pura tak peduli dengan pembicaraan anak dan istrinya pun, kini tertarik. Ia bisa menangkap maksud pembicaraan mereka. Namun, Andra tidak mengerti. Pria itu justru semakin memberengut kesal.

__ADS_1


"Wah, gak nyangka. Sebentar lagi, ya, Ma?" Hartawan memperjelas.


Silviana menganggukkan kepala. Ia yakin, suaminya sudah menangkap maksud pembicaraan mereka. Andra menatap lesu kedua orang tuanya. Ia merasa, semakin frustasi.


"Sudahlah. Aku berangkat dulu," pamit Andra. Baru beberapa langkah ia berjalan, Silviana kembali memanggilnya. Terpaksa, Andra menoleh.


"Andra!" panggil Silviana, "buat janji dengan Dokter obgyn. Bawa Liana ke sana!" titah Silviana.


Andra hanya menjawab dengan dehaman. Ia segera meninggalkan rumah. Melihat ekspresi yang Andra tunjukkan, Silviana kembali tertawa. Hartawan sendiri, hanya menggelengkan kepala dengan senyum.


Andra tiba di kantor. Ia menyandarkan punggung dan memijit pelipisnya yang terasa sakit. Setelah beberapa menit, pria itu kembali menegakkan tubuh dan melakukan perintah mamanya.


"Hahh, untuk apa juga mama menyuruhku membuat janji dengan Dokter bagian obgyn," gumam Andra.


Andra kemudian menghubungi Liana melalui pesan singkat. Mengatakan pada sang istri, bila sore nanti mereka memiliki janji dengan Dokter. Tak ada jawaban, Andra pun melanjutkan pekerjaannya.


Entah sudah berapa kali Andra mengecek ponselnya. Melihat pesan yang mungkin Liana kirimkan. Namun, hingga sore menjelang, sang istri tak jua membalas pesannya. Lelah menunggu, ia pun meluncur ke perusahaan Liana.

__ADS_1


"Apa sebegitu sibuknya, sampai tak bisa membalas pesanku?" tanya Andra begitu memasuki ruangan sang istri.


liana mengangkat pandangannya. Menatap jengah pada sang suami. Menghela napas dalam, kemudian bersedekap.


"Aku sangat sibuk!" Liana kembali fokus pada berkas di tangannya. "Ada apa kau kemari?" tanyanya acuh.


Andra membuang napas kasar. "Kita harus ke Dokter sekarang. Aku sudah membuat janji tadi pagi," ucapnya lemah. Ia duduk di kursi depan meja Liana.


Mendengar kata Dokter, Liana menatap Andra bingung. Dahinya berkerut dalam, seakan tengah memikirkan sesuatu.


"Ngapain ke Dokter?" tanya Liana.


"Mama yang suruh. Katanya, aku harus membawamu ke Dokter obgyn," jawab Andra pelan.


Pena di tangan Liana terjatuh ke atas meja. Matanya membelalak lebar. Apa itu mungkin?


__ADS_1


__ADS_2