Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
Akar masalah


__ADS_3

Mendengar ucapan Liana, Fia tertawa terbahak. Andra mengangkat kedua alisnya heran. Pria itu juga menatap Liana, seakan bertanya alasan Fia tertawa. Sayangnya, Liana tak menanggapi Andra. Ia pun duduk di hadapan Fia. Menyilangkan kakinya, lalu menatapnya malas.


"Kenapa? Kau merasa aku yang lebih pantas mendapat karma, begitu? Ah, aku lupa. Karma sudah mulai menjemput kalian," ucap Liana pelan.


Fia mulai mengumpat keras pada Liana. Wajahnya memerah dan menatap marah pada istri dari Andra. Tak hanya itu, mata Fia pun membelalak.


"Kaulah penyebabnya!" desis Fia.


"Benarkah? Aku hanya mengambil apa yang menjadi milikku. Saat itu, kaubahkan lari dari hadapanku dengan bantuan Andra." Liana melirik sang suami dengan sudut matanya.


Andra terlihat gelagapan. Ia tidak tahu harus menyanggah seperti apa. Nyatanya, ia memang melindungi Fia saat itu.


"Aku tidak pernah meminta bantuannya. Dia takut, kau akan mengamuk dan membunuhku saat itu." Fia menjawab dengan nada mengejek pada Liana.

__ADS_1


Sedikitpun, Liana tidak terprovokasi. Wanita itu justru tersenyum remeh padanya. Sementara Andra mengerutkan dahi mendengar ucapan Fia.


"Tunggu!"


Suara itu membuat Liana dan Fia mengalihkan pandangan pada Andra. Pria itu berjalan mendekati Liana dan Fia. Terlihat, ia menarik napas dalam sebelum melanjutkan ucapannya.


"Kau salah! Aku bukan melindungimu, tapi Liana!" seru Andra.


Kedua alis Liana mengerut dalam. Sementara Fia, menatap tajam pada Andra. Mereka tidak menginterupsi sama sekali.


"Aku berbahaya?" Fia terbahak mendengar ucapan pria yang sudah menguasai hatinya.


Mereka terdiam menatap Fia yang masih terbahak. Dia seperti sedang tidak waras, gumam Andra.

__ADS_1


"Jadi ... kalian sudah mengetahuinya?" Fia menatap pasangan Liana dan Andra. Ia menghela napas sesaat, kemudian, "Apa kehilangan rahim, menjadi salah satu karma untukku?"


Liana sedikit terkejut mendengar pengakuan Fia. Pupil matanya membesar, meski sesaat. Begitupun dengan Andra. Sedikit rasa simpati muncul dalam hati Andra.


"Kalian tahu, sejak kecil aku selalu mendapatkan semua yang aku mau. Tapi, saat SMA, mamaku ingin menjualku pada seorang tua bangka. Karena aku tidak mau, aku menyarankan agar mama menjebak dirimu. Rencana kami berhasil, sampai akhirnya kau meloloskan diri!" Tatapan Fia berubah tajam pada Liana.


"Kenapa kau seperti memiliki dendam pribadi padaku?" tanya Liana. Ia merasa tak pernah menyinggung perasaan Dia sedikitpun. Namun, Fia terlihat sangat membencinya.


"Ternyata kau tidak ingat dengan kejadian sebelum kita berteman? Kita pernah bertemu disebuah taman. Saat itu, aku sedang bicara dengan seorang pria. Saat kau datang dan menjual kue pada kami, kau sudah merebut perhatian pria itu dariku." Fia mulai menceritakan kejadian yang membuatnya menaruh benci pada Liana.


Ingatan Liana mulai berkelana ke masa putih abu-abu, sebelum dirinya dan Fia menjalin persahabatan. Saat itu, Liana memang membantu sang ibu menjual jajan pasar, yang dibuatnya sendiri. Ia berjualan dengan berkeliling dari satu tempat ke tempat lain.


Kemudian, ada seorang pria yang sedang duduk berduaan dengan seorang gadis cantik di sebuah taman. Pria itu memborong semua jajanan yang ia jajakan. Namun, Liana tak mengingat bila gadis itu adalah Fia.

__ADS_1


"Ah, jadi itu kau? Sayangnya, aku hanya menjajakan kue. Sedikitpun, tidak berniat menarik perhatian dia," jawab Liana.


"Tapi dia memperhatikanmu sampai kau menghilang dari pandangan! Bahkan, dia mengacuhkanku!"


__ADS_2