Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
The truth


__ADS_3

Fia menatap nanar pada Liana. Merasa pandangan serta pendengarannya salah. Ia memejamkan mata sesaat, kemudian kembali membuka matanya. Ternyata, raut wajah Liana tidak berubah. Wanita itu, tetap menatapnya dengan seringaian.


"Kau ... sedang bercanda, 'kan?" tanya Fia dengan terbata. Air matanya jatuh berderai.


Saat itu, Liana melihat sedikit celah. Ia pun melepaskan peluru ke arah pria paruh baya itu. Tembakannya tepat mengenai bahu si pria. Membuat Fia terlepas dari sekapannya. Namun, gadis itu masih membeku ditempatnya.


Lagi, Liana melepaskan tembakan ke arah lengan pria paruh baya itu. Lagi, lagi, tepat sasaran. Sementara itu, Andra yang sudah masuk ke dalam bangunan itu, terkejut mendengar suara letusan dari senjata api. Ia pun segera ke arah sumber suara. Pikiran buruk kembali menari indah di kepalanya.


Saat tiba di sana, ia terkejut melihat Liana menarik Fia yang terlihat diam. Ia segera mendekati mereka, dan meminta anak buahnya untuk menahan mereka.


"Urus mereka!" titah Andra.


Mereka melakukan perintah Andra. Pria itu menghampiri Liana. Menatap sang istri dari atas sampai ke bawah.


"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Liana dengan wajah datar.

__ADS_1


"Tidak ada. Aku hanya terkejut, melihatmu mahir menggunakan pistol," jawab Andra jujur.


Liana memilih untuk tidak menjawab pertanyaan itu. Ia membawa Fia keluar dari sana. Sementara Andra, mengikuti mereka dari belakang. Begitu ketiganya keluar, Fia mendorong Liana hingga terjungkal. Beruntung, Andra segera menangkapnya.


"Tidak usah sok baik, apalagi sok peduli padaku!" ucap Fia penuh penekanan.


Gadis itu berjalan menjauhi Liana dan Andra. Mendengar kata-kata yang tidak menyenangkan, Liana pun memanggil Fia. Sementara Andra, hanya bisa menyimak tanpa ikut campur. Ia tidak tahu apa yang terjadi di antara mereka.


"Kau pikir aku peduli padamu? Tidak akan pernah. Aku menyelamatkanmu, hanya untuk membalas perbuatanmu," teriak Liana.


Fia berbalik menatap Liana dengan mengernyitkan dahinya. "Perbuatanku? Yang mana?" tanyanya.


Tak ada sahutan dari Fia. Liana menganggap ia menyetujui ucapannya. Andra yang mendengar pembicaraan mereka, terdiam membeku.


"Bunga mawar merah, tas branded, pakaian mahal, makan malam romantis dengan iringan lagu, hadiah-hadiah lainnya yang bermerk. Kau membuatku yakin, bahwa kau berharap Andra memberikan semua itu padamu!" geram Liana dengan nada rendah.

__ADS_1


"Apa? Jadi semua itu bukan kesukaanmu?" tanya Andra.


Pria itu pun menyadari, keributan yang terjadi selama dua tahun ini, karena Liana tidak menyukai pemberiannya. Tangan Andra terkepal erat.


"Kau benar! Aku sudah berusaha melupakan dirinya. Tapi, kenyataannya tidak bisa. Apa aku salah?" teriak Fia.


"Seharusnya, kau bujuk Andra menceraikanku, bukan dengan cara seperti itu!"


Sebelah tangan Fia menampar Liana kuat. Membuat sudut bibir sahabatnya pecah. Salah, mungkin lebih tepat disebut dengan mantan sahabatnya. Liana menatap tajam Fia.


"Tanyakan padanya, seberapa sering aku memintanya menceraikanmu. Yang ada, di a sangat marah. Berapa kali aku sengaja mendekatinya, berharap dia bisa melupakan wanita dingin sepertimu. Berapa kali aku sengaja memberinya solusi, yang sudah pasti aku tahu kau tidak suka. Tapi dia seakan tak mengerti tujuanku melakukan semua itu!" pekik Fia dengan frustasi.


"Hentikan ucapanmu! Atau akan kubuat kau bungkam selamanya!" desis Andra.


Liana menganggukkan kepala mengerti. "Nyatanya, kau tak sehebat yang kukira," ejek Liana.

__ADS_1


Fia menerjang Liana dan merebut senjata api dari tangan wanita itu. Akan tetapi, Liana mempertahankannya. Terjadi perbuatan senjata yang cukup sengit di antara mereka. Andra pun maju, untuk memisahkan mereka. Namun, pelatuk senjata itu terlepas. Satu tembakan meluncur tepat mengenai perut salah satu dari mereka.



__ADS_2