
Satu minggu sudah Liana berada di kota itu. Beberapa tempat sudah ia datangi, untuk melamar pekerjaan. Sayangnya, tidak satu pun yang membuka lowongan. Lelah berjalan ke sana kemari, Liana mampir ke sebuah cafe. Sekedar untuk meminum segelas kopi panas kesukaannya.
Pikirannya teralih pada ponsel baru di tangan. Ia pun mencoba mencari pekerjaan melalui internet. Sayangnya, kebanyakan posisi yang di cari, berbeda dengan keahlian atau bidang yang pernah ia jalani.
Liana mendesah lelah. Ia menutup ponselnya dan kembali mencari pekerjaan. Belum sempat ia keluar, gadis pemilik butik yang pernah ia kunjungi masuk.
"Hai! Aku nungguin kamu, loh. Kamu jadi kerja di tempatku, 'kan?" tanyanya.
"Maaf, ya. Besok, aku udah mulai kerja di tempat lain," bohong Liana.
Bukan maksud Liana berbohong. Hanya saja, ia tidak bisa menerima pekerjaan yang gadis itu berikan. Apalagi, mereka baru saja saling mengenal. Ia tak ingin, ada hak istimewa, yang nantinya akan membuat lingkungan kerja tak sehat.
"Ah, sayang sekali," desahnya kecewa.
Terlihat sekali kekecewaan di wajah gadis itu. Namun, Liana tak ingin memberi celah.
"Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit Liana.
Ia berjalan melewati gadis itu. Namun, gadis itu menghentikan langkah Liana. Membuat Liana menoleh padanya.
"Kalau kau butuh sesuatu, datanglah ke butik. Aku pasti akan menolongmu," ucapnya.
Jika kebanyakan orang merasa senang mendengar ucapan itu, tetapi tidak dengan Liana. Dia justru menatap tidak suka pada gadis itu.
"Maaf. Saya rasa itu tidak perlu." Liana berbalik meninggalkan cafe.
Hatinya merasa kesal karena kata-kata gadis tadi. Ia merasa seperti dikasihani, mendengar ucapannya. Siapa dia? Tatapannya seakan menaruh iba padaku. Padahal, aku tidak kenal dia. Aku harus menjauh dari dia! putus Liana dalam hati.
Sementara gadis itu, hanya menatap kepergiaan Liana. "Ternyata Nino benar. Dia tidak suka dikasihani."
Nisya, gadis itu, mengambil ponsel dari dalam tasnya. Mengambil fotonya diam-diam, kemudian mengirimkan berita pada Nino. Saat pertama kali bertemu Liana, ia sudah mengetahui gadis itu dari adiknya Nino. Cerita tentang Andra yang memiliki kekasih, langsung tersebar di kalangan keluarga. Nino yang mengirimkan foto kebersamaan Liana dan Andra di grup keluarga mereka. Karena itu, Nisya mengenal wajah Liana.
Sayang, hubungan mereka kandas dalam beberapa bulan saja. Anggota keluarga yang lain, menyayangkan hal itu.
***
Di kota asal Liana, Andra menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Ia tidak tahu lagi harus mencari Liana kemana. Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Dengan malas, ia membuka pesan yang datang dari Nino.
Kening Andra berkerut, melihat foto Liana. Tanpa membuang waktu, ia segera menghubungi Nino. Berbagai pertanyaan meluncur dari bibir Andra. Nino pun menjawab semua pertanyaan Andra.
"Jadi, kau ada di sana?" gumam Andra setelah memutus panggilan. Senyum di bibir pria itu terbit.
Andra segera bergegas menuju tempat Liana tinggal sekarang. Tanpa membuang waktu, Andra segera memesan tiket pesawat ke sana. Setelah mendapatkannya, ia langsung menuju bandara.
Perjalanan selama hampir dua jam di udara, tak membuat Andra merasa lelah. Ia segera menuju butik milik tantenya. Tiba di sana, semua karyawan menatap kagum pada pria itu. Wajahnya yang rupawan, menarik perhatian mereka.
"Di mana Liana?" tanya Andra begitu memasuki ruangan yang ditempati sepupunya, Nisya.
Nisya terkekeh melihat Andra datang secepat kilat, saat mengetahui keberadaan gadis yang disukainya itu.
"Sepertinya, gadis itu jauh lebih penting dibanding kakak sepupumu ini, ya?"
Andra menghela napas lelah. Ia mendudukkan diri di sofa ruangan itu. Nisya pun mengikutinya.
__ADS_1
"Dia belahan jiwaku," ucap Andra.
Nisya tertawa mendengar penuturan Andra. "Kayaknya, dia benar-benar spesial. Sampai kau sudah menganggapnya sebagai belahan jiwa. Apa tante dan om tahu kau kemari?"
"Tidak. Aku langsung ke sini, saat Nino menunjukkan foto Liana."
"Sayangnya, dia menolak pekerjaan yang kuberikan."
Nisya pun menceritakan kronologi sejak Liana datang sampai saat mereka kembali bertemu tadi. Andra menatap sengit pada Nisya.
"Apa? Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Nisya kesal.
"Kau terlalu bodoh!" umpat
Mata Nisya melotot tajam mendengar umpatan adik sepupunya itu. "Kau ...."
"Mana ada orang yang mau menerima pekerjaan tanpa melaksanakan prosedur pelamar kerja? Jelas saja dia menaruh curiga padamu!" lanjut Andra.
"Kau tidak perlu menghinaku begitu! Bagaimana pun, aku ini kakak sepupumu, ya!"
"Terserah!" Andra bangkit dan meninggalkan ruangan Nisya.
"Dasar tidak berakhlak!" umpat Nisya.
"Pinjam mobil!" Andra kembali masuk ke ruangan kakaknya dan mengulurkan tangan.
"Tidak. Pergi sana!" usir Nisya.
"Oke!"
***
Andra pun menaiki taksi dari depan butik. Ia menyebutkan alamat yang ditujunya. Taksi pun mulai melaju meninggalkan butik. Dalam perjalanan, Andra hanya menatap jalan di sekitarnya.
Taksi berhenti di depan sebuah rumah. Andra segera membayar ongkos dan masuk ke dalam.
"Andra!" panggil serang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik.
Andra tersenyum dan menghampiri tantenya. Mencium punggung tangan beliau dan duduk di sampingnya.
"Kapan kamu sampai, Sayang? Kok mamamu tidak menghubungi tante?" tanya wanita paruh baya tersebut.
"Andra gak bilang mama, kalau mau ke sini, Tan. Spontan aja, tadi," jawabnya.
"Ya, ampun. Ya sudah, sana istirahat. Pasti capek," ucap tantenya.
"Iya, Tan. Aku ke atas dulu," pamit Andra.
Baru saja ia memasuki kamar, ponselnya berbunyi. Terlihat panggilan video dari mamanya tercinta.
"Hai, Ma," sapa Andra saat panggilan tersambung.
"Andra, kamu di rumah Tante Sisil?" tanya ibunya.
__ADS_1
"Iya, Ma," jawab Andra.
"Kamu sudah bertemu Liana?"
"Mama, tahu dari mana Liana di sini?"
"Nisya sudah cerita sama mama Minggu lalu. Mama belum punya waktu untuk ke sana."
"Ma," panggil Andra.
"Kenapa, Sayang?"
"Gimana caranya, Andra bisa meluluhkan hati Liana?"
"Tetaplah bersikap hangat. Dia pasti punya alasan sendiri, kenapa bisa bersikap dingin."
"Andra selalu bersikap hangat, tapi dia seakan selalu menolak Andra." Terdengar helaan napas Andra.
"Sabar, Sayang. Liana itu sebenarnya gadis yang rapuh. Hanya saja, dia menutupinya dengan sikap dingin. Perlahan, kamu pasti bisa meluluhkan dia."
"Iya, Ma."
Panggilan pun berakhir. Andra menghela napas dalam. Meletakkan ponsel di atas nakas. Rasa lelah, membuat Andra tertidur tanpa ia sadari. Ia baru bangun, saat suara ketukan di pintu terdengar.
Andra bangun dan membuka pintu. Terlihat Nisya di depan pintu. Ia mengatakan, bahwa makan malam sudah siap.
"Iya, Kak. Aku mandi dulu," jawab Andra.
"Oke!" Nisya berbalik meninggalkan kamar Andra.
***
Sebelum pulang, Liana mampir ke warung makan sebentar. Ia ingin mengisi perutnya lebih dulu. Gadis itu memilih nasi goreng, sebagai menu makan malamnya kali ini. Setelah menyantapnya, Liana kembali ke kosannya.
"Kamu baru, ya?"
Pertanyaan itu membuat Liana menoleh. Di sana, ada seorang gadis yang menyapa. Liana tersenyum sopan padanya. Gadis itu, sepertinya baru pulang sepertinya.
"Oh iya, kenalin, aku Gina. Nama kamu siapa?" Gadis itu mengulurkan tangan memperkenalkan dirinya.
"Liana." Liana menyambut uluran tangannya.
"Kerja di mana?" tanya Gina basa-basi.
"Lagi nyari, Kak," jawab Liana.
"Oo. Kamu lulusan apa? Di tempatku lagi butuh karyawan soalnya. Siapa tahu cocok," jelas Gina lebih dulu.
"Hanya D3 ilmu komunikasi, Kak," jawab Liana lirih.
"Coba kamu datang ke kantorku aja. Tapi, aku gak bisa jamin kamu masuk, ya. Mereka butuhnya S1," jawabnya tak enak hati.
"Iya, kak. Terima kasih informasinya."
__ADS_1
"Sama-sama. Aku masuk dulu, ya," pamit Gina.
Liana tersenyum pada teman satu kosnya. Mungkin, tempat itu akan menjadi pilihan terakhir nanti. Karena mereka mencari lulusan S1.