Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
Cauvade syndrome


__ADS_3

Liana menghapus air matanya. Ia segera melangkah ke ruang pemeriksaan kembali. Dengan tangan gemetar, ia mengulurkan benda pipih itu. Lagi, bulir bening kembali menetes dari sudut matanya. Dokter itu tersenyum pada Liana.


Pemeriksaan pun berlanjut. Liana diminta untuk berbaring di atas brankar. Andra mengikuti dari belakang. Perawat membuka sedikit pakaian Liana, lalu menaruh sedikit gel di atas perutnya. Dokter mulai menggerakkan transducer.


"Ini kantung kehamilannya, ya, Bu," tunjuk Dokter dengan alat USG "yang seperti kacang merah ini, janinnya." Dokter tersenyum menjelaskan.


Mereka terdiam sesaat. Dokter mengerutkan dahi melihat layar monitor tersebut. Ia menggerakkan transducer kembali, lalu tersenyum senang.


"Wah, ternyata janinnya kembar. Ada dua di sini. Bisa dilihat, 'kan?" tanya Dokter.


Mata Liana dan Andra berbinar mendengar penuturan Dokter. Mereka tak menyangka, akan segera dikarunia dua orang anak sekaligus.


"Kembar, Dok?" ulang Liana.


"Iya," jawab Dokter. "Usia kehamilan, sudah memasuki 10 minggu. Karena ini kembar, tolong asupan gizinya diperhatikan, ya."


Perawat menghapus sisa gel dari perut Liana. Kemudian, Andra membantu Liana turun dari atas brankar. Mereka kembali berbincang dengan Dokter.

__ADS_1


Dokter memberikan banyak arahan tentang kehamilan. Tak lupa, Dokter juga meresepkan vitamin untuk Liana.


"Dok, apa normal, jika saya tidak mengalami morning sickness?" tanya Liana. Tak bisa ia pungkiri, ada sedikit rasa takut, jika janinnya bermasalah. Belakangan, Liana hanya merasa sedikit pusing dan mual. Namun, tidak sampai muntah-muntah, layaknya ibu hamil.


"Sebagian ibu, memang tidak mengalami morning sickness. Ada yang penciumannya lebih peka, perubahan perilaku, perubahan napsu makan, ada bermacam-macam. Selama calon ibu memenuhi gizi si kecil sejak dini, tidak akan ada masalah pada janin."


Mendengar penjelasan Dokter, Liana menghela napas lega. Namun, saat Dokter itu mengalihkan pandangan pada Andra, ia tertawa. Pria itu berubah salah tingkah, melihat Dokter menertawainya.


"Sepertinya, hal itu berpindah pada calon ayah," tunjuk Dokter ke arah Andra.


"Ada. Itu dinamakan dengan cauvade syndrome atau kehamilan simpatik. Wah, sepertinya, calon ayah sangat mencintai calon ibu, ya. Sampai-sampai, rela merasakan gejala kehamilan yang seharusnya calon ibu alami."


"Memang kamu mual muntah?" tanya Liana dengan berbisik.


Andra mencoba mengingat, sejak kapan ia mengalami sindrom yang disebutkan Dokter tadi.


"Gak, sih. Tapi, aku merasa cepat lelah, emosi, dan lemas." Andra menyebutkan apa yang dia alami.

__ADS_1


"Nah, itu gejala couvade syndrome," sela Dokter.


"Lalu, bagaimana cara mengatasinya, Dok?" Kali ini, Andra yang bertanya.


"Sama dengan ibu hamil. Menjaga asupan gizi dan tetap relaks. Tapi, harap diperhatikan dengan baik. Karena, tidak sedikit dari ayah yang mengalami kehamilan simpatik, berakhir dengan depresi. Jika emosi, Pak Andra, dirasa semakin tidak stabil, saya sarankan untuk menemui psikiater. Dari sekarang pun, tidak masalah."


"Apa gejalanya, tidak bisa sembuh, Dok?" tanya Andra lagi.


"Seharusnya, akan hilang sendiri, setelah melewati trimester awal, lalu kembali pada trimester akhir, dan menghilang setelah bayi lahir," jelas Dokter.


Liana menatap sendu suaminya. Sementara Dokter, kembali menjelaskan, bahwa Andra bisa mengatasinya depresi yang mungkin terjadi, dengan berkonsultasi pada ahlinya. Namun, menghilangkan sindrom, tidak akan bisa.


Setelah mendengar penjelasan Dokter, Liana dan Andra pun berpamitan. Saat keluar, mereka tak menyadari, bila Fia melihat mereka. Gadis itu menatap nama poli yang tertera di sana.


"Brengsek! Kau sudah merenggut segalanya. Permainan kita belum berakhir Liana. Tunggu saja!" gumam Fia


__ADS_1


__ADS_2