
Setelah keluar dari kamar, Andra duduk di ruang tamu. Menengadahkan kepalanya. Rasa bersalah kembali menyergap dirinya. Bunyi ponsel, mengalihkan perhatian Andra. Itu bukan suara ponselnya. Saat melihat tas yang ia ketahui milik Liana, Andra pun sadar ponsel siapa yang berbunyi.
Ia membuka tas itu, dan mendapati ponsel Liana di sana. Sebuah amplop coklat menarik perhatiannya. Ia membuka amplop itu dan mendapati foto senonoh dirinya bersama Fia.
"Aku tidak pernah melakukan ini dengan Fia. Dari mana foto ini datang? Sial! Jadi, ada orang yang ingin merusak rumah tanggaku?" Andra meremas foto-foto itu.
Pandangannya beralih pada ponsel Liana. Ia mulai mengecek isi ponsel sang istri. Beruntung, Liana tak pernah membersihkan ponselnya. Satu persatu pesan dan aplikasi itu ia periksa. Begitu pun nomor Dilan.
"Jadi, mereka murni hanya berteman. Tapi, kenapa Liana terlihat nyaman, berbicara dengannya? Sementara padaku, dia selalu menjaga jarak. Mereka bahkan berpelukan," gumam Andra.
Kembali tangannya menscroll ponsel sang istri. Ada nomor yang tidak tercatat dalam ponsel sang istri. Matanya terkejut melihat beberapa foto yang pernah Liana tunjukkan. Ia segera menghubungi nomor tersebut menggunakan ponsel Liana.
Sayang, nomor itu seperti sudah memblokirnya. Andra pun meraih ponsel miliknya. Menghubungi nomor itu. Tersambung. Tak lama, suara seorang wanita terdengar. Andra segera merekam pembicaraan mereka.
"Siapa kau?" tanyanya.
Baru saja Andra selesai bicara, panggilan itu terputus. Dahi Andra berkerut dalam mendapat reaksi dari wanita itu. Suara ini tidak asing. Tapi, siapa dia? tanyanya dalam hati.
"Dilan," gumamnya seraya menggulir pesan itu kembali.
Setelah menemukan nama itu, Andra menyalin dan menyimpan nomor ponselnya. Kemudian, mengirim pesan pada rivalnya—menurut Andra—itu. Setelah itu, ia beranjak pergi.
***
__ADS_1
Andra tiba di sebuah cafe. Ia segera duduk di tempat terdekat dari pintu masuk. Tak lama, seseorang duduk di hadapannya. Ia menggunakan topi dan masker medis di wajahnya.
"Kau ... Dilan?" tanya Andra.
"Ya." Dilan hanya menjawab singkat, "ada apa kau mencariku?" tanyanya.
"Kenapa kau menggunakan masker?"
"Dasar tidak tahu diri! Memangnya siapa yang membuat wajahku lebam?"
"Itu karena kau memeluk istriku!" balas Andra.
"Istri? Apa kau memahaminya dengan baik?"
Pria itu seakan tak membuang waktu untuk menghujani Dilan dengan berbagai pertanyaan. Dilan tak segera bereaksi. Ia hanya menatap suami dari sahabatnya datar.
"Ternyata, kau benar-benar tidak mengenal Liana."
Andra tertegun. Ia akui, selama ini ia sibuk menggapai cinta Liana, tanpa pernah ingin mengenal sang istri dengan baik. Apa pun yang ingin dia ketahui, selalu bertanya pada Fia. Sesekali, ia mencocokkannya pada Bianca. Terkadang, Andra harus mengajak Fia keluar, untuk mencari sesuatu yang Liana sukai. Atau, sekedar menanyakan langsung pada Fia.
Dilan mencondongkan tubuhnya pada Andra. "Liana, tidak mudah ditebak. Tapi, kalau kau sudah mengenal karakternya yang asli, akan sangat mudah mengerti dia."
Dilan kembali menegakkan tubuhnya. Menatap Andra yang tak berkutik. "Apa yang dia ucapkan, seringkali tidak selaras dengan hatinya."
__ADS_1
Andra hanya menyimak setiap ucapan pria di depannya. Ia sadar, sudah salah melangkah.
"Kau ingin tahu sejak kapan kami saling mengenal?" tanya Dilan.
Seorang pelayan menghampiri meja mereka. Dilan memesan americano, sementara Andra memesan latte. Setelah mencatat pesanan mereka, Dilan kembali menatap Andra.
"Sejak usia kami lima tahun. Tante Diana dan Liana pindah, ketika kami memasuki jenjang pendidikan SMP," lanjut Dilan.
Pelayan kembali menyela pembicaraan mereka, dengan mengantarkan pesanan Andra dan Dilan. Ternyata mereka sudah mengenal dalam waktu yang lama. Jauh, lebih lama dariku, ucapnya dalam hati.
Setelah menyesap kopi pesanannya, Dilan melanjutkan ucapannya. "Terakhir, Kau tanya kenapa dia lebih nyaman bersamaku, dibanding dirimu?"
Dilan menatap ekspresi yang Andra perlihatkan. Sangat terlihat, bila ia ingin mengetahui jawaban itu.
"Karena kami saling mengenal, sebelum pernikahan orang tuanya berantakan. Setelah keluarganya hancur, aku saru-satunya pria yang dia percaya. Tidak mudah membuatnya mempercayaimu. Apalagi, jika kau berselingkuh darinya. Sayangnya, kau melakukan itu."
Dahi Andra mengerut mendengar ucapan terakhir Dilan. Ia merasa Dilan sedang menuduhnya berselingkuh.
"Kau menuduhku berselingkuh?" tanya Andra.
Dilan tertawa mendengar pertanyaan Andra. Melihat tawa Dilan, Andra membuang pandangannya. Entah apa yang lucu dari pertanyaannya tadi.
"Apa hubunganmu dengan Fia?" tanya Dilan. Pria itu sudah mengubah ekspresi wajahnya menjadi serius.
__ADS_1