
Andra tersenyum manis. Tangannya terulur mengusap rambut sang istri. Kembali menariknya untuk bersandar di dada. Liana menikmati usapan lembut yang Andra berikan.
"Lakukan sesuai dengan yang hatimu katakan. Aku akan selalu mendukungmu," ucap Andra.
Liana terdiam memikirkan ucapan suaminya. Lambat laun, kantuk mulai menyerangnya. Andra tersenyum melihat wanita yang dicintainya bersandar nyaman dalam pelukan.
Perlahan, Andra merebahkan tubuh Liana dan menaikkan selimut hingga ke dada. Mengecup kening Liana lembut. Ia pun menghubungi seseorang melalui ponselnya.
"Selidiki Sandi, ayah dari istriku. Mulai dari masa lalu mereka. Selengkap-lengkapnya!" titah Andra.
Kemudian, ia memutus panggilan tersebut. Matanya pun kembali menatap sang istri yang sudah terlelap. Seharusnya, aku sudah mencaritahu semua tentangmu dan keluargamu sejak awal. Maaf, karena aku terlambat, batin Andra.
Andra kembali fokus pada pekerjaannya. Membiarkan Liana terlelap dari tidurnya. Ia memeriksa beberapa file pekerjaan yang sudah diantarkan asistennya pagi tadi. Andra menghentikan pekerjaan, saat Nino masuk ke ruang rawat Liana.
"Bro," panggil Nino pelan.
__ADS_1
Andra mengangkat pandangannya. Sepupunya itu segera membisikkan sesuatu di telinga Andra. Kemudian, mereka keluar bersama. Bersamaan dengan itu, Liana sudah membuka matanya. Ia melihat Andra dan Nino keluar dengan tergesa.
"Kenapa mereka keluar dengan buru-buru?" tanyanya lirih.
Perlahan, Liana turun dari ranjang. Mengabaikan rasa nyeri pada lukanya. Ia berjalan perlahan menuju pintu keluar. Belum sempat ia membuka pintu, Liana bisa mendengar pembicaraan dari luar.
"Untuk apa kau ke sini?" tanya Andra datar.
"Aku ingin bertemu Liana. Aku ingin meminta maaf padanya, atas apa yang ibuku perbuat."
Itu ... suara Fia, pikir Liana. Ia kembali mengarahkan telinganya pada pembicaraan mereka.
Liana bisa mendengar suara tangis Fia. Ingin ia membuka sedikit pintu. Namun, ada rasa takut di hatinya. Entah apa yang membuatnya takut.
Kenapa aku harus takut? Andra tidak akan mungkin berselingkuh. Terlebih, ini tempat umum. Ya, aku tidak perlu takut!
__ADS_1
Dengan tangan gemetar, Liana memutar kenop pintu perlahan. Pintu terbuka sedikit. Ia bisa melihat Fia sedang berlutut dan memegang kedua kaki Andra. Sementara suaminya itu terlihat bersikap dingin pada Fia.
"Kalau mama sampai di penjara, bagaimana dengan papa? Aku tidak bisa mengurus papa sendiri. Sementara istrimu, Dia bahkan tidak mau mengurus ayahnya!"
Liana bisa melihat kemarahan di wajah Fia. Ia menarik napas dalam dan membuka pintu lebih lebar. Fia mengangkat pandangannya.
"Liana," gumamnya.
Ia melepas pegangannya pada kaki Andra. Fia juga menghapus air matanya. Andra lebih dulu menghadang langkah Fia untuk mendekati Liana.
"Tidak masalah," ucap Liana dengan tersenyum. Ia bahkan memegang lengan Andra lembut.
Liana mengalihkan tatapannya pada Fia. "Tentang papa, mulai sekarang, aku yang akan merawatnya. Kau bisa fokus pada pekerjaanmu."
Fia tertegun. Ia menatap Liana tak percaya. Belum sempat ia mencerna semua ucapan Liana, saudara tirinya kembali mengatakan hal yang tak pernah ia duga.
__ADS_1
"Masalah perusahaan, aku akan mengembalikan semua saham kalian. Termasuk, menyerahkan perusahaan itu. Masalah ibumu, aku tidak bisa membantu. Sejujurnya, bukan aku yang melaporkannya," ucap Liana panjang lebar.
Tanpa menunggu reaksi Fia, Liana segera masuk di bantu Andra. Para bodyguard yang sebelumnya menyingkir, kembali berdiri di depan ruang rawat Liana.