Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
Kesempatan untuk Andra


__ADS_3

Malam itu, Liana menunggu kedatangan Andra. Ia akan mencoba apa yang Silviana sarankan. Tak lama, terdengar suara mobil Andra memasuki halaman. Jantung Liana berdegup cepat.


Pintu terbuka, menampilkan andra dengan kondisi lelah dan kusut. Liana tertegun melihat wajah Andra yang kuyu. Pandangan mereka pun bertemu. Liana menarik napas dalam.


"Aku ingin bicara," ucap Liana pelan.


Andra menganggukkan kepala. Ia duduk di seberang Liana. Meletakkan jas dan tas kantornya di kursi kosong samping. Liana menuangkan minum untuk Andra. Pria itu pun menenggaknya, hingga tandas.


"Aku minta maaf." Liana mengawali pembicaraan mereka.


Mendengar ucapan pertama Liana, Andra tertegun. Ia tidak tahu harus bicara apa pada sang istri.


"Masalah perceraian ... mari kita tunda," lanjut Liana.


Ia menatap suaminya lekat. Andra menitikkan air mata. Ia menghampiri Liana dan menggenggam tangannya.


"Kau, tidak bercanda, 'kan?" Andra seakan tak percaya dengan pendengarannya.


"Tidak. Aku serius!" ucap Liana yakin.


Andra memeluk Liana erat. Ia sempat merasa putus asa dengan merelakan hubungan mereka.


"Kau tahu, aku sempat frustasi mempertahankan hubungan kita. Kau seakan sulit sekali untuk ku gapai. Aku juga minta maaf. Selama ini, aku tidak pernah mencoba untuk memahamimu."


Mama benar. Masalah kami hanya pada komunikasi. Sejak awal, aku tidak pernah memberi Andra kesempatan. Aku selalu menekan dirinya untuk mengerti aku, batin Liana.


Andra terus mengabsen setiap kesalahan yang ia lakukan pada Liana. Sementara Liana, tersenyum menatap wajah tampan sang suami. Tanpa sadar, Liana mengecup bibir suaminya lembut.

__ADS_1


Sontak, hal itu membuat Andra terdiam. Jantungnya berdegup cepat. Waktu seakan berhenti berputar. Liana menundukkan pandangan, saat Andra menatapnya lekat. Ia berdiri dan mencoba lari dari sang suami.


Andra menarik tangan Liana kuat, hingga istrinya terjatuh di pangkuan Andra. "Kenapa berhenti?" tanyanya.


"Aku ...." Ucapan Liana terhenti. Ia tidak tahu harus bicara apa. Otaknya seakan tak bisa memikirkan sebuah alasan.


"Aku suka kau berinisiatif menciumku," ucap Andra lirih.


Ia pun mulai melanjutkan apa yang Liana mulai. Keduanya hanyut dalam gelora asmara yang lama terpendam.


***


Andra dan Liana sepakat untuk saling terbuka mulai hari ini. Mereka bahkan mulai tinggal dalam satu ruangan. Kini, Andra dan Liana berada di kamar yang sama. Sepenjang malam, Andra tak melepas Liana sedikit pun.


Pria itu benar-benar seperti budak cinta. Ia bahkan tak membiarkan Liana turun dari ranjang mereka. Saat Liana akan ke toilet, dengan senang hati Andra menggendongnya.


"Aku bisa sendiri, Ndra," gerutu Liana.


Liana menatap Andra horor. Pria itu tersenyum kikuk, melihat tatapan tajam sang istri.


"Tidak usah selebay itu!"


"Oke! Baiklah," ucap Andra menyerah.


Pria itu tidak masalah dengan hal itu. Baginya, mendapat kesempatan sekali lagi dari sang istri, membuat pria itu sangat bahagia. Kali ini, aku tidak akan mengecewakan Liana lagi. Cukup sudah aku membuatnya marah, batin Andra.


Pagi harinya, seseorang mengetuk pintu rumah mereka. Liana yang masih terlelap, terpaksa membuka matanya. Ia pun memilih mencuci mukanya lebih dulu. Sementara Andra, ia masih terlelap dalam tidurnya.

__ADS_1


"Siapa pagi-pagi begini datang bertamu?" tanya Liana pada dirinya sendiri.


Ia pun berjalan ke pintu depan. Saat pintu terbuka, istri kedua ayahnya sudah berdiri menantang Liana. Sebelah alis Liana terangkat.


"Kau, adalah bencana yang seharusnya kusingkirkan sejak lama!" desis wanita itu.


Liana bersedekap, menatap wanita yang berstatus sebagai ibu tirinya itu. "Sejak awal, kaulah yang harusnya sadar diri. Kau, hanya wanita rendahan yang rela menjual diri demi harta!"


Wajah wanita itu terlihat sangat marah. Senyum miring terlihat di wajahnya. Liana mengerutkan dahi melihat senyum wanita itu, hingga sesuatu terasa menusuk perutnya. Liana menurunkan pandangan dan melihat darah mengalir dari sana.


"Matilah menyusul ibumu!" desisnya.


Tak lama, Liana jatuh tersungkur. Wanita itu segera pergi meninggalkan rumah itu. Membiarkan Liana merasakan sakit sendiri.


"Andra," panggil Liana lirih.


***


Sambil nunggu up, gak ada salahnya kalian mampir ke karya temanku 👇👇



Gabriel Arshaka, pria dengan sejuta pesona yang digilai banyak wanita. Tak ada satupun wanita yang memiliki tahta tinggi dihatinya selain kekasihnya.


Namun karena sebuah kesalahan, ia terpaksa menikahi Jingga, wanita yang menjadi sahabat adiknya dan juga sudah dianggap sebagai adiknya sendiri.


"Aku tidak akan berhenti mengejarmu, sebelum aku berhasil membuatmu jatuh cinta padaku kak" ~ Jingga Oceana.

__ADS_1


"Berhentilah melakukan hal sia-sia, tidak ada dalam kamusku jatuh cinta pada bocah ingusan sepertimu" ~ Gabriel Arshaka.


Akankah cinta tumbuh di hati Gabriel untuk Jingga? Bagaimana caranya Jingga menaklukkan hati Gabriel yang selalu menganggapnya seperti anak kecil?


__ADS_2