Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
Diterima


__ADS_3

Hari ini, Liana bangun pagi-pagi sekali. Ia berniat kembali berkeliling mencari pekerjaan. Meski secara keuangan masih dalam kondisi aman, tetapi Liana tak bisa mengandalkan tabungannya. Bagaimana pun, lambat laun, uang itu pasti habis, bila ia hanya duduk manis.


"Semangat Liana. Kamu pasti akan mendapat pekerjaan," ucap Liana pada dirinya sendiri.


Gadis itu pun meninggalkan kosannya. Berhenti sebentar di depan jalan untuk mengisi tenaga. Lima belas menit kemudian, ia mulai menelusuri kota itu. Mencari pekerjaan dari satu tempat, ke tempat lainnya. Dari satu perusahaan, ke perusahaan lainnya.


Terik matahari tak menghalangi langkahnya. Namun, langkah Liana terhenti saat menyadari seseorang menghalanginya. Perlahan, gadis itu mendongakkan kepala.


Andra! Apa yang dia lakukan di sini? batin Liana.


Liana berusaha tetap tenang. Ia pun melewati Andra. Sayang, pria itu seakan tak melepaskannya. Liana mendesah lelah.


"Sampai kapan kau menghindariku? Apa belum cukup waktu yang kuberikan dua minggu ini?" tanya Andra.


"Gue gak pernah menghindar. Bukannya lo, yang gak pernah datang?" Liana menjawab dengan tenang.


Andra terdiam. Ia tak dapat menyangkal ucapan Liana. Apa yang gadis itu ucapkan memang benar. Dirinya lah yang tak datang menjenguk. Tapi, aku bermaksud memberikan dia waktu. Kenapa dia jadi menyalahkan aku? batin Andra.


"Lalu, untuk apa kau pindah ke kota ini?"


"Gue rasa, pertanyaan ini bisa dilewatkan. Karena itu bukan urusan lo." Liana melangkah meninggalkan Andra.


Sayang, pria itu seakan enggan melepasnya. Liana membuang pandangan kesal.


"Mau apalagi, sih?" tanya Liana kesal.


"Apa kita tidak bisa kembali seperti dulu?"


Liana menatap Andra tajam. "Dengar! Prinsip gue, gak akan pernah mau balikan sama mantan. Sekali pun dia uda berubah menjadi lebih baik sekali pun!"


Liana segera melangkah secepat mungkin meninggalkan tempat itu. Ia tak ingin Andra kembali mengejarnya. Sementara Andra yang ditinggalkan, menatap punggung Liana hingga menghilang. Tanpa sadar, tangannya mengepal kuat.


Sepertinya, aku harus melakukan cara lain. Maaf, Sayang. Tapi, aku tidak bisa melepasmu begitu saja. Akan kubuat kau menjadi milikku! tekad Andra dalam hati.


Diam-diam, Andra mengikuti langkah Liana. Gadis itu memasuki sebuah gedung yang Andra kenal. Tak lama, ia keluar lagi. Setelah Liana tak lagi terlihat, ia masuk ke gedung itu dan menghampiri resepsionis.


"Gadis tadi, mau ngapain, Mbak?" tanya Andra.


"Melamar kerja. Apa, Mas, juga ingin melamar kerja di sini?" tanyanya.


"Ah, tidak," tolaknya. "Pak Hermawan ada, 'kan?" lanjut Andra.


"Mas, siapanya?" resepsionis itu mengerutkan keningnya dalam.

__ADS_1


"Saya, kepo–" Ucapan Andra terpotong, saat seseorang memanggilnya dari arah lift.


"Ndra!"


"Hai," sapa Andra balik.


"Mau ketemu om Hermawan?"


"Iya. Ada?"


"Ada. Ayo, naik!"


Resepsionis pun hanya terdiam melongo melihat kejadian itu.


***


Andra dan pria itu tiba di depan ruangan CEO. Pria itu pun mengetuk pintu. Ketika sebuah suara mempersilakan mereka masuk, keduanya segera mendorong pintu.


"Loh, Andra. Ayo, masuk!" Hermawan segera berdiri dan duduk di sofa.


Andra dan pria yang datang bersamanya pun mengikuti.


"Tumben, main ke kantor. Biasanya, kamu lebih suka jalan-jalan," tanya Hermawan.


"Gini, Om. Andra boleh minta tolong?"


Kerutan di dahi Hermawan terlihat jelas. "Sejak kapan om tidak mau menolong? Katakan!"


"Tadi, ada seorang gadis yang melamar pekerjaan ke sini. Dia ... cewek yang Andra suka." Ucapan Andra terdengar melemah di bagian akhir.


"Benarkah?" Hermawan segera meminta pria yang duduk di samping Andra mengambil berkas pelamar.


"Baik, Pak," sahut pria itu.


Hermawan pun menginterogasi keponakannya itu. Bertanya tentang gadis yang Andra sukai. Andra menceritakannya dengan wajah berbinar. Membuat Hermawan tertawa melihat ekspresi yang jarang ditunjukkan keponakan tercintanya.


"Om sangat jarang melihatmu tersenyum seperti ini. Kalau begitu, Om akan tempatkan gadis itu sebagai sekretaris om," ujar Hermawan.


"Jangan, Om!" cegah Andra buru-buru.


"Dia, bukan tipe gadis yang bisa menerima hal di luar logika. Akan sangat aneh, bila, Om, menerimanya sebagai sekretaris. Nanti, dia pasti akan menolak, seperti kejadian di butik Nisya," jelas Andra.


"Ya, ya. Om sudah dengar kejadian itu. Rupanya, karena kejanggalan itu, dia tidak menerima pekerjaan dari Nisya." Hermawan mengetukkan jarinya di lengan sofa.

__ADS_1


Tak lama, pintu kembali terbuka. Pria itu kembali membawa berkas yang diminta Hermawan. Mereka segera mencari berkas Liana. Hermawan menemukannya lebih dulu. Ia segera membuka berkas itu, dan membaca porto folio milik Liana.


"Dia cukup berpengalaman di bidang komunikasi," ucap Hermawan setelah beberapa menit fokus membaca berkas tersebut.


"Jon, tempatkan dia di bagian marketing. Dia cukup handal dalam bidang ini," titah Hermawan.


"Baik, Pak." Pria bernama Jon, menuruti perintah atasannya.


"Minta bagian HRD untuk mewawancarainya. Intinya, lakukan sebagaimana perusahaan mencari karyawan. Jangan buat dia merasa berbeda. Dia cukup peka akan hal itu," pinta Andra.


"Wah, wah. Gadis seperti ini sangat langka. Dia tidak suka, bila naik ke posisi tinggi tanpa kerja keras. Perjuangkan dia, Andra," puji Hermawan.


"Iya, Om."


Obrolan mereka pun terus berlanjut, hingga makan siang.


***


Liana baru saja selesai mandi, saat ponselnya berdering. Melihat kode telepon yang masuk, Liana yakin itu nomor sebuah perusahaan. Ia pun segera menjawab panggilan tersebut. Benar saja, itu adalah salah satu perusahaan yang sempat ia datangi siang tadi. Begitu panggilan selesai, Liana melompat bahagia.


Keesokkan harinya, Liana pergi ke perusahaan itu dan menjalani berbagi tes, hingga wawancara. Usai menjalani semuanya, Liana hanya tinggal menunggu panggilan. Ia berharap, kali ini usahanya membuahkan hasil.


Dari sudut perusahaan, Andra mengawasinya. Melihat wajah Liana yang berbinar, Andra ikut tersenyum. Ia akan segera mencari cara, untuk membuat Liana menjadi miliknya. Yang pasti, ia tak akan merusak gadis itu.


Setelah memastikan Liana mendapat pekerjaan, Andra memilih kembali ke kotanya. Ia sudah meminta bantuan Jon, tunangan kakak sepupunya, untuk mengawasi Liana.


Paling tidak, aku tetap bisa mengawasimu, meski aku jauh darimu. Andra menghela napas dalam.


Pagi harinya, Liana mendapatkan kabar, bila ia telah di terima di perusahaan itu. Ia bisa memulai pekerjaannya, Senin nanti. Itu artinya, tiga hari lagi.


"Gimana? Udah coba ngelamar ke tempatku?" tanya Gina.


Hal itu jelas mengejutkan Liana. "Astaga! Kakak ngagetin aja, deh," gerutu Liana.


Gina tertawa. "Sorry, sorry. Jadi, gimana?"


"Udah kak. Aku udah di terima. Senin nanti, aku mulai kerja," jawab Liana senang.


"Oo, pantes muka kamu bahagia banget. Selamat, ya. Sayang, kita ada di bagian yang berbeda. Gak apa. Kita bisa makan siang bareng, kok," ujarnya.


"Iya. Makasih, ya, Kak," ucap Liana.


"Sama-sama. Kalau gitu, aku masuk dulu, ya," pamitnya.

__ADS_1


Liana tersenyum seraya menganggukkan kepala. Ia bersyukur, bisa memiliki teman satu kos yang baik. Sangat terlihat, jika gadis itu tidak menaruh rasa kasihan pada Liana. Semoga saja, di kota ini aku bisa memiliki sahabat baru, harap Liana dalam hati.


__ADS_2