
Tiga hari berlalu. Hartawan sudah mendapatkan sedikit bukti, untuk membuat Liana bebas dengan jaminan. Dengan segala koneksi yang ia miliki, Hartawan menemukan posisi Liana yang sebenarnya.
Hartawan sangat menyayangi Liana. Baginya, Liana tidak seperti wanita lain yang mudah bertekuk lutut pada Andra. Apalagi, ketika mereka tahu siapa Andra. Ia juga sudah mencari tahu semua yang berhubungan dengan Liana. Tidak ada celah sedikit pun, mengenai kriminalitas. Meski barbar, Liana bukan seorang yang menginginkan kematian orang lain.
Setelah mengantongi bukti tersebut, Hartawan segera menemui kepala polisi. Menyerahkan semua bukti yang ia punya. Sementara Andra, sudah meminta orang untuk terus mengawasi Dilan dan Fia. Untuk kasus Liana, ia sendiri yang menangani.
Sayangnya, Andra tak menemukan apa pun. Suara ponsel, mengalihkan fokusnya. Ia segera mengangkat panggilan itu. Di sana, ayahnya yang tengah berbicara. Pria itu mengatakan, bahwa Liana sudah bisa dibebaskan. Andra sempat terperangah.
"Andra segera ke sana, Pa," ucap Andra mengakhiri panggilan.
Ia segera memacu mobilnya menuju kantor polisi. Dalam waktu satu jam, Andra sudah tiba. Liana terlihat sangat buruk. Andra menatap sedih wajah sang istri.
"Maaf. Aku tidak bisa mengeluarkanmu lebih cepat," ucapnya sendu.
__ADS_1
Liana mendekat, tangannya terulur menyentuh wajah Andra. Terlihat jelas lingkar hitam mewarnai mata pria itu. Bulu-bulu halus pun, sudah menghiasi wajah tampannya.
"Apa kau tidak tidur dengan baik?" Liana masih menatap wajah sang suami lekat.
"Mana mungkin aku tidur, disaat istriku berada dalam sel," jawab Andra.
"Sudah. Sebaiknya, kita pulang dulu," sela Silviana.
Mereka segera meninggalkan kantor polisi. Status Liana yang sebelumnya menjadi tersangka, kini berubah sebagai saksi. Kali ini, Silviana membawa mereka kerumahnya.
"Ma, bagaimana pun juga, tidak baik kalau kami bergantung pada, Mama dan Papa, selamanya," jelas Andra.
"Pokoknya, kalian harus tinggal dengan mama, sampai kondisinya kondusif. Lagipula, apa salahnya kalian bergantung pada orang tua?" Nada suara Silviana terdengar sedih di akhir kalimatnya.
__ADS_1
Liana memeluk ibu mertuanya. "Tidak ada yang salah, Ma. Hanya saja, ketika kami berhadapan dengan situasi yang sama nanti, tapi, Papa dan Mama, tidak ada. Sudah bisa dipastikan, kami tidak akan bisa mengatasinya."
Tatapan lembut Liana berikan. Silviana membuang pandangannya. Mungkin, tak ingin terlihat, bila ia sudah luluh dengan kata-kata Liana. Atau, haya ingin menghindar.
Sekian detik, suasana hening memenuhi mobil itu. Dari kaca center, Hartawan menatap wajah sang istri.
"Papa paham maksud kalian. Tapi, untuk saat ini, tinggallah bersama kami. Lihat dan pelajari, cara papa menangani musuh pribadi. Untuk musuh perusahaan, papa rasa ... Andra bisa menanganinya."
Liana dan Andra memikirkan ucapan Hartawan. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Andra menoleh pada Liana. Wanita itu menganggukkan kepala setuju.
"Oke! Sampai masalah ini selesai, Andra dan Liana akan tinggal di rumah, Papa dan Mama," putus Andra.
Silviana menatap haru anak dan menantunya. Ia merasa sangat bahagia, bisa berkumpul bersama mereka setiap hari. Paling tidak, hal itu mengurangi rasa khawatirnya pada keselamatan Liana.
__ADS_1