Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
Andra vs Dilan


__ADS_3

Dua tahun kemudian.


Sore itu, Liana baru saja tiba di rumah. Seorang wanita paruh baya menghadang jalannya. Liana mendesah kesal melihat wanita itu. Ingin rasanya ia melewati wanita itu begitu saja. Namun, ia berada tepat di depan pagar rumahnya.


"Kalau kau sudah bosan hidup, pergi ke tempat lain untuk bunuh diri. Jangan di sini!" bentak Liana.


"Dasar anak kurang ajar!"


Wanita itu mengangkat tangannya hendak menampar Liana.Ia menangkap pergelangan tangannya, kemudian menghempaskan dengan kasar.


"Ada apa kau ke sini?" tanya Liana ketus.


"Ah, aku ingin memberitahumu sesuatu!" Ia mengambil sebuah amplop dari tasnya. Kemudian, melemparkannya pada Liana.


Isi di dalam amplop itu berhambur ke luar. Liana mengambil satu foto itu. Ia meremasnya kuat, saat melihat pasangan yang berbuat mesum itu.


"Kau, tidak bisa memuaskan suamimu dengan baik. Pada akhirnya, ia mencari kepuasan dari wanita lain," ujarnya.


Liana mencoba tetap bersikap tenang. Ia tidak ingin mempercayai foto yang diberikan oleh istri kedua ayahnya itu. Apalagi, sejak dulu mereka sudah saling membenci.


"Kau pikir aku akan percaya dengan semua sampah ini?" Liana menyeringai.


"Terserah. Andra, sangat sering datang ke rumahku dan menghabiskan waktu dengan Fia. Siapa yang tahu, pada akhirnya benih cinta tumbuh di antara mereka?"


"Jika itu terjadi, sudah jelas anakmu tidak tahu malu. Dia ... sama murahannya denganmu!" desis Liana.


"Jaga mulutmu, sialan!" teriak wanita itu.


"Pergi dari rumahku sekarang!" usir Liana.


"Tanpa kau usir pun, aku pasti akan pergi!" Wanita itu berlalu dari hadapan Liana.


Setelah melihatnya pergi, Liana mengumpulkan foto-foto itu. Kemudian, mengambil ponsel dari tas. Ia menghubungi Dilan, dan mengatakan ingin bertemu sekarang.

__ADS_1


***


"Jadi, mereka masih sering bertemu?" tanya Dilan setelah mendengar cerita Liana.


"Iya. Mungkin, karena hubungan kami pun buruk."


"Apa lo masih menghindarinya?"


Liana menganggukkan kepala. Dilan menghela napas mendapat jawaban dari temannya itu.


"Apa lo gak bisa nurunin ego Lo sedikit aja?"


"Sebenarnya, beberapa kali gue liat mereka jalan bareng. Dari cara mereka bersikap, gak ada yang bisa gue curigain. Tapi, gue gak suka mereka ketemu," jelas Liana.


Dilan tertawa mendengar penjelasan Liana. Kini, ia mengerti mengapa Liana seperti itu. Dasar gengsian! ejek Dilan dalam hatinya.


"Lo cinta sama dia?"


"Bohong kalau gue bilang gak. Alasan gue terima pernikahan itu, karena gue cinta sama dia. Tapi ... gue takut." Liana menundukkan kepalanya dalam.


Liana pun menceritakan tentang hubungan yang dijalani orang tuanya dulu. Begitu pun tentang siapa wanita dalam foto itu. Dilan sedikit menaruh iba pada temannya itu. Ia pun mendekati Liana dan menepuk pundaknya lembut.


"Gak semua pria itu sama. Seharusnya, Lo bisa mencoba untuk membuka hati untuk dia. Apalagi, kalian udah hidup bersama selama dua tahun," ujar Dilan.


"Gue takut, Di. Sekarang, anak perempuan itu juga sangat dekat sama Andra. Gue takut, apa yang terjadi sama nyokap, terulang sama gue." Liana menangis.


Dilan mengerti dengan perasaan yang dialami Liana. Ia memeluk wanita yang sudah dianggapnya sahabat itu. Namun, semua itu berakhir, saat seseorang memukulnya telak. Dilan terjungkal, akibat perbuatan Andra.


"Andra!" teriak Liana.


Andra hanya menoleh sesaat. Amarahnya berkobar melihat pria itu memeluk istrinya. Dengan membabi buta, Andra terus menghajarnya. Dilan tak melawan sedikit pun.


"Jangan coba-coba dekati istriku lagi! Atau akan kuhabisi kau!" ancam Andra.

__ADS_1


"Kau sama sekali tidak mengerti tentang Liana. Apa yang dia mau, bahkan kenapa dia membangun dinding kokoh di antara kalian. Kau, seorang loser!" ejek Dilan


Andra kembali menyerang Dilan. Namun, Liana melindunginya.


"Hentikan! Kau keterlaluan!" maki Liana.


Ia membantu Dilan berdiri. Andra berdiri diam di tempatnya. Menatap kepergian Liana dan pria bernama Dilan itu.


Di luar, Liana membantu Dilan masuk ke dalam taksi. Pria itu bersikeras, meminta Liana menyelesaikan masalah rumah tangganya.


"Lo, yakin bisa sendiri?" tanya Liana khawatir.


Dilan terkekeh meski sebentar. Ia kembali meringis sakit. "Tidak masalah. Lo harus menyelesaikan masalah ini secepatnya. Gue yakin, kalian hanya kurang komunikasi. Ah, tentang ibu tiri, Lo. Hati-hati, dia itu licik. Foto tadi, adalah hasil editan," jelas Dilan.


"Iya. Terima kasih. Maaf, atas tindakan Andra," ucap Liana lirih.


"It's okay. Gue balik, ya," pamitnya.


Liana menatap taksi itu hingga menghilang. Saat berbalik, Andra sudah berdiri tegak di belakangnya dengan tatapan tajam.


"Sudah selesai perpisahannya?" tanya Andra dingin.


Liana segera menuju ke mobilnya, tanpa menghiraukan Andra. Melihat sikap Liana padanya, Andra pun menahan langkah Liana.


"Kita bicara di rumah," ucap Liana tanpa berbalik. Ia menarik lengannya kasar.


***


Nah, bagian ini, adalah yang terjadi di bab 1 ya guys.... Jadi, Andra tetap ketemu Fia. Dan, 'dia' yang Andra maksud itu, adalah Dilan, temannya Liana. Mau tahu alasan Liana lebih dekat dengan Dilan? aku up tgl 2 ya☺️


Apa ada yang kepo dengan penampilan Dilan dan Fia? Nih, aku kasih visualnya


__ADS_1



Aku mau ucapin happy new year buat kalian semua.... Semoga tahun 2023 ini, semua yang belum tercapai, bisa kita capai. Sampai jumpa di tanggal 2...


__ADS_2