
Liana tengah menelaah berkas pekerjaan yang menumpuk di mejanya. Perhatiannya teralih, saat seseorang mengetuk pintu ruangannya. Tak lama, ibu dari Andra masuk ke ruangannya.
"Tante." Wajahnya terlihat terkejut.
Silviana tersenyum pada Liana. Kemudian, mendekati menantunya itu dan memeluk Liana hangat. Mereka duduk di sofa bersama. Liana menyiapkan teh hangat untuk ibu mertuanya.
"Harusnya, Tante, hubungi aku saja. Jadi, Tante, gak perlu jauh-jauh ke sini," ucap Liana.
"Kamu ini. Sudah dua tahun menikah dengan Andra, tetap saja memanggil tante. Panggil mama, Sayang. Kamu, 'kan anak mama juga." Silviana mengalihkan pembicaraan.
"Aku belum terbiasa," jawabnya lirih dengan senyum kikuk. Resti menundukkan kepala dalam.
Silviana menggenggam hangat tangan Liana. "Sampai kapan kamu akan merasa nyaman bersama mama? Mama selalu ingin bersama denganmu. Tapi, kamu seakan menjauh," ucap Silviana.
"Aku ...." Liana tidak bisa melanjutkan ucapannya. Ia pun tidak memiliki alasan yang kuat, untuk menolak kebaikan Silviana.
"Apa karena kamu akan bercerai dengan Andra?
Liana mengangkat pandangannya. Ia terlihat terkejut mendengar kata 'bercerai', dari mulut mertuanya sendiri. Apa maksudnya? Kami belum mencapai kesepakatan ini, gumam Liana.
__ADS_1
"Bercerai?" ulang Liana.
"Iya. Mama sudah mendengar apa saja yang Andra lakukan padamu. Satu hal yang perlu kamu tahu, Andra hanya mencintaimu. Terlepas dari semua yang terjadi, cintanya hanya untukmu," jelas Silviana.
Liana tersenyum remeh. "Jadi dia setuju, untuk menceraikan aku? Bagus, sangat bagus."
Kerutan di dahi Silviana terlihat jelas. Ia tidak tahu, apa maksud ucapan Liana. "Maksudnya?" Pertanyaan itu pun tersembur keluar.
"Ah, tidak ada," elak Liana.
"Liana, mama pikir, kalian harus saling menyelami hati satu sama lain. Bila hanya salah satu pihak yang berusaha, semua akan sia-sia. Selama ini, Andra ingin mengenalmu. Tapi, mama lihat kamu menjaga jarak darinya. Apa mama salah?" tanya Silviana.
"Mama tahu, Andra salah dengan meminta bantuan Fia. Sementara kamu membenci wanita itu. Sekarang, kita ubah posisi. Seandainya kami ada di posisi Andra, bagaimana perasaanmu?"
Lagi, lagi, Liana tak bisa menjawab pertanyaan itu. Ia menyadari kesalahannya. Akan tetapi, egonya tak menerima pengkhianatan yang Andra lakukan. Tidak! Lebih tepatnya, itu hanyalah pikiran Liana sendiri.
"Aku tahu aku salah, Tante. Tapi, keputusanku sudah bulat. Aku ingin bercerai darinya," jawab Liana tegas.
Silviana menghela napas berat. Ia kembali menggenggam jemari Liana. "Mama tahu bagaimana perasaanmu. Masalah kalian yang sebenarnya, hanya kurang komunikasi. Sayangnya, kalian terus menyepelekan masalah itu, hingga akhirnya semua tak terkendali," ucap Silviana.
__ADS_1
Dalam hati, Liana membenarkan ucapan ibu mertuanya. Silviana tersenyum melihat wajah Liana yang terlihat merasa bersalah.
"Boleh mama beri saran?" tanya Silviana.
Liana mengangkat pandangan. Ia menatap ibu mertuanya penuh minat. Silviana tersenyum melihat wajah Liana yang penasaran.
"Kalian jangan bercerai. Seandainya kalian bercerai, itu hanya akan membuat orang yang tidak menyukai hubungan kalian bersorak senang. Cobalah saling terbuka satu sama lain. Mungkin, dengan honeymoon misalnya," saran Silviana.
Apa yang dikatakan Tante Silviana benar. Jika kami bercerai, Fia dan ibunya akan merasa di atas angin. Karena mereka berhasil menghancurkan hatiku. Andra juga tidak sepenuhnya bersalah. Haruskah aku menerima saran dari mama? tanyanya dalam hati.
"Tidak perlu menjawabnya sekarang. Pikirkan saja dulu dengan matang. Saat kamu sudah menentukan jawaban, beritahu mama. Mengerti?" Silviana menepuk lengan Liana lembut.
"Ma," panggil Liana.
Silviana terpaku, mendengar Liana memanggilnya 'mama'. Matanya berkaca-kaca menatap Liana. Ia memeluk menantunya erat. Ia sampai tak bisa berkata-kata karena rasa bahagia.
"Liana akan pikirkan ucapan, Mama. Terima kasih sudah memberikan saran. Maaf, karena selama ini Liana banyak melakukan kesalahan," ucap Liana.
Silviana menggelengkan kepala. Ia masih mencoba menguasai dirinya sesaat. "Manusiawi. Mama mengerti luka hati kamu. Mulai sekarang, jangan menutup diri lagi! Ada mama yang akan setia mendengarkan. keluh kesah kamu. Anggap mama seperti mamamu sendiri. Ya," pinta Silviana.
__ADS_1
Liana ikut meneteskan air mata. Ia kembali memeluk ibu mertuanya. Aku merindukan pelukan mama. Terima kasih, Mama Silvi sudah mau menjadi mamaku juga, ucapnya dalam hati.