Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
(POV Andra) Jadilah pacarku


__ADS_3

Aku memang tidak tahu rasa sakit yang dideritanya. Namun, melihat betapa rapuhnya Liana, membuatku ingin melindungi gadis itu. Haruskah aku mencari tahu tentang keluarganya?


Tapi, kami belum memiliki hubungan apa pun. Hanya sebatas teman. Jujur, aku sangat tertarik pada gadis itu. Dia terlihat kuat diluar, tetapi rapuh di dalam. Benar dugaanku. Lihat! Gadis itu sekarang sedang menangis sendirian di sana.


Tanpa sadar, aku mendekatinya dan memeluk Liana. Tubuh Liana semakin berguncang hebat akibat tangis yang tak lagi mampu ditahan. Ya, ia semakin mengeraskan tangisnya saat mendapat tumpuan. Aku hanya mengusap punggungnya perlahan. Berharap bisa memberikan ketenangan pada Liana.


***


Hampir lima belas menit kemudian, Liana menghentikan tangisnya. Ku angsurkan tissue. Ia membersihkan wajah dan hidungnya.


"Terima kasih," ucapnya.


"Hmm, tidak masalah."


"Apa kau sudah lebih tenang?" tanyaku.


Dia menganggukkan kepalanya.


"Masuklah. Temui ibumu. Sejak tadi, beliau mencarimu," ujarku.


Ia pun segera melangkah menuju ruang rawat ibunya. Aku hanya menatap punggung gadis itu hingga menghilang. Tak lama setelah kepergiaan Liana, pria yang tadi menjenguk ibunya datang menghampiriku.


"Om ...."


"Saya papanya Liana," ucapnya dingin.


"Ah, iya."


"Apa kamu kekasih Liana?" tanyanya.


"Bukan, saya hanya berteman dengannya."


"Benarkah? Tapi, saya lihat kau menyukai Liana."


"Iya. Saya memang menyukainya. Sayang, dia hanya ingin berteman dengan saya," jawabku jujur.

__ADS_1


"Tolong jaga dia dan ibunya."


Aku mengerutkan dahi mendengar permintaan papa Liana. Semudah itukah dia menyerahkan putrinya pada pria yang bahkan baru dia temui? Hah, dia seperti sedang membuang putrinya sendiri.


Tanpa kata, dia bahkan berlalu begitu saja. Pantas bila Liana membenci pria itu. Lihat saja bagaimana dia berbicara pada orang yang baru dikenalnya.


***


Tidak terasa, enam bulan sudah aku mengenal Liana. Hubungan kami terasa semakin dekat. Ia juga sudah mulai terbuka padaku. Meski, masih ada beberapa hal yang ditutupi. Bolehkah aku berharap lebih dari sekedar teman dengannya?


Aku pun memantapkan hati untuk menyatakan perasaan ini padanya. Kebetulan, hari ini aku mengundang Liana ke ulang tahunku. Tidak ada acara berlebihan. Hanya aku dan keluarga yang datang. Tentu saja, Liana menjadi tamu kehormatan.


"Wah, tampan sekali anak mama," puji ibuku yang sudah masuk ke dalam kamar.


Aku tersenyum pada mama. "Bukannya aku selalu tampan?"


"Mama tahu kamu ingin tampil terbaik di depan gadis itu, 'kan?"


Mama sudah mengetahui gadis yang kusuka. Saat di rumah sakit, mama bahkan sengaja memperhatikan Liana dari jarak jauh. Beliau bilang, ingin melihat seperti apa menantu yang kupilih untuknya.


"Ayo, Ma."


Mama merangkul lenganku. Kenapa kami bertemu langsung di restoran? Itu karena Liana tidak mau kujemput. Dia bilang, dia pasti datang, asalkan diijinkan datang sendiri tanpa dijemput. Aku pun menyetujuinya. Semua, demi memperlancar rencanaku.


Saat kami tiba, Liana pun sudah ada di sana. Ia terlihat sangat cantik dengan gaun itu. Gaun yang kupilihkan untuknya. Meski sempat menolak, aku berhasil memaksanya menggunakan gaun itu.


"Cantik sekali," puji mamaku.


"Terima kasih, Tante," ucap Liana.


Aku bisa melihat wajahnya yang tersipu malu mendapat pujian dari mama. Jujur saja, mulutku terasa gatal untuk memujinya juga. Namun, aku menahan diri.


"Ayo, duduk."


"Pa, cantik, ya." Lagi, mama memuji Liana. Kali ini, bahkan meminta pendapat papa.

__ADS_1


"Iya, Ma," jawab papa.


"Saya jadi malu, terima kasih, Om, Tante," ucapnya.


Tak lama, pelayan menyajikan makanan yang sudah kami pesan. Sambil menyantap makanan, kami berbincang hangat. Mama dan papa terlihat sangat menyukainya. Aku semakin optimis untuk menjadikannya kekasihku.


Aku bahkan terlalu asyik menatap wajah Liana. Apa yang gadis itu bicarakan dengan orang tuaku pun, aku tidak tahu.


"Andra," panggil mama.


Aku tersentak kaget, saat mama menepuk lenganku. "Iya, Ma," sahutku.


"Kamu liatin Liana jangan seperti itu dong, Nak. Liana sampai salah tingkah kamu perhatikan begitu."


Mataku mengerjap cepat menatap Liana. Mama benar, Liana terlihat salah tingkah. Aku menggaruk tengkukku yang tak gatal.


"Maaf. Aku terlalu terpesona pada tampilannya," ucapku malu-malu.


Apa aku salah lihat? Wajahnya memerah? Kali ini, bukan memerah karena marah. Akan tetapi, ia merasa malu. Salahkah penglihatanku ini?


"Kamu ini." Mama menepuk lenganku lagi.


"Liana," panggilku.


Gadis itu mengangkat pandangannya untuk menatapku. Aku berdeham sebentar.


"Maukah kau jadi pacarku?" tanyaku.


Wajah Liana terlihat terkejut sesaat. Setelah itu, berubah merona. Ada hawa panas yang menjalar di wajahku. Merasa Liana juga menyukaiku.


"Ya, aku mau," jawabnya lirih.


Beruntung aku masih bisa mendengar jawabannya. Akhirnya, aku bisa mendapatkan hati Liana. Tidak sia-sia aku melakukan pendekatan selama enam bulan ini.


***

__ADS_1


part selanjutnya, masuk ke hubungan manis Andra dan Liana, sampai penyebab retaknya hubungan mereka dan terus maju setelah bab 1 kemarin ya... ayo komen guys... kasih aku semangat gitu


__ADS_2