Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
Rencana Liana


__ADS_3

Liana menepikan mobilnya di sebuah jembatan tinggi. Menatap langit malam dan jalan yang dipenuhi oleh kendaraan dengan hampa. Tak ada lagi tempatnya untuk mengadu. Ia hanya bisa menyimpannya sendiri. Lagi, Liana menghela napas kasar.


"Lama tidak bertemu. Kau semakin cantik," ujar seseorang di samping Liana.


Mendengar suara itu, Liana terkekeh sinis. Tidak perlu menoleh, gadis itu sangat tahu pemilik suara itu adalah Andra, mantan kekasihnya. Sejak kapan dia di sini? Apa dia ingin mengejekku? batinnya.


"Kau butuh teman cerita?" tanyanya lagi.


"Tidak!" tolaknya tegas.


Tidak ada yang berbicara. Hanya suara klakson mobil yang saling bertautan yang terdengar. Liana kembali memikirkan perusahaan peninggalan sang mama, yang hampir bangkrut. Sementara orang yang di sampingnya, terus meliriknya dalam diam.


"Berhenti melirik gue seperti itu!" ucap Liana.


"Maaf. Tapi, sepertinya kau butuh bantuan. Itu yang kulihat dari wajahmu."


"Lo udah berubah profesi, ya? Dari pebisnis hebat, jadi cenayang?" tanyanya.


Tawa pria itu terdengar. Liana hanya menggelengkan kepala mendengar tawanya. Kembali menatap jalanan yang lambat laun mulai sedikit berkurang.


"Perusahaan mama dalam bahaya." Liana mengawali ceritanya. Ia tidak tahu, mengapa tiba-tiba menceritakan semua itu.


"Tante Diana, punya perusahaan?" tanya Andra.


Anggukkan kepala Liana berikan. Entah sudah berapa kali gadis itu menghela napas. Andra mendekatinya dan menepuk pundak Liana lembut.

__ADS_1


"Dari mana Lo tahu, gue ada di sini?" tanya Liana.


"Gak sengaja liat kamu tadi," jawabnya. "Kembali ke topik. Jika Tante memiliki perusahaan, kenapa kau justru bekerja dengan orang lain?" tanya Andra lagi.


Liana menoleh pada Andra. Ia bisa melihat rasa penasaran di wajah pria itu.


"Perusahaan mama, sudah diambil alih oleh keluarga baru laki-laki sialan itu!" jawabnya dengan sedikit kesal.


"Kalau begitu, bukankah sebaiknya kau biarkan saja, perusahaan itu kolaps?"


"Seandainya semudah itu," gumam Liana. "Meski gue ingin mereka merasakan hidup tanpa memiliki apa pun, tapi tidak dengan para karyawan. Tidak seharusnya mereka merasakan dampak perbuatan orang-orang itu."


"Kau benar. Mereka tidak mengerti dengan apa yang terjadi."


Keduanya kembali terdiam. Liana merasa sedikit lega, setelah menceritakan masalah yang tengah dihadapinya. Sementara Andra, merasa senang melihat gadis yang dicintainya, mulai terbuka.


"Mau kubantu?" tawar Andra.


Liana menoleh cepat. Menatap kedua mata Andra dalam. Tidak ada kebohongan di sana.


"Sungguh?" tanya Liana.


Andra menganggukkan kepalanya yakin. Liana masih terus menatap mata Andra. Hatinya terasa bergetar hebat menatap pria yang pernah terisi oleh dia.


"Tanpa syarat?" lanjut Liana.

__ADS_1


"Syarat?" Melihat Liana menganggukkan kepala, Andra terkekeh. "Tidak. Aku hanya ingin, kau tidak lagi menjauh dariku. Jika memungkinkan, menikahlah denganku," lanjutnya.


Seketika Liana membuang pandangan, mendengar kata pernikahan. Tapi, bukankah lebih baik aku menikah dengannya? Paling tidak, aku mengenal Andra, gumam Liana dalam hati.


"Aku tidak akan memaksakan pernikahan. Tante Diana pernah mengatakan, bila kau tidak percaya dengan hubungan itu."


"Ya. Gue hanya tidak mau, mengalami hal yang sama dengan mama. Melihat mama menangis setiap malam, hati gue sakit. Tapi, mereka justru bahagia. Tidakkah wanita itu memikirkan hancurnya perasaan mama?" Air mata Liana jatuh berderai, mengingat kenangan pahit dalam hidupnya.


Andra merangkul pundak Liana. Mengusapnya lembut, seakan mengatakan bila semua baik-baik saja. Liana menghapus air matanya segera.


"Aku mau menikah denganmu."


Andra terkejut dan menoleh cepat, saat mendengar ucapan Liana. Menatap gadis itu dalam.


"Kau ...." Ucapan Andra terhenti.


"Tapi, ada syaratnya," potong Liana.


"Katakan!"


"Aku ingin perusahaan mama menjadi milikku. Sisakan beberapa persen untuk mereka. Lalu, bantu aku memimpin perusahaan," jawab Liana.


Kini, gadis itu berbicara akrab dengan Andra. Mendengar permintaan Liana, Andra tahu ia ingin merebut semua miliknya.


"Dengan senang hati. Tapi, kau tidak boleh berubah pikiran," pinta Andra di akhir ucapannya.

__ADS_1


"Aku tidak akan berubah pikiran," jawab Liana dengan yakin. "Tapi ...." Liana menghadap Andra.


__ADS_2