
Andra terus menyisir tempat itu. Tidak ada yang aneh, bila terlihat dari luar. Namun, ketika ia menuju ke belakang, ada sebuah jalan yang tertutup oleh semak belukar. Tak lama, para anak buahnya berkumpul di sana.
Mereka saling melempar kode untuk masuk ke dalam. Perlahan, mereka melangkah memasuki jalan itu. Ternyata, ada bangunan modern yang terletak di pinggir hutan. Bangunan ini, seperti sengaja dibangun, di dekat bangunan tua. Mungkin untuk menutupi tempat ini, pikir Andra.
Terlihat beberapa orang berjaga di dekat sana. Salah seorang anak buah Andra masuk dan melumpuhkan mereka lebih dulu. Setelah aman, mereka kembali melanjutkan langkah. Rupanya, tak semudah itu mereka menerobos masuk.
Perkelahian pun tak terhindar. Beruntung, orang-orang yang Andra bawa, adalah pilihan ayahnya langsung. Sementara itu, disebuah ruangan dengan pencahayaan remang, Fia tengah gemetar ketakutan melihat Beberapa orang yang menatapnya dengan lapar.
Sementara pria paruh baya yang menjadi bos mereka, tengah mencumbunya. Meski merasa jijik, Fia menahan diri. Sial! Bagaimana caranya aku melarikan diri? pikirnya.
Tiba-tiba, pria paruh baya itu menghentikan cumbuannya. Fia terkejut, tetapi berpura-pura tak peduli dengan apa yang pria itu lakukan. Ia pun membuang pandangannya.
"Hah, Aku tidak suka dengan orang yang seperti ini. Membuatku tak bergairah!" kesalnya.
Fia menaikkan selimut dengan cepat, untuk menutupi tubuhnya yang sudah hampir terekspose seluruhnya. Pria itu pun menghempaskan bokongnya di sofa ruangan itu.
__ADS_1
"Bawa wanita itu saja. Dia jauh lebih menggairahkan." Matanya terlihat menerawang.
Di ruang berbeda, Liana tengah membangkitkan rasa percaya dirinya. Menstabilkan kondisi mental yang sempat down, saat melihat pria yang pernah melecehkannya. Setelah dirasa lebih baik, Liana menginjak kaki salah seorang dari penjaga itu. Kemudian, mengarahkan tendangannya pada inti tubuh mereka.
Tak sampai disitu, Liana juga merebut senjata api yang disembunyikan oleh mereka. Kemudian, melepaskan tembakan ke arah kaki keduanya. Setelah itu, ia keluar dari ruang itu. Mencari keberadaan Fia, dari satu ruang, ke ruangan lain. Tepat saat dia akan membuka pintu di depannya, pintu itu lebih dulu terbuka.
"Wah ... ternyata, dia mendatangiku. Apa kau sudah tak sabar, Sayang?" tanya pria itu.
Liana mengangkat senjata yang sempat ia rebut ke arah pria itu. "Majulah jika kau berani," tekan Liana.
"Fia, cepat keluar!" teriak Liana.
Tak lama, terlihat Fia berjalan keluar, dengan penampilan yang acak-acakkan. Dengan langkah gontai, Fia mendekati Liana. Namun, pria itu lebih cerdik dari dugaan Liana. Sengaja, ia menyandera Fia. Ia bahkan menodongkan senjata tepat di kepala Fia.
"Lepaskan senjatamu, atau kubunuh dia!" ancam pria itu.
__ADS_1
Liana menyeringai. "Kau pikir aku takut? Jika kau bisa membunuhnya, aku akan sangat berterima kasih," ucap Liana.
Pria itu menatap tak percaya pada Liana. "Jika kau memang menginginkan kematiannya, kenapa juga kau mengikuti dia hingga kemari?"
"Entah. Aku hanya penasaran dengan musuh yang membawanya. Tidak lebih," jawab Liana.
Mata pria itu memicing. Seakan tengah mencerna setiap kata yang Liana ucapkan. Mungkin, ia tak percaya dengan ucapan Liana.
"Aku hanya ingin menyaksikan penderitaannya. Merekam detik demi detik kesakitan yang dia rasa, lalu mengirimkannya pada Maya."


__ADS_1