
Malam sudah larut, saat Liana kembali membuka matanya. Perutnya merasa sangat lapar. Ia turun dari ranjang, dan berjalan ke dapur. Membuka kulkas, tudung saji, bahkan lemari penyimpanan. Sayangnya, tidak ada makanan yang bisa ia makan.
Ia hanya melihat telur dan beberapa jenis sayuran yang belum diolah. Liana menatap nanar bahan-bahan itu. Aku lapar, tapi males banget mau ngolah. Apa bangunin Andra aja, ya? pikir Liana.
Liana masih menatap bahan-bahan makanan yang ada. Ia pun mulai berpikir, untuk membuat omelet dengan bahan yang tersedia. Asyik memotong sayur, membuat ia tak menyadari kehadiran Andra. Pria itu tersenyum menatap kepiawaian Liana mengiris dan memotong sayur.
"Apa kau lapar?" tanya Andra.
Mendengar suara sang suami yang sudah berdiri di belakang, Liana tak sengaja menggores jari telunjuknya. Membuat ia mengerang rendah.
"Pelan-pelan, Sayang," ucap Andra. Ia menarik jari Liana dan membersihkan luka itu dengan tisu. Andra mulai mencari kotak P3K, untuk membalut luka itu.
"Jangan suka ngagetin bisa, 'kan?" pinta Liana.
Senyum kaku Andra tunjukkan. Ia melanjutkan kegiatannya membalut luka di tangan sang istri. Selesai membalut luka Liana, Andra mendekati sang istri. Liana pikir, Andra akan memeluknya. Namun, pria iti hanya melepas celemek yang digunakan Liana.
Menyadari pikirannya yang salah, Liana menundukkan kepala dalam. Astaga ... malunya, gumam Liana dalam hati.
__ADS_1
Andra melihat bahan yang sudah disiapkan sang istri. Ia pun mulai melanjutkan pekerjaan itu. Liana memperhatikan semua yang Andra lakukan. Cukup kagum, melihat lihainya Andra menggunakan pisau.
"Memang kamu bisa masak?" tanya Liana.
"Bukannya kamu pernah makan masakan aku?" Andra masih memfokuskan perhatiannya pada masakan yang ia buat.
"Kapan?" tanya Liana lagi.
Bukannya menjawab, Andra memilih mengendikkan bahu. Liana kembali mengingat waktu yang telah mereka lalui selama tiga bulan ini. Apa pernah? Liana masih memikirkan ucapan suaminya. Namun, ia tak jua ingat.
"Wow, kelihatannya enak," ucap Liana lirih.
Andra duduk di samping Liana. Menanti sang istri mencicipi hasil karyanya. Perlahan, Liana memotong dan mulai memasukkan omelet itu ke dalam rongga mulutnya. Ia mulai mengunyahnya perlahan.
"Wow! Masakanmu jauh lebih enak dibanding buatanku," puji Liana.
Senyum jumawa Andra tunjukkan. Ia merasa senang, mendapat pujian dari sang istri. Melihat Liana memakan omelet itu, Andra meneguk salivanya dengan susah payah. Air liurnya, hampir saja menetes melihat kenikmatan itu. Sial! Aku jadi pengen, maki Andra dalam hati.
__ADS_1
"Mau?" tawar Liana. Melihat Andra menatap omelet itu tak berkedip, membuat Liana yakin, bila sang suami ingin mencicipinya juga.
Andra pun menganggukkan kepalanya. "Suapin," ujar Andra dengan nada manja.
Liana berkedip cepat, mendengar nada suara Andra seperti itu. Tanpa sadar, ia mengulurkan garpu ke arah Andra. Pria itu pun membuka mulutnya lebar, kemudian melahap telur itu.
Entah mengapa, selera Liana menghilang. Pada akhirnya, ia menggeser piring itu ke depan Andra.
"Kamu ... udah gak mau?" tanya Andra memastikan.
Gelengan kepala Liana, membuat Andra segera melahap omelet tersebut. Ia pun hanya menatap Andra melahap omelet itu hingga tak bersisa.
"Kamu lapar, atau doyan?" ejek Liana.
"Gak tahu, tiba-tiba aja kepengen, liat kamu makan," jawab Andra.
Apa mungkin Andra ngidam?
__ADS_1