Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
Niat Liana


__ADS_3

Pagi harinya, Liana sengaja bangun lebih pagi. Ia bahkan melewatkan sarapan dan berangkat lebih cepat. Ia bahkan meminta sekretarisnya, menyerahkan daftar nama jajaran manager. Sekretaris merasa sedikit bingung dengan permintaan sang atasan.


Tanpa mengkonfirmasi pada Liana, ia menghubungi Andra lebih dulu. Andra yang


baru akan masuk ke mobil mengerutkan dahi melihat nama yang terpampang. Pikirannya segera tertuju pada Liana.


"Ada apa Fika?" tanyanya.


"Begini, Pak. Bu Liana, meminta daftar nama manager secara tiba-tiba. Apa yang harus saya lakukan?"


Andra terdiam sesaat. Cukup terkejut dengan berita yang ia dengar dari sekretaris sang istri. Ada apa ini? Liana benar-benar bertindak aneh, gumamnya.


"Hilangkan nama Fia dari daftar. Katakan pada Fia, untuk tidak datang sementara ini. Ah, tidak. Biar aku yang menghubunginya dan Sonya," jawab Andra.


"Baik, Pak."


Tanpa membuang waktu, Andra segera menghubungi Fia. Memintanya untuk tidak datang ke kantor, sampai ia kembali menghubunginya. Kemudian, ia menghubungi Sonya, asisten pribadi sekaligus pengganti Fia di saat tak tertentu. Beruntung, Liana tidak pernah memeriksa laporan bulanan secara terperinci.


"Ada yang sudah mengatakan sesuatu pada Liana. Apa aku harus memindahkan Fia ke kantorku?" pikir Andra.

__ADS_1


Ia pun segera menuju perusahaan Liana. Andra ingin tahu, apa yang membuat istrinya itu memeriksa nama-nama orang yang menjabat manager di sana. Ia bahkan tidak mengerti, mengapa Liana menghindarinya.


Tiba di sana, ia segera menuju ruangan sang istri. Liana tengah mengecek daftar yang sudah diberikan sekretarisnya. Ia mengangkat pandangan, saat mendengar pintunya terbuka.


Hanya sesaat ia melihat. Kemudian, kembali fokus pada hal yang sedang ia kerjakan. Andra segera menarik daftar nama itu. Liana memejamkan mata sesaat. Ketika ia membuka mata, wanita itu menatap dingin pada sang suami.


"Apa yang kau lakukan?" tanyanya datar.


"Aku yang seharusnya bertanya. Kau pergi tanpa berpamitan. Sekarang, apa ini?" Andra mengacungkan kertas itu.


"Apa aku salah, jika ingin mengetahui siapa-siapa saja yang bekerja denganku?"


Andra terdiam mendengar jawaban sang istri. Tidak ada yang salah dengan apa yang Liana katakan. Sebagai pemimpin, sudah seharusnya ia mengenal para karyawannya. Paling tidak, para managernya.


"Atau, kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Liana lagi.


Andra semakin membisu. Ia mencoba untuk tidak terpancing dengan ucapan Liana.


"Tidak ada yang kusembunyikan darimu," jawabnya.

__ADS_1


"Baguslah!" Liana menarik kembali daftar nama itu, dari tangan Andra. "Karena, kalau sampai aku menemukan sesuatu yang kau sembunyikan, hubungan kita pasti akan berakhir di pengadilan agama!" lanjut Liana.


Ia tak menatap Andra sedikit pun. Kembali memfokuskan diri pada daftar nama itu. Sementara Andra mengepalkan tangannya kuat. Ia mendekati meja kerja Liana, kemudian mencondongkan tubuhnya.


"Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menceraikan mu! Camkan itu baik-baik!" desis Andra.


Pria itu segera berlalu dari hadapan Liana. Ada getaran aneh yang merasuk ke jiwa wanita itu. Namun, ia mengabaikannya.


***


Setelah mengecek nama-nama dalam daftar itu, Liana tak menemukan nama Fia di sana. Ia menghela napas kasar. Lelah memikirkan masalah yang menderanya.


"Apa aku terlalu terpengaruh dengan kata-kata dia?" tanyanya.


Liana memijit pelipisnya yang terasa sakit. Hari ini, ia merasa cukup lelah. Ia membuat secangkir kopi dan menyesapnya. Menatap langit biru yang terbentang di luar sana.


"Aku tidak masalah dengan jebakan Andra. Karena yang terpenting, aku bisa merebut apa yang menjadi milik mama. Tapi, aku hanya tidak ingin Fia bekerja di sini! Kalau pun dia memang bekerja di sini, aku bisa memindahkannya sebagai wakilku, bukan bawahanku." Liana bicara pada dirinya sendiri.


Liana berencana, memindahkan Fia sebagai wakilnya. Paling tidak, Fia bisa mengobati ayah mereka dengan gajinya yang cukup besar sebagai wakil direktur. Kesenjangan di antara mereka pun, tidak akan terlihat jauh.

__ADS_1


"Setidaknya, aku bisa membantu papa melalui Fia." Bulir bening itu lolos dari matanya.


Saat terdengar ketukan di pintu, Liana segera menghapusnya. Kemudian duduk di kursinya lagi. Sekretarisnya masuk dan menyerahkan berkas-berkas yang harus Liana tanda tangani.


__ADS_2