Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
Melibatkan Andra


__ADS_3

Liana kembali tertidur setelah menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan pihak kepolisian. Efek obat kembali bekerja, setelah dokter memberikan suntikan. Andra menitipkan Liana pada ibunya. Saat ini, ia akan membawa polisi menyusuri lingkungan tempat tinggal mereka.


Hartawan bahkan meminta anak buahnya berjaga di pintu masuk. Ia memerintahkan mereka, untuk tidak membiarkan siapa pun masuk selain Andra, dirinya, Silviana, dan Nino. Dokter yang akan memeriksa Liana pun, harus di dampingi oleh Nino.


Setelah memastikan keselamatan Resti, ia mengikuti langkah putranya. Mereka segera menuju rumah yang ditempati anak dan menantunya. Tiba di sana, pihak kepolisian segera menyisir tempat kejadian.


Fokus mereka, mencari benda yang dipakai untuk menusuk Liana. Mencari didik jari, yang bisa menjadi bukti kuat, untuk menangkap pelaku. Setelah mencari di sekitar, mereka menemukan sebuah pisau berlumur darah di antara semak-semak, yang tak jauh dari lokasi kejadian.


"Kamu akan memeriksa sidik jari dari benda ini," ujar salah seorang polisi.


"Baik, Pak. Terima kasih banyak untuk kerja kerasnya." Raka menyalami polisi tersebut.


Setelah memastikan mereka pergi, Hartawan menatap sekitar. "Tempat ini kurang aman Sepertinya, kalian harus segera mencari tempat tinggal dengan keamanan ketat," ujar Hartawan.


"Selama ini, tempat ini aman-aman saja," gumam Andra.


Hartawan berbalik menatap putranya tajam. "Kau mau menunggu hingga ada korban nyawa?"

__ADS_1


Andra tak mampu menjawab. Melihat Liana terbaring lemah di rumah sakit saja,ia sudah merasa bersalah. Andra tidak tahu, apa jadinya bila ia harus kehilangan Liana.


***


Beberapa hari kemudian, Liana mulai pulih. Keadaannya pun mulai stabil. Andra tak pernah sedetik pun meninggalkan Liana. Ia sengaja membawa pekerjaannya ke rumah sakit.


"Kamu ke kantor aja, Ndra. Aku gak apa-apa, kok, ditinggal. Papa juga sudah menempatkan anak buahnya, 'kan?" protes Liana.


"Gak masalah, Sayang. Masih bisa dikerjakan dari sini, kok," tolak Raka, "mereka itu licik. Bisa aja, mereka menyelinap dan melakukan hal yang jauh lebih berbahaya," lanjutnya.


"Ndra," panggil Liana.


"Hem," jawab Andra dengan dehaman. Pria itu terlihat masih fokus pada pekerjaannya.


"Apa Weni sudah tertangkap?" tanya Liana.


Andra mengangkat pandangan. Mata Liana dan Andra bertemu. "Sudah," jawabnya singkat.

__ADS_1


"Pantas dia menghubungiku puluhan kali," gumamnya.


Liana terkejut, saat Andra menarik ponselnya. "Tidak ada gunanya kita meladeni mereka. Biarkan saja mereka menjalani hidupnya seperti itu. Mungkin, itu hukuman atas kesalahan mereka di masa lalu," ucap Andra.


"Aku tidak memikirkan mereka. Aku hanya heran, melihat banyaknya panggilan di sana."


"Apa kamu mau merawat ayahmu?" tanya Andra.


Liana terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Jauh di sudut hatinya, ia ingin memaafkan kesalahan sang ayah. Namun, egonya tidak mengizinkan.


"Entahlah. Aku tidak tahu," jawabnya lirih.


Andra duduk di samping Liana. Memeluk pundak sang istri dan menariknya agar menyandar pada dada Andra.


"Setiap manusia pernah melakukan kesalahan. Selama aku menemui ayahmu, ia punya banyak penyesalan yang tak bisa ia jelaskan padamu. Bahkan, ia menyesali keputusannya meninggalkan kalian. Jika kau ingin memaafkannya, maka maafkan," nasihat Andra.


"Apa aku harus mencobanya?" Liana menatap Andra dalam. Seakan meminta pendapat dari sang suami. Sepanjang pernikahan mereka, ini kali pertama Liana meminta pendapat Andra dalam mengambil keputusan untuk kehidupan keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2