
Sudah tiga jam, sejak rapat dimulai. Andra tak lagi bisa duduk diam. Perasaannya mulai gelisah tanpa sebab. Pikiran Andra, bahkan sudah tertuju pada sang istri dan calon buah hatinya. Berkali-kali ia melihat ponsel.
Menjelang makan siang, Andra tak lagi bisa menahan diri. "Rapat ditunda. Saya ada urusan penting!" seru Andra pada peserta rapat, sebelum mereka break.
Andra tak lagi peduli dengan bisik-bisik yang terjadi, setelah dirinya meninggalkan ruang rapat. Ia segera menghubungi sang istri, untuk memastikan Liana berada di rumah. Namun, panggilannya tak tersambung.
Tak hilang akal, ia segera menghubungi mamanya. Tak lama, panggilan pun tersambung. Andra pun menceritakan kegelisahan yang ia alami.
"Ndra, mama tadi izinin Liana pergi. Dia bilang, ada rapat penting yang harus dihadiri. Mama jadi ikut khawatir."
Andra terpaku mendengar jawaban sang mama. Jantungnya berpacu lebih cepat. Tanpa sadar, ia memutus sambungan telepon dan berlari meninggalkan kantor. Dalam perjalanan, ia mencoba menghubungi asisten Liana.
"Halo, Pak."
"Fika, apa rapat sudah selesai?" tanya Andra.
"Sudah, Pak."
__ADS_1
"Apa Liana sudah pulang?" tanya Andra lagi.
"Sudah. Baru saja, mobil ibu keluar."
"Restoran mana yang dijadikan tempat meeting?"
Setelah mendapat jawaban dari Fika, Andra segera memacu kecepatan mobilnya. Ia menerobos kendaraan lain, bahkan hampir mencelakai dirinya sendiri. Pria itu terlihat tak peduli dengan nyawanya sendiri.
Belum sempat ia berbelok, sebuah mobil meluncur dari belokan dengan kecepatan tinggi. Sedetik saja ia terlambat, tabrakan yang tak terelakkan pasti akan terjadi. Andra mengumpat keras melihat pengemudi yang sudah berlalu itu.
Kembali, pria itu mengarahkan mobilnya melalui jalan tadi. Baru saja mobilnya bergerak, tatapan Andra terpaku pada mobil yang berhenti jauh di sana. Ia juga melihat Liana yang berjalan tertatih masuk ke mobilnya. Jantung Andra berdegup kencang.
***
Andra masih menunggu kabar dari Dokter yang memeriksa kondisi Liana. Sambil menunggu, ia menghubungi seseorang.
"Cari tahu pemilik mobil dengan nomor polisi B xxxx SF!" titah Andra.
__ADS_1
Setelah orang di seberang sana setuju, Andra memutus panggilan. "Jika sampai terjadi sesuatu pada istri dan anakku, akan kupastikan orang itu membayarnya mahal!"
Andra mengepalkan tangannya kuat. Tak lama, terlihat Hartawan dan Silviana datang. Silviana bahkan menyalahkan dirinya sendiri karena kejadian ini.
"Sudahlah, Ma. Ini bukan salah, Mama." Andra berusaha menenangkan ibunya.
"Ini salah mama. Seharusnya, mama gak biarin Liana keluar, sekalipun pekerjaannya sangat penting. Paling tidak, mama harus nunggu kamu pulang dulu," ucap Silviana di sela tangisnya.
Andra memeluk sang ibu erat. Pintu ruang pemeriksaan Liana terbuka. Mereka segera menghampiri Dokter yang menangani Liana.
"Bagaimana kondisi istri saya, Dok?" tanya Andra.
"Dia baik-baik saja. Janinnya juga selamat. Namun, perlu diperhatikan. Usia kehamilan Ibu Liana masih rentan mengalami keguguran. Saya sudah memberikan obat penguat kandungan. Akan tetapi, tolong hindari benturan keras seperti tadi." Dokter menjelaskan semua tentang kondisi Liana.
Andra terdiam. Ia tak menyangka, bila ada orang yang tega melakukan hal itu pada istrinya. Melihat sang putra yang tak menanggapi ucapan Dokter, Hartawan pun mengambil alih.
"Baik, Dok. Kami mengerti. Terima kasih," ucap Hartawan.
__ADS_1
Dokter segera meninggalkan mereka. Silviana segera memasuki ruang rawat Liana bersama Andra dan Hartawan. Saat ini, wanita itu sedang tertidur dengan wajah pucat. Andra mengusap lembut rambut sang istri.