Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
Berubah dingin


__ADS_3

Menghabiskan waktu bersama, adalah hal yang lumrah bagi pasangan pengantin baru. Seharusnya, saat ini Andra tengah merasa bahagia. Memeluk gadis yang ia cintai sepanjang waktu. Namun, pria itu harus bersabar. Sekalipun mereka bersama, sikap yang terlihat dari keduanya, hanya sebatas rekan kerja.


Andra tak mempermasalahkan hal itu. Ia menganggap, bila ini adalah masa penjajakan kembali. Berharap Liana merasa terbiasa dan kembali jatuh cinta padanya. Sudah hampir empat jam mereka melakukan pekerjaan bersama.


Sedikit demi sedikit, Liana mulai memahami pekerjaannya. Andra bahkan menyerahkan pekerjaan pada asistennya. Sementara Andra, mengerjakan dari jarak jauh.


"Sudah siang. Ayo, kita makan dulu," ajak Andra.


Liana melirik jam yang melingkar di tangannya. Kemudian, merapikan pekerjaannya dan mengikuti langkah Andra. Mereka menuju cafetaria kantor. Fia melihat kebersamaan mereka. Ia pun tersenyum melihat Liana bisa menerima Andra kembali.


"Semoga kau bahagia," gumam Fia.


Gadis itu segera menjauh dari tempat Andra dan Liana. Hanya Andra yang sempat melihat keberadaannya.


***


Tanpa terasa, senja berganti malam. Liana dan Andra sudah menyelesaikan banyak masalah perusahaan. Perlahan, kondisi perusahaan keluarga Liana, mulai membaik.


"Gimana, udah paham?" tanya Andra.


"Sudah. Besok, kamu bisa kembali ke kantormu. Tapi, kalau aku butuh bantuan, apa kamu mau bantu?" tanya Liana.


Andra tersenyum dan menganggukkan kepala setuju. "Ayo, kita pulang!" ajak Andra.


Ia sengaja menggandeng tangan istrinya lembut. Membiasakan kontak fisik antara mereka. Liana tidak menolak. Bagaimana pun, ia tahu mereka butuh waktu untuk terbiasa.

__ADS_1


"Mau makan dulu?" tanya Andra.


"Aku tidak lapar," tolak Liana.


"Kamu harus tetap makan. Sedikit tidak masalah." Andra mengusap lembut kepala Liana.


"Oke!"


Andra pun membelokkan mobil ke sebuah restoran. Mereka makan malam bersama. Selama makan, mereka masih membahas pekerjaan. Hanya itu, topik yang bisa Andra angkat. Ia tak ingin membahas persoalan pribadi, yang mungkin akan membuat hubungan mereka memburuk.


***


Satu bulan berlalu. Liana dan Andra semakin dekat. Andra berhasil membuat Liana tertawa dan menerimanya dengan baik lagi. Kedua orang tua Andra pun merasa senang dengan kemajuan itu.


Siang itu, Liana tengah bertemu dengan klien di sebuah restoran. Setelah selesai, ia pamit ke toilet sebentar. Namun, ia tak sengaja melihat keberadaan istri kedua sang ayah, yang kini bekerja sebagai cleaning service di sana.


Wanita itu meremas tingkat pelnya erat. Ia tak menyangka, akan mendapat penghinaan seperti itu. Liana mencuci tangannya. Saat akan melangkah keluar, wanita itu mulai membuka suara.


"Hah! Kau sendiri, masuk dalam jebakan pria itu. Kau pikir, bagaimana kalian bisa menikah? Dia yang mendatangi ayahmu, dan membujuknya untuk menyuruhmu kembali. Segala cara ditempuh, demi membuatmu kembali. Bahkan, merebut perusahaan kami!" desis wanita itu.


Liana terdiam sesaat. Otaknya mulai bekerja memikirkan kejadian sekitar dua bulan lalu. Semuanya kini terasa masuk akal. Namun, Liana mencoba untuk mengabaikan ucapan istri kedua sang ayah.


Liana berbalik menatap marah wanita itu. "Perusahaan itu bukan milik kalian. Itu milik keluarga ibuku! Camkan itu baik-baik!" geram Liana.


Tawa yang menggelegar memenuhi ruangan itu. Membuat Liana kembali menoleh. Kerutan di dahinya terlihat jelas.

__ADS_1


"Asal kau tahu, dia berniat membalas dendam padamu. Apa kau lupa, bagaimana kalian putus? Yang sebenarnya dia cintai adalah putriku!" ucapnya berapi-api.


"Jangan asal bicara, jika kau tidak memiliki bukti!"


"Kau tidak tahu, hanya saham milik Fia, yang tidak dia ambil. Karena itu, Dia masih bisa bekerja di sana. Mengurus ayahnya yang kini sudah cacat. Sementara kau, menikmati uang itu sendiri, tanpa peduli pada ayahmu!"


"Dia bukan ayahku!" pekik Liana. "Asal kau tahu, aku sengaja menahan Fia agar dia bisa melihat kejayaan ku. Sementara kalian, merasakan sulitnya hidup sepertiku dulu. Selamat menikmati kesengsaraan itu!"


Tak lagi ingin mempedulikan wanita itu, Liana berjalan cepat meninggalkan toilet. Tangannya mengepal erat, guna meredam amarah yang mulai memenuhi dada.


Sejujurnya, ia tak menyangka Andra yang merancang drama ini. Masalah Fia, Liana hanya mengarangnya saja. Ia mulai merasa ada yang aneh.


"Aku harus menyelidiki jajaran management," gumamnya.


***


Mulai malam itu, Liana tak lagi bersikap ramah pada Andra. Ia kembali bersikap dingin pada pria itu. Tak peduli, seberapa hangat Andra memperlakukannya. Perubahan Liana yang mendadak seperti ini, membuatnya bingung setengah mati.


"Liana, apa aku melakukan sebuah kesalahan? Coba katakan padaku. Mungkin aku bisa memperbaikinya," ujar Andra saat Liana akan masuk ke kamar.


Pria itu menahan lengan Liana. Helaan napas kasar terdengar dari bibir Liana. Ia segera melepaskan pegangan Andra di lengannya.


"Jangan sentuh aku!" ucap Liana tegas. "Ah, kamu tanya kenapa aku berubah? Mungkin kamu bisa mengintrospeksi diri. Dari sana, kamu akan tahu kesalahan yang mungkin sudah kamu lakukan!"


Liana segera masuk ke kamarnya. Meninggalkan Andra yang masih tertegun sendiri. Pria itu pun menatap nanar pintu kamar Liana yang tertutup.

__ADS_1


"Apa maksud ucapan Liana? Apa dia mengetahui sesuatu? Itu tidak mungkin!"


__ADS_2