
Satu minggu telah berlalu dalam ketenangan. Sejak Fia tertangkap, dan berada dalam pengawasan ayah dari Andra, Liana seakan memperoleh ketenangan hidup.
Hari ini, ia berencana melihat kondisi pria yang berstatus sebagai ayahnya di rumah yang ditempati Fia. Andra yang mengetahui hal itu, tak membiarkan Liana pergi sendiri. Ia pun mengantarkan sang istri pergi ke sana.
Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk tiba. Selain waktu yang masih terlalu pagi, hari itu adalah akhir pekan. Jalan tidak terlalu macet di saat seperti itu. Liana melihat sang ayah yang sedang duduk di kursi roda, seraya menatap kosong ke langit. Perlahan, ia melangkahkan kaki ke arah pria itu.
"Apa kau sedang memikirkan Fia?" tanya Liana.
Mendengar pertanyaan serta suara dari seseorang yang dikenalnya, Sandi menoleh. Air mata mulai tergenang di pelupuk. Liana hanya menatap datar pria di hadapannya. Beberapa detik kemudian, Sandi membuang pandangannya.
"Maaf, aku tidak bisa melindungimu. Sebagai pria yang seharusnya bertanggung jawab pada keluarga, aku gagal menjalankan tugas ini," ucapnya bergetar.
Andra yang sudah berdiri di belakang Liana, menatap sang istri. Wanita itu ikut menatap ke arah yang Sandi lihat. Tidak ada sahutan dari Liana. Ia memilih diam, dan membiarkan Sandi meluapkan perasaannya.
__ADS_1
"Aku bahkan tidak bisa membuat Fia menerimamu sebagai kakaknya. Meski aku tahu, dia bukan darah dagingku." Sandi menundukkan kepalanya.
Kata-kata terakhir Sandi, membuat Liana dan Andra mengalihkan tatapan mereka. Keduanya mengerutkan dahi.
"Bukan darah dagingmu?" ulang Liana.
Pria itu menganggukkan kepala dan menghela napas dalam. Kembali menatap langit yang menaungi mereka. Ia terkejut, saat mendengar suara tawa dari sang putri. Sandi pun menoleh.
"Lucu sekali. Baru kali ini aku mendapati orang tua, yang lebih menyayangi anak orang lain, dibanding anak kandungnya." Liana menatap Sandi nanar.
"Tapi, aku sedikit bersyukur kau tidak melindungiku. Paling tidak, aku bisa belajar cara melindungi diri sendiri. Hiduplah dalam penyesalanmu selamanya." Liana berbalik dan meninggalkan tempat itu.
Andra menatap Sandi sesaat, lalu menghela napas kasar. "Anda, terlalu bodoh untuk menjadi seorang ayah." Andra berbalik meninggalkan Sandi sendiri.
__ADS_1
Ia terkejut, saat tak mendapati Liana di sana. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari keberadaan Liana. Kemudian, mencoba membuka pintu mobil. Sayangnya, tidak ada jejak sang istri di sana.
"Ke mana Liana?" tanya Andra pada dirinya sendiri.
Pria itu segera mengambil ponsel dan menghubungi nomor sang istri. Satu, dua, tiga kali, tak juga ada jawaban. Rasa was-was mulai menghantui perasaan Andra. Lagi, ia mencoba menghubungi Liana.
"Halo," ucapnya ketika panggilan itu tersambung. Tida ada sahutan dari seberang sana. Yang ada, Andra hanya mendengar percakapan sang istri dengan seseorang.
"Jadi kau bisa meloloskan diri?" Andra mengerutkan kening mendengar pertanyaan dari sang istri.
"Ya. Karena aku, tidak akan sudih membiarkan dirimu hidup bahagia. Sedangkan aku, harus menderita."
Tanpa sadar, Andra mencengkeram ponselnya kuat. Sambil mendengarkan pembicaraan mereka, ia segera melacak keberadaan sang istri dengan GPS, yang sempat ia pasang di ponsel sang istri.
__ADS_1
Setelah itu, Andra mengikuti arah yang sudah ditunjukkan oleh GPS. Ia semakin terkejut, saat melihat keberadaan Sandi di sana. Sandi, Fia, dan Liana berada di pinggir jurang.
Apa mereka bekerjasama? Sial! Jika aku salah langkah, Liana akan terjatuh.