Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
Fitting


__ADS_3

Jantung Andra berdegup cepat. Pria itu menatap serius gadis yang bersedia menikah dengannya itu.


"Aku tidak ingin kita berada di kamar yang sama, sampai batas waktu yang tidak bisa kita tentukan. Paling tidak, sampai aku merasakan cinta itu lagi. Juga, percaya pada hubungan pernikahan kita," lanjutnya.


Andra kehilangan kata-kata. Ia tidak mengerti harus menjawab apa. Bila kebanyakan hubungan, pria lah yang berbuat hal seperti itu. Kali ini, justru wanita yang melakukannya.


"Kalau begitu, aku pulang dulu." Liana berbalik dan akan meninggalkan Andra yang masih terdiam.


"Apa termasuk dengan memiliki anak?" teriak Andra.


Liana yang sudah hampir mencapai mobilnya, berhenti. Ia menoleh sedikit dan mengangguk. Kemudian, melanjutkan langkahnya.


Andra menatap kepergiaan Liana. Tak lama, meninggalkan tempat itu juga.


***


Dua hari kemudian, Andra menemui Liana ke rumah yang ditempati gadis itu dengan ibunya dulu. Saat ia tiba, Liana pun baru saja sampai ke rumah itu.


"Masuk!" ajak Liana.


Gadis itu membukakan pintu rumah. Kemudian, mengambilkan minum untuk Andra. Setelahnya, ia duduk di hadapan pria itu. Liana menatap intens pria itu. Begitu pun sebaliknya.


"Aku terima semua syaratmu," ucap Andra, mengawali pembicaraan mereka.


Liana menganggukkan kepala mengerti. "Kalau begitu, kapan kau akan menginvestasikan dana itu?" tanya Liana.


"Berapa banyak yang kau butuhkan?"

__ADS_1


"Sekitar satu milyar," jawab Liana.


"Akan kuserahkan setelah kita menikah."


Liana terdiam memikirkan ucapan Andra. Setelah menikah? Memang kapan kami akan menikah? tanyanya dalam hati.


"Aku akan atur pernikahan kita. Termasuk pertemuan dengan ayahmu," lanjut Andra.


"Dia bukan ayahku!" Liana membuang pandangannya.


"Kau tidak perlu hadir dalam pertemuan itu. Biar orang tuaku saja. Bagaimana?"


"Terserah!" Liana beranjak dari duduknya.


Senyum Andra tercetak di wajahnya. "Kalau begitu, aku pamit. Tunggu kabar selanjutnya dariku," teriak Andra.


"Hubungan yang aneh! Terkadang, aku merasa seperti bersikap sebagai pemimpin. Kadang, dialah pemimpinnya," gumam Liana.


Gadis itu hanya mengendikkan bahu tak peduli. Kali ini, ia akan mengambil semua yang direbut oleh istri kedua ayahnya itu.


"Tidak masalah. Yang terpenting, perusahaan tetap menjadi milikku. Aku tidak akan percaya begitu saja pada orang-orang seperti mereka."


Liana mengusap foto sang ibu lembut. "Ma, Liana akan mengambil semua milik kita lagi. Bantu Liana mewujudkannya."


Kembali, Liana meletakkan foto itu di atas nakas. Kemudian, merebahkan tubuhnya yang lelah.


***

__ADS_1


Sudah lewat dua hari sejak kejadian Andra menerima syarat pernikahan dari Liana. Sampai detik itu, Andra tak lagi menghubunginya. Hal itu membuat Liana was-was.


Pasalnya, kondisi perusahaan semakin kritis. Selama Sandi dan Fia tak hadir, Liana lah yang memimpin perusahaan.


"Apa Andra berubah pikiran?" tanya Liana entah pada siapa. "Sial! Kalau begini terus, perusahaan akan gulung tikar dalam beberapa minggu ke depan!"


Liana terus membolak-balikkan berkas di tangan. Kepalanya semakin berdenyut nyeri, menghadapi permasalahan perusahaan. Dering ponsel pun terdengar. Melihat nama Andra, Liana menghela napas lega melihatnya.


Andra mengirimkan pesan padanya. Meminta Liana datang ke sebuah butik, untuk melakukan fitting. Liana pun membalasnya dengan kata 'ok'. Ia segera membereskan berkas di atas meja dan berlalu meninggalkan ruangan itu.


***


Andra memilih beberapa gaun untuk Liana bersama sang ibu. Saat Liana tiba, Ibu dari Andra tersenyum menyambutnya. Begitu pun Andra.


"Coba ini!" Andra menyerahkan empat macam gaun untuk Liana kenakan.


Liana yang tak peduli dengan apa yang akan ia kenakan, mengambilnya begitu saja. Kemudian, memasuki ruang ganti untuk mencoba gaun-gaun itu. Sambil menunggu Liana keluar, Andra kembali mencari gaun yang cocok untuk gadis yang akan menjadi istrinya itu.


Beberapa menit kemudian, Liana keluar menggunakan gaun yang pertama. Gaun tanpa lengan itu, berbentuk seperti payung di bagian bawahnya. Andra dan ibunya menatap Liana dari atas ke bawah. Keduanya dengan kompak menggelengkan kepala. Liana masuk ke ruang ganti lagi. Kali ini, ia mencoba gaun kedua.


Gaun itu bermodel off shoulder dengan panjang lengan tiga perempat. Panjang gaun tersebut, menutupi kaki Liana. Ia pun kembali keluar. Lagi, Andara dan ibunya menggelengkan kepala. Liana kembali masuk dan mencoba gaun ke tiga.


Kali ini jauh lebih simpel, tetapi cantik. Terlihat sangat pas dengan tubuh ramping Liana. Andra terpukau melihat kecantikan gadis itu. Begitu pun dengan sang ibu. Kali ini, mereka setuju dengan pilihan itu. Gaun dengan leher sabrina dan panjang hingga menutupi kaki jenjang Liana. Namun, gaun itu mengembang seperti duyung.


"Cantik," puji Andra.


Pria itu mendekati Liana dan mencuri kecupan di pipinya. Membuat wajah gadis itu memerah malu.

__ADS_1


"Andra!" delik sang ibu.


__ADS_2