
Dua bulan berlalu. Andra terlihat semakin manja. Di setiap kesempatan, ia selalu menempel pada Liana. Hubungan mereka pun terlihat semakin harmonis. Fia sendiri, seakan tak ingin mengganggu keduanya. Liana dan Andra berpikir, mungkin saja Fia sudah berubah. Kehidupan mereka pun lebih tenang.
Pagi itu, Liana akan menemui klien disebuah restoran. Sekretarisnya pun sudah melakukan reservasi di ruangan VIP. Entah apa yang terjadi, hingga Andra tak melepaskannya. Sejak bangun tidur, pria itu menempel bak perangko pada Liana.
Liana baru bisa bernapas lega, saat Andra mendapat panggilan untuk rapat penting dari perusahaan sang ayah. Sejak Liana hamil, Hartawan sudah menyerahkan tanggung jawab perusahaan pada Andra sepenuhnya.
"Loh, kamu mau ke mana, Sayang?" tanya Silviana.
"Ada sedikit urusan di kantor, Ma. Sebelum Andra pulang, Liana pasti udah sore, kok," ucap Liana.
Silviana hanya mampu menghela napas, mendengar ucapan sang menantu. "Ya, udah. Hati-hati, ya."
Liana menganggukkan kepala. Ia segera menuju restoran tempatnya melakukan janji temu dengan klien. Tiba di sana, asistennya sudah menunggu. Hampir satu jam, mereka membahas kerjasama yang akan terjalin. Setelah mencapai kesepakatan, mereka pun saling berjabat tangan.
__ADS_1
Liana kembali mendudukkan diri di ruangan itu, setelah mengantarkan kliennya. Ia kembali menyeruput jus yang tadi dipesannya. Sang asisten, hanya duduk dan menunggu.
"Sebaiknya, Ibu, segera kembali. Saya takut, bapak marah kalau tahu, Ibu, tidak di rumah," bujuk sang asisten.
"Sekali-kali gak apa, kok. Aku bosan di rumah. Butuh hiburan selain di kantor. Itulah alasannya, aku memintamu mereservasi restoran ini. Seandainya bisa, aku ingin mereservasi sebuah pulau. Sayang, aku tidak mau," ujar Liana.
Selesai menikmati jusnya, Liana dan sang asisten segera keluar dari restoran. Mereka menuju area parkir. Namun, Liana tak menyadari, bila seseorang tengah mengawasinya.
"Kamu bawa mobil sendiri?" tanya Liana pada sang asisten.
Mendengar jawaban asistennya, Liana terkekeh. "Ya, sudah. Aku duluan, ya," pamit Liana.
"Iya, Bu. Hati-hati."
__ADS_1
Liana pun mulai meninggalkan area parkir. Asisten itu, segera menuju mobilnya sendiri. Tak lama setelah Liana pergi, sebuah mobil mengikutinya dari belakang. Namun, wanita itu belum menyadarinya.
Ia mengemudi dengan santai, hingga saat sebuah mobil sengaja menabrak bagian bamper belakang, Liana baru menyadarinya.
"Sial! Siapa yang mencoba mencelakaiku?" tanyanya dalam hati. Beruntung ia bisa mengendalikan laju mobilnya. Wanita itu pun menghentikan mobil dan turun menghampiri. Ia mengetuk kaca mobil milik orang yang menabraknya.
Sayangnya, si pengendara tak berniat membuka kaca mobil. Ia bahkan segera meninggalkan lokasi hingga membuat Liana jatuh terjengkang. Wanita itu tak berniat mengejar. Saat ini, ia merasa perutnya sangat sakit karena terjatuh dengan posisi terduduk.
Liana mencoba untuk tetap tenang. Ia bahkan menarik napas dalam dan menghelanya perlahan. Liana terus melakukannya selama beberapa kali. Sayang, rasa sakit itu tak jua mereda. Ia pun mencoba berdiri perlahan. Keringat sebesar biji jagung mulai membasahi dahinya.
Ketika ia berhasil berdiri, Liana mencobs melangkah. Rasa sakit itu kembali menderanya, bahkan lebih sakit dari yang sebelumnya. Wajah Liana berubah pucat. Ia tetap berusaha masuk ke dalam mobil.
Dengan susah payah, ia akhirnya bisa masuk ke dalam mobil. Baru saja ia mengambil ponsel, sesuatu mengalir dari bagian intimnya.
__ADS_1
"Andra," ucapnya lirih.