Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
Mencari Liana


__ADS_3

Andra mengepalkan tangan kuat. Ia sama sekali tidak mengerti maksud dari Liana. 'Dia' siapa sebenarnya? Kenapa Liana sangat marah?


Andra yang tak mendapat jawaban atas pertanyaan itu, menyugar rambutnya kasar. Ia juga meninju angin. Membuat perasaannya semakin tak menentu. Kembali, Andra mengingat kejadian yang ia alami kemarin.


"Berpelukan? Kemarin aku tidak memeluk siapa pun," gumamnya.


Andra memukul roda kemudi keras. Namun, kejadian di jembatan terlintas dalam ingatannya. Ia pun menginjak rem dalam, hingga menyebabkan decitan keras dari ban mobilnya.


"Sial! Apa Liana melihat Fia memelukku? Bukankah kemarin Liana tidak ada di sana? Bagaimana bisa dia melihatnya?" gumam Andra.


Tak ingin menebak, Andra mengambil ponsel dan meminta asistennya mencari nomor pribadi milik Fia. Ia harus menghubungi gadis itu dan memastikan dugaannya.


***


Andra menunggu kedatangan Fia di sebuah restoran. Kebetulan, Fia sedang berada di restoran itu dan melakukan pertemuan. Lima belas menit kemudian, Fia sudah duduk di hadapan Andra.


"Ada apa kau menemuiku?" tanya Fia tanpa basa-basi.


Tatapan tajam Andra berikan padanya. Fia mengerutkan dahi melihat Andra menatapnya penuh intimidasi.


"Apa yang kau lakukan pada Liana?" tanya Andra penuh penekanan.


Kerutan di dahi Fia semakin dalam. Apa maksudnya? Memang apa yang ku lakukan? Apa dia sedang melantur? batin Fia.


"Memangnya aku melakukan apa?" tanya Fia balik.


Andra menggebrak meja keras. Membuat Fia berjingkat kaget. Gadis itu merasa, bila ada sesuatu yang salah saat ini.


"Tunggu! Katakan perlahan, jujur aku tidak mengerti maksudmu," ujar Fia.


"Kau ingin membuat hubunganku dan Liana hancur! Dan kau ... berhasil!" Andra bangkit berdiri meninggalkan Fia.


Fia terkejut mendengar pernyataan Andra. Ia pun mengejar Andra. Fia mencekal lengan Andra.


"Tunggu! Aku tidak pernah berpikir untuk menghancurkan hubungan kalian. Kenapa kau bicara seperti itu?"


"Liana bilang, dia melihat kita berpelukan. Kenyataannya, kau yang memelukku! Dari mana dia tahu kejadian itu, jika bukan kau yang memberitahunya?" desis Andra.


"Aku dan Liana sedang tidak bicara satu sama lain. Bagaimana aku bisa memberitahunya? Lagi pula, saat kejadian itu, aku baru bertengkar dengan Liana karena masalah lain!" tegas Fia.


"Kecuali, dia mengejarku dan melihat kejadian itu sendiri," imbuh Fia.


"Memangnya, apa yang kalian ributkan saat itu?"


"Jadi, Liana tidak mengatakan apa pun padamu mengenai hubungan kami yang sebenarnya?"

__ADS_1


Andra menggelengkan kepalanya. Melihat itu, Fia menghela napas kasar.


"Dia benar-benar menyembunyikannya," gumam Fia.


"Beritahu aku. Mungkin saja, aku bisa membuatnya kembali seperti dulu."


"Liana ... kakak tiriku. Karena hal itu, kami bertengkar. Dia bahkan memintaku untuk tidak perlu menemuinya lagi. Berharap hubungan kami selayaknya orang asing." Fia menghapus air mata yang jatuh berderai kasar.


Andra terdiam. Kali ini, masalahnya jauh lebih rumit. Beberapa detik kemudian, Andra lebih dulu beranjak dari sana. Fia hanya menatap punggung Andra hingga menghilang.


***


Entah sudah berapa puluh atau ratus Andra menghubungi Liana. Namun, Liana tak juga menggubrisnya. Hampir saja Andra membanting ponselnya, bila Nino tak mencegah.


"Lo kenapa, sih? Berantem sama pacar?" tanyanya.


"Liana minta putus," jawab Andra lirih. Pria itu mengusap wajahnya kasar.


"Alasannya?"


Andra menggelengkan kepala. Ia tidak bisa menyimpulkan apa pun masalah yang terjadi.


"Cerita aja. Siapa tahu gue bisa bantu," ujar Nino.


Nino terkejut mendengar cerita Andra. "Adik tiri?"


"Ya. Gue juga baru tahu hal itu sama seperti Fia."


"Sepertinya, dia cemburu."


Andra menoleh menatap Nino. Benarkah Liana cemburu? tanya Andra dalam hati.


"Tapi, mungkin lebih dari itu. Apa hubungan mereka baik?" tanya Nino lagi.


" Sepertinya tidak. Setahu gue, dia membenci ayahnya."


"Berarti, dia juga pasti membenci Fia."


Andra menyambar kunci mobilnya dan berlalu meninggalkan Nino. Ia bahkan tak menggubris panggilan Nino. Andra melajukan mobilnya menuju kediaman Liana. Tiba di sana, tanpa ragu ia mengetuk pintu rumah.


"Andra," sapa ibu dari Liana.


"Malam, Tante. Apa Liana ada?"


"Dia belum pulang. Masuk dulu." Ibu Liana menyampingkan tubuhnya, mempersilakan Andra masuk.

__ADS_1


"Apa kalian sedang bertengkar?" tanya ibu Liana, saat mereka duduk di uang tamu.


"Liana meminta putus begitu saja, Tante," jawab Andra lirih.


"Kenapa? Bukankah hubungan kalian baik-baik saja?"


"Andra tidak tahu. Tapi, dia tidak sengaja melihat saya dan Fia berpelukan." Andra menundukkan wajahnya.


"Sebelumnya, Fia dan Liana bertengkar. Liana bahkan meminta Fia untuk tidak menemuinya lagi. Bahkan, menganggapnya orang asing, bila mereka bertemu."


Ibu Liana memejamkan matanya rapat. "Dia begitu membenci ayahnya serta ibu dari Fia. Karena itu, saat dia tahu Dia saudara tirinya, Liana sangat marah. Dia akan memendamnya sendiri, dan berpura-pura semua baik-baik saja."


Andra menggenggam tangan ibu Liana lembut. "Maaf, Tante. Saya tidak bermaksud menyakiti Liana."


Ibu Liana menggelengkan kepalanya. "Bukan salah kamu. Semua ini salah Tante. Seharusnya, sejak awal Tante bisa mencegah semuanya. Paling tidak, masalah ini bisa kita hindari. Tapi, Tante terlalu egois dengan meminta Liana memaafkan ayahnya dan menerima Fia sebagai saudaranya. Sementara dia, diperlakukan dengan tidak adil oleh mereka."


Mendengar penjelasan ibu dari Liana, Andra mulai mengerti masalah yang terjadi antara Liana dan Fia.


"Biar Andra cari Liana dulu. Bagaimana pun, Liana tidak mungkin menyalahkan Tante atas masalah ini," ujarnya menenangkan.


Mendapat anggukan dari ibu Liana, Andra pun berpamitan. Ia akan ke club' milik Bianca dan Steven. Mencoba mencari Liana ke tempat itu.


***


Liana meneguk gelas demi gelas yang disiapkan Bianca untuknya. Bianca hanya menatap Liana bingung. Sejak masuk ke tempatnya, Liana seperti orang yang kehilangan arah. Gelas di tangan Liana beralih saat seseorang merebutnya paksa.


"Cukup! Jangan siksa diri Lo dengan cara begini!" Fia meneguk isi dalam gelas itu sampai tandas.


"Apa peduli Lo? Gak usah sok care! Gue benci dikasihani!" geram Liana.


Bianca tidak ikut campur. Saat Liana beranjak pergi, Fia ingin mengikutinya. Akan tetapi, Bianca melarangnya. Di sana, terlihat Andra yang menolong Liana.


"Lepas!" Liana menarik tangannya yang digenggam Andra.


"Kita harus selesaikan masalah kita!" seru Andra.


"Masalah kita sudah selesai. Sekarang, jangan pernah muncul di hadapan gue lagi!" Liana mendorong Andra sekuat tenaga.


Sayang, kondisinya yang mabuk, membuat Liana ikut terhuyung dan menubruk dada Andra. Tanpa pikir panjang, Andra menggendong Liana dan membawanya pergi. Tak peduli, bila Liana memberontak.


Perlahan, ia mendudukkan Liana di kursi depan dan memasang sabuk pengaman. "Diam di sini dan jangan bergerak! Atau aku akan membuat kakimu patah!" ancam Andra.


"Patahkan saja! Gue gak takut sama lo!" pekik Liana.


Namun, tubuh Liana tetap diam di tempatnya. Tak bergerak pergi atau pun menjauh. Liana merasakan dadanya sesak, hingga air matanya jatuh berderai.

__ADS_1


__ADS_2