
"Secepat itu?" tanya Andra tak percaya.
"Ya. Karena dia tidak akan menukar ayahnya tercinta dengan uang. Sekali pun, dia membutuhkannya," jawab Liana lirih.
Mendengar nada suara Liana yang lirih, membuat Andra menyadari, bahwa sang istri tengah memendam perasaannya sendiri. Apalagi, Liana memilih membuang pandangan jauh darinya. Ia pun menggenggam jemari Liana lembut.
"Kau tidak bisa selamanya memendam kebencian pada ayahmu. Suatu saat, kau akan menyesali apa yang kau lakukan saat ini," ucap Andra.
Liana menoleh, lalu menatap suaminya dalam. Membuat Andra menampilkan senyum terbaiknya. Tanpa sadar, setitik air mata jatuh dari sudut mata Liana. Melihat itu, Andra menghapusnya. Ia tahu, tidak mudah untuk Liana menyembuhkan luka yang ditorehkan sang ayah padanya. Namun, Andra yakin, hati kecil sang istri tengah berbicara lain.
Andra sadar, Liana adalah orang yang terlihat dingin dari luar, tetapi lembut di dalam hatinya. Sikap dingin yang ia tunjukkan, adalah bentuk perlindungan diri yang dibangunnya.
"Menangis lah, jika kau ingin menangis," ujar Andra.
"Tidak. Tidak ada yang perlu kutangisi."
Liana menatap tangan Andra yang masih menggenggam jemarinya. Terasa hangat dan menjalar hingga pembuluh nadinya. Hangat, gumamnya dalam hati.
Kemudian, Liana mulai membalas genggaman itu. Andra yang sejak tadi memperhatikan tatapan Liana, tersenyum merasakan genggaman tangannya terbalas. Apa kau sudah mulai luluh?
***
Beberapa hari kemudian, Liana sudah diizinkan pulang. Andra sengaja tidak datang ke kantor. Sementara orang tuanya, sudah menunggu di rumah mereka. Andra membantu Liana berjalan. Meski luka bekas operasinya sudah mulai mengering, tetapi luka di dalam masih butuh proses untuk sembuh secara sempurna.
Liana pun tak bisa bersikap seperti dulu. Saat ini, ia membutuhkan bantuan dari suaminya sendiri. Ia juga sadar, kehadiran Andra sangat berarti dalam hidupnya. Apa sekarang aku sudah jadi budak cinta? tanyanya pada diri sendiri.
__ADS_1
Cepat-cepat Liana menyingkirkan pikiran, yang menurutnya buruk itu. Mereka pun menuju pelataran parkir, dengan kursi roda yang Andra dorong.
"Liana," panggil seseorang.
Bukan hanya Liana yang menoleh, Andra pun ikut menoleh. Pasalnya, itu adalah suara seorang pria. Liana tersenyum pada pria itu. Sementara Andra, menatap sengit pria yang kini berdiri di hadapan mereka.
"Lo sudah mau pulang?" tanyanya.
"Hem." Liana menganggukkan kepala.
"Baru gue pengen jenguk lo," gerutunya.
Liana terkekeh mendengar gerutuan temannya itu. "Gue sudah tinggal di rumah sakit selama satu minggu. Salah lo sendiri, baru datang hari ini."
"Kalau begitu, lo ikut gue aja!" Ia akan mengambil alih kursi roda yang didorong oleh Andra.
Liana merasakan aura pertempuran di belakangnya. Ia pun menoleh dan mendapati perang tanpa adu mulut yang terjadi antara Andra dan Dilan. Liana menggaruk pelipisnya dengan ujung jari.
"Dilan, biar gue pulang sama Andra," ucap Liana menengahi.
"Maaf kami permisi dulu," pamit Andra dengan senyum mengejek ke arah Dilan.
Tak ada sahutan apa pun dari pria itu. Ia lebih memilih menatap sahabat serta suaminya itu hingga menghilang dari pandangan. Setelah itu, ia mengikuti mereka dari belakang.
"Kenapa mukanya begitu?" tanya Liana, saat mereka sudah meninggalkan rumah sakit.
__ADS_1
Raut wajah Andra, berubah drastis sejak bertemu dilan. Pria itu bahkan hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Ya sudah, kalau tidak mau bicara." Liana membuang pandangannya.
Andra melepas sabuk pengaman dan menarik wajah Liana, kemudian membungkam bibirnya. Liana terkejut, tetapi tak menolak. Ia bahkan membalas Andra. Sedetik kemudian, kesadaran Liana kembali. Ia pun menggigit kecil bibir Andra.
***
Sambil nunggu up, yuk, baca cerita salah satu teman literasiku☺️

Kepulangannya dari luar negri disambut oleh berita kebangkrutan perusahaan keluarga. Hanya ada satu pengusaha yang sudi menolong keluarganya.
Alice menyetujui pernikahan dengan cucu dari pengusaha Wijaya, meski harus mendapatkan perlakuan dingin dan kejam.
Perlahan keduanya menjalin hubungan baik, hingga membuat Alice berharap rumah tangga bahagia yang diimpikannya terwujud, namun semua hancur saat Kenan mengatakan akan menikahi mantan kekasihnya yang sedang hamil.
Apakah Alice menerima pernikahan kedua Kenan atau pergi jauh meninggalkannya dengan membawa separuh jiwa Kenan yang tumbuh didalam rahimnya?
Bagaimana perjuangan Kenan setelah mengetahui jika Alice tengah mengandung? Apakah tetap bersama kekasihnya atau pergi mencari sang istri?
Ikuti terus kisahnya, jangan lupa beri dukungan. Berikan kritik & saran yg baik.
__ADS_1
IG : frd_95
FB : Momy Idaq