Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
Masa lalu


__ADS_3

"Apa aku sendiri yang melakukannya?" tanya Liana.


"Ya," jawab Andra.


Ia memegang tangan Liana lembut. Menatap lekat ke dalam mata wanitanya. Berharap, ia bisa melihat seluruh isi hati Liana dari sana. Tak lama terdengar helaan napas dari mulut Liana.


"Aku mengalami trauma. Dulu, saat aku masih duduk di bangku SMA, Tante Maya meminta bantuanku. Dulu, aku belum mengenal siapa ibu dari Fia. Aku juga tidak tahu, siapa istri kedua ayahku. Aku hanya tak sengaja bertemu dengannya di sebuah hotel." Pandangan Liana terlihat menerawang.


"Saat itu, ia meminta bantuanku untuk masuk ke sebuah kamar di hotel itu. Dia bilang, dia meninggalkan berkas penting di sana. Aku pun membantunya."


Senyum getir terlihat di wajah Liana. Andra mengikuti langkah sang istri yang menatap jalanan di bawah sana.


"Tidak disangka, dia menjebakku. Rupanya, dia sudah menjualku pada seorang pria, yang lebih pantas menjadi ayahku!" Tangan Liana mengepal kuat.


Andra menggenggam tangan itu. Liana menoleh padanya. Dengan isyarat mata, ia meminta Liana melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


"Pria itu ingin memperkosaku. Aku melawan sekuat tenaga. Tapi, dia tidak terima. Akhirnya, ia memukuliku dengan membabi buta, bahkan ia mencekikku. Aku kesulitan bernapas. Saat itu, aku bisa melihat matanya yang begitu mengerikan."


Tubuh Liana mulai menggigil ketakutan. Napasnya juga mulai terasa berat. Andra merangkulnya. Membuat Liana tenang seketika.


"Kemarin, aku melihatnya lagi. Bayangan saat dia mencekikku, kembali hadir. Karena itulah, aku merasa seperti sedang berusaha melepas cengkeramannya di leherku." Liana mengakhiri ceritanya.


Andra tak melepas pelukannya. Ia terus mendekap Liana erat. Hatinya terasa sakit melihat kondisi mental sang istri.


"Boleh aku tanya satu hal lagi?" Andra masih mengusap punggung Liana, "kenapa saat aku menyentuhmu, trauma itu tidak terulang?" tanya Andra.


"Kau, tidak sekasar dia. Apa kau lupa, saat kau mengambilnya secara paksa, aku menatap ke dalam matamu?" tanya Liana.


Ia menatap mata Andra dalam. Pria itu terlihat mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Kemudian, menganggukkan kepala membenarkan ucapan sang istri.


"Matamu memancarkan cinta, bukan kemarahan. Di sana juga terlihat rasa frustasi. Kau bahkan tetap melakukannya dengan lembut, tanpa menyakiti fisikku," jelas Liana.

__ADS_1


"Meski awalnya aku sempat merasa gemetar ketakutan, tetapi itu hanya sesaat. Ketika kau tetap memperlakukanku dengan baik, perlahan reaksi tubuhku berubah tenang. Saat itu, aku pun tak lagi memberontak."


Andra menatap Liana lekat. Ia tak menyangka, bila malam itu Liana benar-benar menyerahkannya dengan sukarela. Rasa bersalah muncul dalam hati Andra. Ia pun kembali menarik Liana ke dalam pelukannya.


"Aku minta maaf pernah menyakitimu. Pernah mengambil hakku dengan paksa." Air matanya menetes mengingat kesalahannya.


"Kau tidak sepenuhnya salah."


"Apa kejadian itu, yang membuatmu tidak suka bersentuhan dengan laki-laki?"


Liana menganggukkan kepala. Masalah itu, memang membuatnya menutup diri dari setiap pria. Sekali pun mereka memiliki hubungan, ia tak akan membiarkan mereka melewati batasan. Sejak itu pula, ia membenci Maya. Sampai akhirnya, ia mengetahui bahwa wanita yang tega menjebaknya, adalah istri kedua sang ayah.


"Apa ayahmu mengetahui kejadian itu?" tanya Andra lagi.


Liana tersenyum hambar. "Bohong kalau dia tidak mengetahuinya. Tapi, apa yang bisa dia lakukan? Tidak ada. Dia bahkan membiarkan istri keduanya merebut harta yang mama miliki!"

__ADS_1


__ADS_2