Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
Kedatangan Silviana dan Hartawan


__ADS_3

Hartawan yang tengah membaca koran paginya merasa terusik. Pasalnya, sejak kemarin, sang istri terlihat gundah gulana. Wanita itu bahkan tak bernapsu, untuk sekedar mengisi perutnya.


Ia pun melipat koran dan menghampiri sang istri. Silviana yang sedang menatap taman di belakang rumahnya pun, tersenyum pada sang suami.


"Mama, masih mikirin Andra dan Liana?" tanya Hartawan.


Hanya anggukan yang istrinya berikan. Helaan napas Silviana, semakin terdengar keras. Hartawan mengusap punggung sang istri pelan.


"Sepertinya, terjadi sesuatu di antara mereka," ucapnya kemudian.


"Ma, bagaimana pun, mereka harus belajar menyelesaikan masalah rumah tangga mereka sendiri."


"Dari awal, mereka tidak pernah melibatkan kita, Pa. Hanya saat mereka menikah saja, kita terlibat. Selebihnya?" Lagi, terdengar helaan napas berat.


Perhatian mereka teralih, saat ponsel milik Hartawan berdering. Nama pengacara dari perusahaannya terlihat di sana. Hartawan pun sedikit menjauh dari sang istri.


"Ada apa menghubungiku sepagi ini?" tanya Hartawan, saat panggilan tersambung.


Hartawan mendengarkan setiap kata yang pengacaranya sebutkan. Air mukanya berubah marah. Pria itu pun, memejamkan mata sesaat.


"Terima kasih infonya. Oh iya, jangan buat dulu surat yang Andra minta! Biar saya yang urus!" Hartawan memutus panggilannya.


Pria itu menghampiri sang istri dan menatapnya dalam. Silviana mengangkat kedua alisnya, seakan bertanya 'ada apa?'. Hartawan meneguk salivanya pelan.


"Andra akan menggugat cerai Liana," ucap Hartawan.


Silviana membelalakkan mata tak percaya. "Papa, gak bohong, 'kan?" tanya Silviana lirih.

__ADS_1


"Pak Ferdi sendiri yang memberitahu papa," jawab Hartawan.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Silviana.


"Kita harus bertemu Andra!" putus Hartawan.


"Mama setuju. Mama siap-siap dulu," pamit Silviana.


Keduanya mulai bersiap menemui Andra. Mereka ingin mencari tahu alasan sang putra akan menggugat cerai Liana. Meski mereka tahu, sejak awal hubungan keduanya tak baik, tetapi Andra tak pernah mengambil keputusan sebodoh itu.


Setengah jam kemudian, mereka segera meluncur ke perusahaan milik Andra.


***


Andra tengah memeriksa beberapa dokumen pekerjaan saat pintu ruangannya terbuka. Wajah kedua orang tuanya pun terlihat. Hartawan dan Silviana duduk di sofa, tanpa dipersilakan. Andra pun menyusul mereka.


"Kenapa tidak menghubungi Andra, kalau Mama dan Papa ingin bertemu?" tanyanya.


"Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba kamu ingin bercerai?" tanya Silviana.


Tangis Andra pecah. Ia membalas pelukan sang ibu erat. "Andra sudah melakukan kesalahan, Ma. Andra menyakiti Liana sangat dalam," ucap Andra di sela tangisnya.


"Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Di dunia ini, tidak ada manusia yang sempurna. Kamu selalu punya, Mama dan papa untuk tempat bercerita. Sekarang, apa keputusanmu tidak terlalu gegabah?" tanya Hartawan.


Melihat wajah sang putra yang bersedih, membuat Hartawan menahan amarahnya. Menurutnya, tidak adil bila ia melepaskan amarah, tanpa mengetahui duduk permasalahan yang tengah dihadapi Andra.


"Coba cerita pada kami. Siapa tahu, mama dan papa bisa membantumu," pinta Silviana lembut.

__ADS_1


Andra pun menceritakan semua masalah yang terjadi dalam rumah tangganya. Mulai dari kebodohannya yang menemui Fia, hingga kejadian kemarin. Di mana ia mengambil paksa haknya.


Silviana dan Hartawan kehilangan kata-kata. Mereka tak tahu harus bicara apa pada putra semata wayangnya.


"Ini memang salahmu. Jika kau ingin mengenal seseorang, seharusnya kau dekai dia. Bukan mendekati orang lain," ucap Hartawan.


"Sudahlah, Pa. Tidak ada gunanya kita menyalahkan Andra. Sekali pun dia memang bersalah. Semua sudah terjadi. Sekarang, kita harus mencari cara agar mereka tak berpisah."Silviana menghela napas berat, "jadi, apa kalian akan bercerai?" tanya Silviana kemudian.


"Liana yang menginginkannya, Ma," jawab Andra.


Dari suaranya, Silviana dan Hartawan tahu, Andra berat melakukan hal itu. Namun, mendengar kesalahan yang Andra lakukan, mereka tidak tahu harus berbuat apa.


"Bagaimana ... jika mama bicara dengan Liana?"


***


sambil nunggu bab berikutnya, yuk, mampir ke karya teman ku👇👇



Blurb


Nama adalah doa. Hal itu telah diketahui semua orang.


Banyak orang yang memberi nama anaknya sesuai dengan karakter tokoh idola masing-masing. Sama halnya dengan pasangan Reyhan dan Laura yang memberi nama anaknya Salman Alfarisi.


Keduanya berharap kelak putranya mewarisi segala kebaikan yang ada pada diri salah satu sahabat nabi yang di jamin masuk surga itu.

__ADS_1


Namun apa jadinya, jika doa tulus itu di kabulkan Allah? Termasuk soal percintaannya.


Mau tau seperti apa kisahnya? Silahkan ikuti novel ini.


__ADS_2