
Begitu masuk, Andra segera mengunci pintu. Liana berbalik dan menatap Andra tajam. Pria itu terlihat tak gentar sedikit pun. Ia menyilangkan tangan di depan dada.
"Aku tidak sebodoh yang kau pikirkan," desis Liana.
ia berbalik dan mengambil ponsel. Mencari nomor seseorang, lalu menghubunginya. Andra hanya memperhatikan apa yang sang istri lakukan.
"Sudah kau cari di mana dia berada?" tanya Liana.
Entah dengan siapa dia berbicara. Hal itu membuat Andra sangat penasaran. Liana bahkan sengaja menatap pada mata sang suami.
"Bagus. Apa yang dia mau?" tanya Liana lagi.
Mendengar ucapan itu, Andra menatap bingung pada istrinya. Apa dia sudah menangkapnya?
"Jadi dia ingin bertemu denganku?" tanya Liana.
Tak lama, Liana memutus panggilan. Ia kembali mengambil tas tangannya. Andra segera menghadang langkah Liana. Keduanya saling menatap sesaat.
"Kau ingin menantang maut?" tanya Andra.
__ADS_1
"Tenang saja. Dia tidak akan berdaya melawanku," ucap Liana yakin.
"Sepertinya kau cukup percaya diri. Tapi, aku tidak akan mengambil resiko dengan mengorbankan calon anakku!" Andra menarik kunci kamar, lalu menyimpannya dalam saku.
Liana mengepalkan tangannya erat. "Jangan menguji kesabaran ku, Andra!" desis Liana.
"Aku tidak sedang mengujimu. Aku hanya melakukan tugas sebagai seorang ayah dan suami. Yaitu melindungi istri dan anaknya!" tegas Andra.
"Aku harus menemuinya dan mencari tahu alasan dia melakukan itu padaku. Dia akan terus menyakitiku, jika semua ini tidak diselesaikan," jelas Liana.
"Siapa yang membantumu? Dilan, atau orang lain?" tanya Andra penasaran.
"Kau tidak perlu tahu siapa orang yang membantuku," tolak Liana.
"Pergilah, Liana. Anak buah papa akan mengikutimu," ucap Hartawan.
"Pa!"
"Terima kasih, Pa. Liana pergi dulu," pamit Liana. Ia pun melewati Andra begitu saja.
__ADS_1
Sayangnya, Andra tak membiarkan Liana pergi dengan mudah. Ia menahan lengan sang istri, hingga Liana menghentikan langkahnya.
"Aku ikut!" putus Andra.
Hartawan memberi jalan pada pasangan itu. Ia segera menghubungi anak buahnya untuk mengikuti mobil mereka. Andra mengambil alih kemudi. Setelah memastikan Liana menggunakan sabuk pengaman, Andra mulai memacu mobil.
Liana memberitahu lokasi yang ia jadikan tempat untuk mengeksekusi orang yang hampir membunuhnya. Dalam waktu dua jam, mereka tiba di sebuah rumah tua, yang jauh dari pemukiman warga. Beberapa orang pria berbadan tegap menyambut dirinya.
Andra dan Liana masuk ke dalam rumah itu. Mereka memasuki sebuah ruangan, di mana seorang wanita terikat di sana. Liana memberi isyarat, agar mereka membuka penutup mulutnya.
"Jadi benar kau selamat?" tanyanya.
"Apa kau berharap aku mati? Tidak semudah itu saudari tiriku." Liana berjalan mengitari Fia.
Sebelumnya, Andra sudah mengetahui siapa pemilik mobil itu. Ia hanya tak habis pikir, bila Fia tega melakukan hal itu pada orang yang sudah menjadi sahabatnya selama bertahun-tahun.
"Kau lihat wajah asli wanita yang kau nikahi, Andra? Bukankah sudah kukatakan, bila dia adalah orang yang kejam?" Fia menatap Andra.
Andra menghela napas dalam. "Seandainya Liana belum bertindak, sudah pasti aku yang menangkapmu. Kau pikir, aku tidak mencaritahu siapa orang terlibat dengan kasus ini?"
__ADS_1
"Hah! Kau ingin membunuhku? Lalu bagaimana dengan ayahmu?" tanya Fia. Kali ini, ia mengalihkan tatapannya pada Liana.
"Terlalu mudah untuk membunuhmu. Aku yakin, karma akan datang padamu," jawab Liana.