Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
Pergilah


__ADS_3

Dahi Andra berkerut tajam mendengar pertanyaan Dilan. "Kenapa kau bertanya seperti itu? Masalah ini tidak ada hubungannya dengan Fia!"


Dilan ingin sekali menertawai Andra. Terlihat jelas dari wajahnya yang menahan tawa itu. Pada akhirnya, Dilan hanya terkekeh. Membuat Andra semakin geram.


"Apa kau itu buta? Fia itu menyukaimu, dia juga adik tiri Liana. Sementara istrimu, jelas membenci perselingkuhan. Dasar bodoh! Kau sengaja memancing emosi Liana," maki Dilan.


"Aku tahu. Tapi aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Fia!" elak Andra.


"Lalu, untuk apa kau menemuinya?" tanya Dilan. Pria itu terlihat sangat kesal bicara dengan Andra.


Andra pun memberitahu, bila ia mencari informasi tentang Liana dari Fia. Semua itu, dia lakukan untuk mendapatkan hati Liana. Mendengar alasan Andra, Dilan berdecih keras.


"Benar-benar bodoh! Jika kau ingin mengenal Liana, kau harus mendekati orangnya secara langsung. Bukan mendekati orang yang justru Liana benci. Yang ada, kalian hanya akan diadu domba!" geram Dilan.


Hilang sudah kesabaran yang sejak tadi Dilan pertahankan. Bagaimana bisa, Liana jatuh cinta pada laki-laki seperti ini? batinnya.


Sementara Andra terdiam mendengar kata-kata Dilan. Dilan benar, aku ini bodoh! Seharusnya, aku mendekati Liana. Mengajaknya kencan seperti yang dia inginkan, bukan yang Fia rancangkan. Sepertinya aku sudah salah melangkah selama ini.


Andra mengacak rambutnya sendiri. Kemudian meninggalkan cafe itu. Dilan hanya menatap kepergian Andra dan menggelengkan kepalanya.


***

__ADS_1


Liana baru saja selesai membersihkan diri. Ia masih merasakan sakit di bagian inti tubuhnya. Ia duduk perlahan di depan meja rias. Ia bisa melihat, banyaknya kissmark yang Andra ciptakan di bagian lehernya.


Pintu kamar pun terbuka. Liana menoleh sesaat, sebelum akhirnya membuang pandangan dari sang suami. Andra mendekati sang istri perlahan. Berjongkok di hadapannya, lalu menggenggam tangan Liana.


Wanita itu tak ingin menatap Andra. Hatinya masih terasa sakit karena perlakuan Andra semalam. Pria itu memaksa dirinya melayani hasrat yang Andra tahan selama pernikahan mereka.


"Aku minta maaf. Aku tahu, aku sudah melakukan kesalahan besar. Maaf," ucap Andra lirih.


"Aku tidak akan pernah memaafkanmu!" jawab Liana tegas.


Seakan tak peduli, Andra terus meminta maaf pada sang istri. "Maaf, karena aku tidak bisa mengerti dirimu. Aku juga selalu melanggar janjiku." Andra menjatuhkan kepalanya di paha sang istri.


Liana bergeming. Ia juga belum mau menatap sang suami. Andra tak memaksanya. 


Mendengar kata 'foto', Liana mengalihkan tatapannya pada Andra. "Aku tidak butuh penjelasanmu!" Liana menarik tangannya.


"Aku akan tetap menjelaskannya. Masalah ini, sudah kita abaikan selama dua tahun. Kali ini, kita harus menyelesaikannya!" ujar Andra.


Liana menutup matanya sesaat. "Sudah dua tahun. Kau baru akan menyelesaikannya? Lupakan!" 


Liana beranjak dari meja rias. Ia meringis, saat rasa nyeri itu kembali. Sebisa mungkin, ia menutupi rasa sakitnya. Sayang, Andra lebih dulu melihatnya. Ia menggendong Liana dan mendudukkannya di atas ranjang.

__ADS_1


"Kali ini, aku akan menepati janjiku. Beri aku waktu, untuk bisa menunjukkan rasa cintaku. Kali ini, kau sendiri yang tentukan," bujuk Andra.


"Waktu? Dua tahun kau melakukan semua yang tidak kusuka. Kau sudah tahu, aku sangat membenci perselingkuhan. Aku tahu, kau tidak menyukai Fia. Tapi, apa kau tahu, bila semua yang kau lakukan padaku, adalah impiannya?" tanya liana


Andra tertegun mendengar penjelasan Liana. Tubuhnya melemas. Apa yang Dilan katakan tadi, semua benar adanya. Fia, tengah mengadu dombanya.


"Hadiah mahal, makan malam romantis, liburan ke luar negeri, buket-buket bunga yang kau kirim hampir setiap hari. Aku sampai muak dengan semua itu. Asal kau tahu, Fia tidak tahu apa-apa tentangku!" lanjut Liana.


Liana menghela napas dalam, kemudian menatap Andra tajam. "Sekarang, waktumu sudah habis. Sudah saatnya kau melepasku!"


Pandangan Andra terangkat. Ia menatap Liana tak percaya. Keduanya saling menatap satu sama lain.


"Aku tidak akan menceraikanmu. Kau boleh pergi kemana pun kau mau. Tapi, tidak dengan perceraian. Kau, tetap milikku. Tenangkan dirimu dan bersembunyi sejauh mungkin dariku. Aku tidak akan mencarimu. Satu tahun. Cukup satu tahun. Setelah itu, aku sendiri yang akan mencarimu. Saat aku menemukanmu, kau harus kembali padaku," jawab Andra.


Tidak terdengar nada sarkas atau marah dari Andra. Pria itu berucap datar tanpa ekspresi. Liana terbahak mendengar kata demi kata yang sang suami ucapkan. Dia membebaskannya, tetapi tidak menceraikan dirinya.


Andra mengecup kening Liana lembut, membuat Liana menghentikan tawanya. Kemudian, pria itu mengeluarkan beberapa kartu untuk sang istri dan menyerahkannya.


"Ambillah. Kau boleh memindahkan semua uang dari dalam kartu ini. Membuat rekening baru atau apa pun. Aku tidak akan melacak penggunaanmu, sekali pun lau menggunakan kartu itu," ucap Andra.


Liana hanya menatap Andra tak percaya. Pikirannya mulai menebak-nebak isi pikiran sang suami. Tak mendapat tanggapan dari Liana, Andra meletakkan kartu-kartu itu di atas nakas. Ia pun berbalik, hendak meninggalkan sang istri. Langkahnya terhenti, sebelum membuka handel pintu.

__ADS_1


"Perusahaanmu, akan kuambil alih. Anggap ini me time untukmu. Kali ini, aku akan menepati janjiku. Kalau kau ingin menyelidiki keseharian ku pun, silakan."


Andra melanjutkan langkahnya dan pergi. Tanpa sadar, air matanya jatuh berderai. Ada sesuatu yang menusuk jantungnya.


__ADS_2