Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
Kecurigaan


__ADS_3

Silviana dan Hartawan, sudah mendengar kejadian yang menimpa menantu mereka. Keduanya segera menuju kantor polisi, untuk memastikan kondisi Liana. Tak peduli, berapa banyak wartawan yang menunggu mereka di luar sana.


Sebagai seorang konglomerat, jelas saja berita sekecil apa pun akan menjadi sorotan publik. Namun, mereka tidak takut sedikit pun. Tiba di kantor polisi, Hartawan segera menemui kepala polisi. Berusaha untuk membebaskan Liana dengan jaminan.


Namun, sayangnya mereka tidak bisa melepas Liana karena ada tiga korban lain. Hartawan tak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini. Ia pun pamit, untuk menemui Liana. Di sana, sudah ada sang istri.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Nak?" tanya Ibra.


Liana menghampiri ayah mertuanya. Mencium punggung tangan pria paruh baya tersebut, sebelum menjawab. Kemudian, ia pun menceritakan kronologisnya secara runut. Sampai titik di mana ia dan Fia memperebutkan senjata, hingga berakhir dengan sebuah kecelakaan.


"Lalu, apa yang Andra lakukan?" Hartawan cukup penasaran dengan apa yang terjadi.


"Andra membantuku keluar dari sana. Tapi, saat aku dan Fia berebut pistol, dia hanya menatap bingung pada kami. Mungkin, dia takut."


"Dasar berandal tengik! Terlalu lemah. Padahal, papa sudah memberikan dia bodyguard terbaik." Hartawan terlihat geram.


"Sudah, Pa. Mungkin benar yang liana katakan. Apalagi, saat itu merekas sedang memperebutkan sebuah senjata." Silviana mencoba menengahi.

__ADS_1


Sayangnya, hal itu semakin menyulut emosi Hartawan. Membuatnya mengumpat, demi menyalurkan emosi.


"Lebih baik saat itu, dia yang tertembak. Paling tidak, masalah ini tidak akan terjadi! Entah kemana pikiran anak itu! Otaknya hanya cerdas dalam berbisnis. Tapi tidak dalam urusan hati!"


Dalam hati, Liana membenarkan ucapan ayah mertuanya. Andra memang cerdas dalam melihat peluang usaha. Ia juga mampu mengembangkan usahanya dengan waktu singkat. Namun, untuk urusan hati, dia adalah orang paling bodoh.


***


Di tempat kejadian perkara, para polisi menemukan sebuah ponsel. Ponsel tersebut adalah benda yang Dilan temukan sebelumnya. Andra mengerutkan dahi, saat melihat ponsel tersebut.


Andra merasa ada yang aneh. Dari kejauhan, Dilan tersenyum melihat kebingungan di wajah pria itu. Keduanya kembali memfokuskan diri pada pemeriksaan yang sedang dilakukan pihak kepolisian.


Hampir satu jam pihak kepolisian menyisir tempat itu. Kemudian, baru meninggalkan tempat kejadian. Setelah memastikan mereka menjauh, Andra keluar dari tempat persembunyiannya.


"Sial! Harusnya aku bisa menemukan sesuatu dari ponsel itu!" ucap Andra kesal.


"Dan merusak bukti?"

__ADS_1


Pertanyaan itu membuat Andra menoleh. Dilan bersedekap, menatap Andra dengan senyum mengejek. Kedua alis Andra mengerut, melihat kehadiran Dilan.


"Kenapa? Kau ingin bertanya tentang keberadaanku di sini?" tanya Dilan.


Andra tak menggubris. Ia kembali mencari bukti, yang mungkin terlewat oleh pihak berwajib. Melihat Andra mengacuhkannya, membuat Dilan terus mengejek.


"Lo itu terlalu bodoh. Tidak pantas untuk Liana. Sebaiknya, lepaskan Liana. Paling tidak, dia akan lebih aman tanpa lo," lanjut Dilan.


"Tutup mulut lo! Jangan coba-coba menghasut Liana, untuk bercerai dari gue!" Andra menunjuk Dilan. Tatapannya terlihat tajam.


"Cepat atau lambat, kalian pasti akan berpisah. Haya tinggal menunggu waktu saja, sampai Liana menyadari kebodohannya memilih lo!" Dilan pergi meninggalkan Andra.


Melihat itu, Andra mengepalkan tangannya kuat. Mencoba menetralkan amarah yang membuncah di dada. Tunggu! Apa mungkin Fia dan Dilan bekerja sama? Aku harus menyelidiki Dilan juga!


Andra, mulai menaruh curiga pada Dilan.


__ADS_1


__ADS_2