
Matahari mulai meninggi, saat Andra bergerak dan membuka matanya. Ia menatap Liana yang masih terpejam. Pria itu pun melepas genggaman di tangan Liana. Menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku. Kemudian, berjalan keluar meninggalkan ruang rawat.
Perutnya sudah meronta meminta diisi. Tak lama setelah Andra keluar, Liana membuka matanya. Tubuhnya masih terasa sangat lemah. Ia menatap pintu ruangan yang kiniĀ sudah tertutup.
Aku harus keluar dari sini sebelum Andra datang, gumamnya.
Perlahan, Liana mendudukkan dirinya. Ia mencabut selang infus yang terpasang di lengannya kasar. Kemudian, bergegas meninggalkan ruangan itu. Baru saja ia berjalan menuju pintu, napas Liana sudah tersengal-sengal.
Liana menguatkan diri dan melanjutkan keinginannya. Ia terus berusaha keluar dari sana secepat mungkin. Liana tak menghiraukan bulir keringat yang sudah membasahi tubuhnya. Semua itu, karena ia terus berusaha pergi dari rumah sakit tanpa diketahui Andra.
***
Andra kembali ke ruang rawat Liana. Begitu pintu terbuka, ia menyadari bahwa Liana tak ada di atas ranjang. Ia melangkah ke arah toilet, tetapi gadis itu tak ada.
"Kemana dia?" tanya Andra pada dirinya sendiri.
Pria itu segera menuju meja perawat. Mungkin saja, di antara mereka ada yang melihat keberadaan Liana. Hanya ada dua orang yang berjaga di sana.
"Suster, maaf. Apa lihat pacar saya keluar dari ruang rawatnya?" tanya Andra.
"Kami baru selesai memeriksa ruang lain. Jadi, tidak memperhatikan. Apa tidak ada di toilet?" Perawat mulai terlihat panik.
"Kalau saya temukan di toilet, untuk apa saya bertanya di sini?" Andra berbalik dan meninggalkan perawat yang terlihat panik tadi.
Ia mencari ke tempat yang mungkin Liana lalui. Matanya terus menelusuri seluruh rumah sakit. Bodoh. Kenapa aku tidak mengecek cctv saja?
Andra bergegas menuju ruang cctv. Namun, langkahnya terhenti karena penjaga tidak mengizinkannya masuk. Andra memukul angin, guna menyalurkan rasa kesalnya. Ia pun mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
"Halo, kasih gue wewenang untuk memeriksa cctv!" ucap Andra. Tanpa basa-basi, ia memutus panggilan sepihak.
Beberapa menit ia terlihat gelisah dan mengecek ponselnya. Saat berdering, ia segera mengangkatnya. Entah apa yang dibicarakan orang di seberang sana, hingga membuat Andra menerobos masuk ke ruang cctv.
"Tunjukkan padaku rekaman cctv ruang mawar," titahnya.
Tak lama, seseorang masuk ke sana. Ia menepuk pundaknya. Andra menoleh sesaat, kemudian kembali menatap layar cctv.
"Ada apa? Apa yang lo cari?" tanya Nino.
Nino, adakah pewaris rumah sakit tempat Liana di rawat. Karena itu, Andra menghubunginya untuk meminta akses melihat cctv.
"Liana menghilang dari ruangannya," jawab Andra tanpa menoleh.
Pandangannya masih terfokus pada layar cctv. "Sorot bagian ini!" titah Andra kembali.
__ADS_1
"Dia akan keluar!" seru Nino panik.
"Minta bagian keamanan di pintu keluar menghalanginya. Cepat!" pekik Andra.
Ia segera menuju lift khusus, yang biasa digunakan oleh Nino. Tiba di lantai dasar, Andra segera menuju pintu keluar. Di sana, Liana masih ditahan oleh keamanan.
"Lepas! Saya mau pulang!" berontak Liana.
Andra menangkap lengan Liana dan membalik tubuh gadis itu. "Apa kau mencoba kabur dariku?" tanya Andra pelan.
"Lepas! Gue mau pulang!" Liana mengabaikan pertanyaan dari Andra.
"Nanti, setelah kondisimu pulih!"
Tak mempedulikan keinginan Liana, Andra menggendong dan membawanya kembali ke ruang rawat. Liana terus berontak. Namun, Andra tak menghiraukannya.
Andra meletakkan tubuh Liana perlahan. Perawat yang melihat kedatangan mereka tadi, segera memasang selang infus kembali. Liana membuang pandangan dari Andra. Ia merasa sangat kesal pada pria itu.
"Terima kasih, Sus," ucap Andra.
Perawat itu hanya tersenyum dan keluar dari ruang rawat. Andra duduk di samping Liana. Mengambil jatah makan siang yang telah disiapkan oleh pihak rumah sakit. Pintu kembali terbuka. Kali ini, Nino yang masuk.
Pria itu menghela napas kasar melihat sikap Liana yang seakan menolak kebaikan sepupunya, Andra. Ia pun menarik nampan dari tangan Andra dan menyuapkannya pada Liana.
"Makan!" perintah Nino.
"Aku tidak mau!" tolak Liana.
"Apa dengan cara begini, Lo bisa bangunin Tante dari kuburnya? Ah, atau Lo berniat nyusul Tante ke alam baka?" sewot Nino.
"Nino!" pekik Andra. Ia menatap tajam sepupunya itu.
"Apa? Gak ada yang salah dengan ucapan gue. Selama dia masih ada di sini, dia pasien gue!"
Andra menghela napas kasar. Sepupunya itu, jauh lebih keras kepala dibanding Liana. Lihat saja, caranya memaksa Liana makan.
"Dengar! Mamamu, tidak akan suka kau terlihat lemah seperti ini."
"Apa peduli lo? Apa pun gue lakukan, bukan urusan lo!" desis Liana.
Nino terperangah. Liana yang ia kenal, sudah berubah 180 derajat. Melihat Nino yang kehilangan fokus, ia pun mendorong nampan yang dipegang pria itu. Nampan itu terjatuh.
Andra dan Nino menatap nanar makanan yang terbuang itu. Liana segera merebahkan tubuhnya. Menarik selimut dan menutupi seluruh tubuh.
__ADS_1
Melihat sikap Liana yang tak bersahabat, membuat Nino semakin geram. Andra menahan sepupunya, agar tak bertindak bar-bar pada wanita. Nino mendengus kesal dan memilih keluar dari ruang rawat Liana.
Helaan napas kasar terdengar dari mulut Andra. "Kenapa kau seakan memusuhiku? Jika karena masalah waktu itu, bukankah aku sudah minta maaf?"
"Udah gue maafin!" ketus Liana tanpa menatap Andra.
"Lalu, kenapa kau masih bersikap seperti ini?"
"Gue udah gak mau punya hubungan apa pun sama lo atau siapa pun!"
"Tidak bisakah kita memulai segalanya dari awal lagi?"
"Tidak!"
Lelah membujuk, Andra memilih memberi Liana ruang untuk berpikir. "Kalau begitu, istirahatlah. Aku dan Nino tidak akan mengganggumu. Setelah pulih, kau bisa keluar."
Pria itu segera melangkah keluar dari ruang rawat Liana. Mencoba memberi ruang pada gadis yang masih bertahta di hatinya.
***
Beberapa hari kemudian, Liana sudah diizinkan pulang. Andra sudah mendapatkan informasi dari orang yang Nino tugaskan menjaga Liana. Tak ingin Andra menjemputnya, Liana memilih pergi lebih dulu dari sana.
Namun, belum sempat Liana meninggalkan rumah sakit, ibu dari Fia datang ke ruangannya. Liana mendesah lelah. Entah apalagi, mau wanita itu. Tidak puaskah dia melihat penderitaan Liana?
"Aku tidak akan bicara dua kali. Pergi dari kota ini diam-diam. Aku tidak mau kau kembali menyusahkan ayahmu. Apalagi putriku. Kematian ibumu saja, sudah menyita uang dan waktu mereka!"
Mendengar ucapan wanita itu, Liana tertawa remeh. "Kau takut aku menginginkan bagianku?" desisnya.
"Bagian? Kau tidak pernah memiliki bagian dari harta suamiku! Camkan itu baik-baik!" Ia menunjuk wajah Liana.
"Kalau begitu, berikan uang yang pernah kau terima, dari hasil menjual diriku dulu!"
"Uang apa? Kau saja lari, dari mana aku bisa mendapatkan uang?"
"Ah, begitu? Sepertinya, kau jauh lebih cocok menjadi seorang mucikari, dibanding seorang istri," ejek Liana.
"Jaga mulutmu!" pekiknya dengan mata melotot lebar.
"Kau yang lebih dulu mencari perkara denganku."
Liana menabrak bahu wanita itu dan meninggalkan ruangannya. Cukup lelah menghadapi wanita yang pandai dalam memanipulasi orang lain. Liana menjatuhkan tubuhnya lemah, begitu tiba di rumah. Tanpa terasa, air mata jatuh menetes membasahi pipinya, saat teringat kejadian tadi di rumah sakit.
"Lebih baik aku meninggalkan kota dan rumah ini. Terlalu banyak kenangan pahit dan manis secara bersamaan," gumamnya.
__ADS_1
Ia pun membereskan barang-barangnya dan pergi diam-diam. Ia mampir ke tempat pemakaman sang ibu lebih dulu.
"Ma, suatu saat, Liana akan kembali menjenguk mama. Maaf, Liana harus pergi. Sampai jumpa."