Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
Menemui Liana


__ADS_3

Hari-hari berlalu dengan cepat. Kondisi Liana perlahan mulai membaik. Ia bahkan sudah kembali beraktifitas seperti biasa. Andra sendiri, masih penasaran dengan kejadian yang menimpa sang istri terakhir kali.


Beberapa kali ia mencoba bertanya. Sebanyak itu pula Liana menghindar dari pertanyaan. Pada akhirnya, Andra meminta bantuan sang ayah, untuk menyelidiki masa lalu Liana. 


Sementara itu, Maya berusaha untuk membujuk Fia. Berharap putri semata wayangnya akan menyelamatkan dia dari sana. Namun, Fia mengaku tak bisa membantunya. Rasa benci pada Liana pun semakin bertumpuk dalam wanita itu.


Siang itu, seorang pria datang mengunjunginya. Saat melihat siapa orang yang ingin mengunjunginya, ia tersenyum.


"Lama tidak bertemu, Tuan," sapanya.


Pria itu tak menjawab. Ia hanya terus menatap wanita di hadapannya. Kemudian, mengeluarkan sesuatu dari balik jas. Itu adalah foto Liana. Setelah melihatnya, Maya menatap pria itu kembali.


"Dia sudah menikah. Jadi, aku tidak bisa memberikan dia padamu lagi. Dia pasti sudah tidak suci. Lagi pula, mertuanya adalah orang yang cukup berpengaruh dalam perekonomian negara," jelas Maya.


"Bagaimana jika ditukar dengan putrimu?" tanyanya dengan wajah datar.


Kedua mata Maya terbelalak. Amarah mulai menguasainya. Ia menggebrak meja dengan kuat.


"Jangan pernah sentuh putriku!" desisnya.

__ADS_1


"Kau harus memberikannya, untuk membayar semua hutang-hutangmu. Ingat, aku menginginkan sesuatu yang original!" Pria itu menarik kembali foto Liana.


Maya berteriak memaki pria yang sudah berlalu darinya. Namun, pria itu seolah tak menggubris setiap ucapan Maya. Ia terus berlalu meninggalkan tempat itu.


***


Andra akhirnya menerima laporan yang ia tunggu. Ia mulai membaca kata demi kata yang tercatat di sana. Termasuk, saat Liana dijual oleh ibu tirinya. Efek yang ditimbulkan setelah itu, meninggalkan trauma mendalam bagi Liana. Tangan Andra mengepal kuat.


"Jadi Liana mengalami trauma? Apa mungkin trauma bisa kembali?" tanya Andra.


Tak ingin menduga, ia segera menghubungi Nino, sepupunya. Paling tidak, Nino jauh lebih mengerti kondisi kesehatan mental dibanding dirinya. Tak butuh waktu lama bagi Nino menjawab semua pertanyaan yang Andra ajukan.


Setelah menutup panggilan, Andra mulai memutar otaknya. Ia harus mencari cara, agar Liana bisa terbuka.


"Bagaimana caranya aku membuat Liana terbuka? Lagipula, apa yang menyebabkan traumanya kembali?" Andra terus bergumam.


Setelah berpikir cukup lama, Andra pun memutuskan bertemu dengan Liana. Bagaimana pun caranya, ia harus mendapatkan informasi langsung dari Liana.


***

__ADS_1


Andra tiba di di depan ruangan Liana. Setelah mengetuk, ia segera masuk ke dalam. Liana tersenyum, melihat kedatangan Andra. Pria itu pun membalas senyum istrinya.


Ia mendekati meja Liana dan memeluknya dari belakang. Liana tak menolak, tetapi juga tak membalas. Wanita itu tetap fokus pada pekerjaannya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Andra.


"Hem, seperti yang kau lihat," jawab Liana.


"Jujur, aku masih mengkhawatirkanmu." Andra duduk di meja liana. Kemudian, menatap Liana lekat.


Liana sadar, Andra tengah membicarakan kejadian beberapa waktu lalu. Saat di mana traumanya kembali. Haruskah aku memberi tahunya masa laluku? batin Liana.


"Kau masih ingin tahu tentang masa laluku, benar?"


Andra menunduk sesaat. "Ya. Bagaimana pun, menyimpan trauma akan membahayakan kesehatan mentalmu. Tidak menutup kemungkinan, bisa membahayakan dirimu sendiri. Apa kau ingat, saat traumamu kambuh, kau sudah mencekik dirimu sendiri."


Liana mengangkat pandangannya. Ia mencoba mengingat kejadian kemarin. Benarkah aku melakukan itu? Yang aku tahu, aku tak bisa bernapas dengan baik saat itu.


__ADS_1



__ADS_2