
Setelah mendapatkan foto itu, Liana mencoba mencari tahu kebenarannya. Tanpa sebuah pemberitahuan, Liana mendatangi perusahaan yang Andra kelola sendiri. Sengaja, ia datang menjelang makan siang.
Tiba di sana, karyawan Andra menyapanya hangat. Mereka jelas mengenal siapa Liana. Karena itu, tidak ada yang menghalangi langkah Liana menuju ruangan Andra. Keluar dari lift, tidak ada seorang pun di depan meja sekretaris.
Perlahan, Liana berjalan mendekati ruang kerja Andra. Pintu itu tidak tertutup rapat. Liana pun mendorong pintu itu perlahan. Wanita itu tertegun sesaat. Tangannya mengepal erat melihat sang suami tertawa lepas bersama saudari tirinya di dalam.
Keduanya tidak menyadari kedatangan Liana. Kemarahan di dadanya semakin menggebu. Namun, Liana tak ingin bertindak bar-bar seperti dulu. Dengan tangan gemetar, ia mengambil potret keduanya. Tak lupa merekam keakraban mereka.
Diam-diam, ia meninggalkan mereka. Kali ini, aku sendiri yang menangkap kalian. Jangan harap, aku akan memaafkanmu Andra! gumam Liana dalam hati.
Ia mengatur ekspresi wajahnya, agar tak menampakkan rasa sakit itu. Jelas saja, tidak ada seorang pun yang menangkap keanehan darinya. Karena itu, mereka tak mencurigai apa pun.
***
Andra tiba di rumah sedikit terlambat. Ia mengernyitkan dahi, saat melihat mobil Liana sudah lebih dulu pulang.
"Liana sudah pulang? Kenapa dia tida menyalakan lampu sama sekali? Apa terjadi sesuatu padanya?" tanya Andra pada dirinya.
Ia segera melangkah cepat. Membuka pintu dan menyalakan saklar lampu. Menatap sekeliling dapur dan ruang tamu. Tidak ada jejak Liana di sana. Ia segera menuju kamar sang istri. Namun, pintu terkunci dari dalam.
"Liana," panggil Andra lembut. Ia mengetuk pintu perlahan.
Tidak ada sahutan dari dalam. Andra kembali mengetuk pintu dengan lebih keras. Liana tak juga menyahut. Sekali lagi, Andra menggedor pintu dengan kuat. Kali ini, terdengar suara kunci yang diputar.
"Ada apa?" tanya Liana ketus.
Andra mendorong pintu kamar Liana kuat. Membuat langkah wanita itu mundur. Tatapan tajam Liana arahkan padanya.
__ADS_1
"Apa maumu?" Kembali, Liana bertanya dengan ketus.
"Aku pikir ... kamu sakit," jawab Andra.
"Sudah lihat aku baik-baik saja, 'kan? Sekarang, pergi dari kamarku!" usir Liana.
"Ada apa denganmu?" tanya Andra.
"Ah, apa kamu tahu alasanku membenci pernikahan?" Liana tak menjawab pertanyaan Andra. Ia justru bertanya balik.
Andra terdiam menatap Liana bingung. Liana bisa melihat ekspresi itu. Kekehan terdengar dari mulut Liana.
"Pengkhianatan, ketidakjujuran, dan ketidakterbukaan. Tiga hal ini, sudah pasti aku benci. Silakan nilai dirimu. Adakah yang mungkin kau lakukan padaku dari semua itu?"
Liana segera mendorong tubuh Andra keluar dari kamarnya. Cukup sulit, karena Andra sendiri yang menahan langkahnya. Liana pun menarik napas dalam.
"Baik! Kalau kau tidak ingin keluar, aku yang akan keluar dari sini!"
"Katakan padaku jika memang memiliki masalah. Jangan seperti ini," ucap Andra lembut.
Liana melepaskan tangan Andra dari lengannya. "Kau ingin tahu?"
Melihat anggukan kepala Andra, Liana pun bersedekap. "Apa ada hal yang kau sembunyikan dariku?" tanya Liana.
"Tidak ada!" jawab Andra yakin.
Satu, batin Liana. Ia mulai berhitung. "Lalu, berapa besar saham yang kau sisakan untuk keluarga ayahku?" lanjut Liana.
__ADS_1
"Sepuluh persen," jawab Andra lagi.
Dua! Yang kau berikan, adalah lima belas persen, lanjut liana. Senyum miring Liana tunjukkan pada sang suami.
Andra yang melihat senyum Liana, semakin mengerutkan dahi. Apa Liana mengetahui sesuatu? tanyanya dala hati.
"Apa semua karyawan di perusahaanku, harus melapor padamu?" Liana bertanya lagi.
Kali ini, Andra tak mampu menjawab. Melihat Andra yang memilih bungkam, Liana menganggukkan kepala.
"Kalau begitu, kau tidak memenuhi dua hal. Dari sini, aku pasti akan mengajukan gugatan perceraian?" tekan Liana.
"Tidak akan pernah. Mulai besok, kau tidak perlu pergi bekerja. Akan ada yang mengelola perusahaanmu. Dan kau, dilarang keluar dari rumah tanpa izinku!"
"Ah, apa selingkuhanmu? Jadi, kau melakukan ketiga hal yang kubenci? Bagus! Itu akan mempermudah ku untuk menceraikanmu!"
Andra menahan Liana. Kemudian, mencabut kunci kamar cepat. Ia pun mengunci gadis itu dari luar. Tubuhnya merosot, saat ia sadar sudah melakukan kesalahan besar.
Liana berteriak keras memaki perbuatan Andra. Sayangnya, Andra tengah tenggelam dalam rasa bersalahnya.
"Lepaskan aku, Andra! Brengsek kamu! Jadi ini tujuanmu? Kau ingin membalas dendam, karena aku sudah memutuskan hubungan kita dulu?"
Tak ada sahutan. Pria itu terus berdiam dan menerima amukan sang istri.
"Andra! Aku bersumpah tidak akan memaafkan kalian!" pekik Liana lagi.
"Maaf. Aku tidak ingin kehilanganmu," ucap Andra lirih.
__ADS_1
Tangannya mengusap pintu kamar Liana pelan. Kemudian, meninggalkan rumah itu. Sementara di kamar, Liana mencengkeram seprei dengan kuat.
"Aku membencimu, Andra! Sangat membencimu!" desisnya.