
Liana baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ia segera menuju parkiran, berniat pulang. Hari ini, ia cukup merasa lelah dengan berbagai laporan jelang akhir bulan. Langkahnya terhenti, saat mendapati Fia berdiri di depan motornya.
Gadis itu pun melangkah mendekati sahabat sekaligus adiknya itu. Keduanya saling menatap satu sama lain selama beberapa detik. Liana bisa menangkap kesedihan di mata Fia.
"Tumben gak ngabarin kalau mau ke sini," ujar Liana.
"Gue mau ngomong penting sama lo!" jawab Fia.
"Ngomong aja." Liana mempersilakan Fia untuk bicara.
"Ikut gue ke cafe!" Fia berbalik dan mendahului Liana.
Mereka pun menuju cafe yang ada di seberang perusahaan Liana. Setelah memesan minuman, mereka kembali terdiam. Tak tahan dengan semua ini, membuat Liana memecah keheningan lebih dulu.
"Jadi, apa yang mau Lo omongin?" tanya Liana.
"Kenapa Lo gak pernah cerita masalah ini?" Fia mulai bicara.
Alis Liana berkerut mendengar pertanyaan ambigu yang Fia lontarkan. Ia tidak tahu, kemana arah pembicaraan ini. Masalah apa yang Fia maksud? Andra? Bukankah dia sudah mengetahui semuanya kemarin?
"Ini bukan tentang Andra!" sela Fia, seakan mengetahui jalan pikiran Liana.
"Lalu?"
Fia kembali terdiam. Liana yang melihat kediaman Fia, menghela napas kasar.
"Kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, gue pergi dulu!" Liana beranjak dari duduknya.
"Benarkah kita ini bersaudara?"
Baru dua langkah Liana berjalan, ia menghentikan langkahnya. Kemudian, berbalik dan menatap mata Fia. Dalam hati ia bertanya-tanya, dari mana Fia mengetahui hal itu.
"Gue gak sengaja dengar pembicaraan Lo dan Tante semalam. Apa semua itu benar?" Air mata Fia mulai berderai.
Melihat itu, Liana semakin membenci Fia. Ia mendengus keras sebelum menjawab pertanyaan Fia. Raut wajahnya, bahkan dirubah sedingin mungkin.
"Iya. Kita ... saudara tiri. Ibumu, adalah wanita perusak rumah tangga orang!" desis Liana.
Tangis Fia tak lagi bisa dibendung. Gadis itu bahkan menepuk dadanya keras. Mungkin, untuk sekedar menghalau sesak yang menghimpit di sana.
"Tidak perlu menunjukkan kesedihan Lo dengan cara sedramatis ini. Bukankah Lo menikmati semua penderitaan gue?"
__ADS_1
Tidak ada sahutan dari Fia. Gadis itu masih terus menangis. "Maaf. Aku minta maaf untuk semua yang terjadi," ucap Fia di sela tangisnya.
"Maaf? Semudah itukah? Berhubung lo udah tahu siapa gue, lebih baik kita gak perlu lagi berteman. Anggap saja Lo dan gue, adalah dua orang yang tidak saling kenal. Dengan begitu, mungkin gue gak akan nyalahin Lo atas semua penderitaan yang gue alami!" Liana berbalik dan pergi meninggalkan Fia di sana.
***
Andra baru saja akan kembali ke rumah orang tuanya. Ia ingin mendiskusikan hubungan antara dirinya dan Liana pada mereka. Namun, ia menghentikan mobilnya, saat melihat seorang gadis di pinggir jembatan.
"Bukannya itu Fia? Ngapain dia di sini?" gumam Andra.
Pria itu pun turun dan menghampiri Fia. "Fia!" panggil Andra.
Gadis itu tak menoleh. Andra mempercepat langkahnya. Tiba di samping Fia, ia menepuk pelan bahu gadis itu. Perlahan, gadis itu menoleh. Andra terkejut, melihat wajah Fia yang terlihat menyedihkan.
"Ada apa denganmu?" tanya Andra.
Fia justru memeluk Andra dan menangis keras. Andra terkejut melihat tindakan Fia kali ini. Tangan pria itu menggantung di samping tubuhnya. Ia tak berani membalas pelukan Fia.
Cukup lama Dia menuangkan kesedihannya di dada Andra, tanpa pria itu membalasnya. Beberapa menit kemudian, Fia tersadar. Segera, gadis itu melepas pelukannya.
"Ma-maaf. Aku terbawa perasaan," ucapnya lirih.
"Aku hanya sedang merasa sedih. Sangat sedih. Aku tak menyangka, bila selama ini telah menyakiti perasaan sahabatku," ucap Fia.
Mereka bicara sambil bersandar pada pagar jembatan. Fia menatap jauh jalan di bawah sana. Begitu pun dengan Andra. Keduanya, menikmati pemandangan jalan di malam hari.
"Menyakiti Liana?" Andra memperjelas maksud ucapan Fia.
Gadis itu menganggukkan kepala. Pembicaraan antara Liana dan ibunya, kembali terngiang dalam benak Fia. Air matanya kembali mengalir mengingat semua itu. Andra menepuk pundak Fia perlahan.
"Kau boleh bercerita padaku. Siapa tahu aku bisa membantu untuk memperbaiki hubunganmu dan Liana."
Fia menatap Andra. Jejak air mata masih terlihat jelas di wajah gadis cantik itu.
"Kau tahu, Liana selalu mendengarkan ucapanku. Meski terkadang, ia lebih dulu membangkang." Andra sedikit membanggakan dirinya.
Fia tertawa kecil. Andra tersenyum melihat senyum di wajah Liana. "Kau lebih cantik bila tersenyum," puji Andra.
Fia terlihat salah tingkah, mendengar pujian yang Andra lontarkan. Tanpa keduanya sadari, Liana mendengar perbincangan itu dari balik tiang besar di sana.
"Sial!" umpat Liana. Ia pun memilih pergi meninggalkan tempat itu diam-diam.
__ADS_1
"Jadi, kalian berhubungan di belakangku? Aku benci kalian!"
Tadinya, ia merasa cemas pada Fia. Ia mencari keberadaan sahabatnya itu. Namun, di luar dugaan, ia melihat pertunjukkan manis antara Andra dan Fia. Posisinya yang cukup jauh dari mereka, tak memungkinkan untuk Liana mendengar perbincangan mereka.
Akan tetapi, melihat wajah Fia yang merona, membuat Liana merasa bila mereka memiliki hubungan lain. Air mata Liana jatuh berderai. Hatinya terasa sangat sakit. Haruskah aku bernasib sama dengan mama? Tidak. Aku tidak mau.
Liana menghapus air matanya kasar. "Tenang Liana." Ia menarik napas dalam dan menghelanya perlahan. Beberapa kali ia melakukan hal itu, hingga merasa cukup tenang.
Saat sudah merasa lebih tenang, ia mengambil ponsel dan mengirimkan pesan pada Andra.
Aku ingin bertemu denganmu besok. Temui aku jam lima, di cafe biasa. Liana mengirim pesan itu.
***
Liana tiba lebih dulu, di tempat ia dan Andra janjian. Beberapa kali Liana meremas jemarinya. Sepuluh menit kemudian, terlihat Andra masuk ke dalam cafe. Senyumnya mengembang sempurna.
"Sudah lama nunggu, Yang?" tanyanya.
"Aku baru sampe, kok," jawab Liana. Ia memaksa tersenyum pada Andra.
"Kamu kangen sama aku, ya?" goda Andra.
Liana menarik napas dalam. Tidak berniat menjawab pertanyaan Andra.
"Sebaiknya kita putus!" seru Liana.
Senyum Andra pudar saat mendengar ucapan Liana. "Putus? Kenapa?" tanyanya beruntun.
"Aku hanya ingin memberitahu hal ini. Mulai sekarang, jangan hubungi aku, atau pun menemuiku lagi!" Liana bangkit berdiri dan meninggalkan cafe lebih dulu.
Andra mengejar Liana. Ia menahan lengan kekasihnya. Tanpa menoleh, Liana mencoba melepaskan cekalan Andra. Namun, pria itu tak melepasnya dengan mudah.
"Kau tidak bisa berbuat sesukamu. Beri aku satu alasan, mengapa kita harus mengakhiri hubungan ini!"
"Haruskah? Kau sudah menyakitiku. Diam-diam kau menjalin hubungan dengan dia!" pekik Liana.
Andra mengerutkan dahi mendengar alasan Liana. "Dia? Siapa maksudmu?" tanya Andra tak mengerti.
Liana tertawa mendengar pertanyaan Andra. "Seandainya aku tak melihat kalian berpelukan semalam, apa kau akan memberitahuku tentang hubunganmu dengan dia?"
Lagi, Liana tak memperjelas 'dia' yang ia maksud. Sekuat tenaga ia melepaskan diri. Saat terlepas, ia segera meninggalkan tempat itu. Tak peduli, dengan panggilan Andra padanya.
__ADS_1