Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
Akhir dari segalanya


__ADS_3

Polisi tak serta merta percaya dengan ucapan Liana. Beruntung, ada mobil yang terparkir tak jauh dari lokasi pinggir jurang. Mereka segera memeriksa kamera dashboard. Hampir tiga jam mereka menyelidiki kasus itu. Sampai akhirnya mereka menemukan kebenaran itu.


Petugas polisi pun tak memperpanjang masalah. Liana dan Andra, sudah dinyatakan bebas. Mereka pun segera ke rumah sakit tempat Fia dan Sandi dilarikan. Sekedar memastikan kondisi keduanya.


Tiba di sana, mereka diberitahu bila Fia dan Sandi berada di ruang operasi saat ini. Keduanya pun menunggu di depan ruang operasi. Saat tengah menunggu, ponsel Andra berdering. Terlihat nama sang ayah di sana.


"Andra, Fia lari dari pengawasan anak buah papa!"


"Andra tahu, Pa. Liana hampir celaka karena perbuatannya," jawab Andra.


"Astaga! Lalu, bagaimana?"


"Liana tidak apa-apa. Sementara Fia terjatuh bersama Om Sandi dari pinggir jurang. Meski tidak terlalu dalam, kepala mereka terluka. Sekarang, mereka sedang dioperasi."


"Syukurlah, jika Liana baik-baik saja."


"Pa, bagaimana cara Fia kabur?" tanya Andra penasaran.

__ADS_1


Hartawan pun menceritakan kronologi perginya Fia. Rupanya, salah satu anak buah Hartawan adalah pria yang menyukai Fia dulu. Saat ini, mereka sudah menangani orang yang menjadi pengkhianat di antara anak buahnya yang lain.


Mendengar penuturan sang ayah, Andra menghela napas lega. Setelah itu, panggilan pun terputus. Andra kembali duduk di kursi tunggu bersama Liana.


***


Setelah menunggu selama hampir tiga jam, lampu ruang operasi telah padam. Tak lama, pintu ruangan terbuka menampakkan Dokter dengan pakaian khas operasi. Liana dan Andra mendekati Dokter.


"Kalian keluarganya?" tanya Dokter.


"Ibunya ada di penjara. Saya hanya kakak tirinya," jawab Liana.


Tanpa aba-aba, air mata Liana jatuh dari ujung matanya. Ia segera menghapusnya cepat. Kemudian, mengucapkan terima kasih pada Dokter tersebut.


Dokter pun berlalu dari hadapan mereka. Liana menghela napas panjang. "Apa kita harus mempersiapkan pemakaman ayahku?" tanyanya pada Andra.


"Ya. Bagaimana pun, dia tetap ayahmu. Paling tidak, ini bakti terakhirmu pada dia." Andra menatap Liana dalam.

__ADS_1


"Padahal, dia tidak pernah mengurusku sejak kecil." Liana terkekeh pedih. "Baiklah. Akan kuurus," putus Liana.


Mereka pun mulai mengurus pemakaman untuk Sandi. Tak lupa, memberi kabar pada istri kedua Sandi yang berada di dalam penjara. Mendengar itu, wanita yang selalu membenci Liana, menggila.


***


Tiga hari berlalu sejak pemakaman Sandi. Liana datang menemui Fia yang masih terbaring koma. Ia menatap sesaat wajah Fia.


"Dulu, aku pernah berpikir, kalau kau adalah sahabat terbaikku. Sayangnya, hati dan perbuatanmu tak sejalan. Meski kau bisa menyembunyikan ketidak sukaanmu padaku dengan baik, lambat laun aku bisa mengetahuinya."


Liana memegang tangan Fia. "Ayahmu sudah kumakamkan. Ibumu pun sudah tahu tentang kondisimu."


Terlihat setetes air mata jatuh dari sudut mata Fia. Liana menghapus air mata itu. Menatap sedih wanita yang pernah mewarnai hidupnya.


"Dari hati yang terdalam, aku sudah memaafkanmu," ucap Liana.


Tanpa ia duga, monitor menunjukkan penurunan detak jantung Fia. Bahkan, ia terlihat kesulitan menarik napas meski sudah memakai masker oksigen. Tak lama, Dokter dan perawat mendatangi ruangan itu.

__ADS_1


Sayangnya, nyawa Fia tak lagi bisa tertolong. Pada akhirnya, Fia menerima akibat dari perbuatannya dulu. Sementara ibunya, berakhir di ruma sakit jiwa.


......--- THE END ---......


__ADS_2