
Andra mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang menjelang tengah malam. Tidak ada pembicaraan di antara mereka. Hanya kesunyian yang mendominasi.
Sesekali, Andra melirik Liana dengan ekor matanya. Sayangnya, gadis itu memilih membuang pandangan keluar sana. Andra mencengkeram erat roda kemudi. Sedikit pun ia tak menyangka, bila kejadian kemarin malam begitu menyakiti hati Liana.
Sedikit demi sedikit, Andra mengetahui perasaan Liana. Perlahan, ia menggenggam tangan kekasihnya. Namun, Liana menepisnya kasar. Sebenci itukah Liana padanya?
Tak butuh waktu lama, mereka tiba di depan rumah Liana. Andra menghentikan laju mobilnya tanpa mematikan mesin.
"Aku minta maaf karena sudah menyakiti hatimu. Aku tidak bermaksud melakukan itu semua. Fia yang memelukku, bukan aku. Aku janji, semua itu gak akan terulang lagi," jelas Andra.
"Gue gak butuh penjelasan dan janji Lo!" ketus Liana, tanpa menatap Andra.
"Kamu gak mau maafin aku?" tanya Andra memelas.
"Gak ada yang perlu dimaafin. Toh, hubungan kita sudah berakhir." Liana mulai membuka seat belt dan membuka pintu mobil.
Andra yang sudah melihat gelagat Liana, lebih dulu mengunci pintu. Gadis itu menatap tajam Andra. Sementara Andra, tersenyum lembut membalas tatapan Liana.
"Buka pintunya!" pinta Liana penuh penekanan.
"Aku tidak akan membukanya, sebelum kamu memaafkan aku!"
Liana menarik napas dalam seraya memejamkan matanya. Berusaha menetralkan amarah yang mulai menguasai hati.
"Oke! Gue maafin Lo. Sekarang, buka pintunya!"
"Kalau kamu udah maafin aku ... maukah kamu menikah denganku?"
Liana terkejut mendengar lamaran Andra. Wajahnya terlihat sangat serius. Ia tak mampu menjawab pertanyaan sederhana itu. Salah! Lebih tepatnya, ia tidak pernah ingin menikah dengan siapa pun. Karena baginya, pernikahan hanyalah omong kosong belaka.
"Aku tahu kamu membenci pernikahan. Aku janji, tidak akan mengecewakanmu. Percayalah padaku," ucap Andra lembut.
Andra menatap Liana dalam. Terlihat jelas rasa cinta di mata pria itu. Ia melepas seat belt dan mencium bibir Liana. Jelas gadis itu memberontak, pertanda ia menolak perbuatan Andra padanya. Namun, Andra tak peduli. Ia menahan tangan liana dan memperdalam ciumannya.
Andra baru melepaskannya, saat Liana kehabisan napas. Seakan gadis itu sangat marah, ia melayangkan tamparan sekuat tenaga. Terlihat jelas bekas jemari Liana di pipi Andra.
"Jangan pernah Lo lakukan hal kaya tadi lagi! Karena kita sudah tidak punya hubungan khusus!" desis Liana.
"Ah, satu lagi. Gue gak akan pernah mau menikah sama lo atau siapa pun! Mulai detik ini, jangan lagi Lo temui gue!"
Liana pun mendorong Andra sekuat tenaga, untuk mencapai central door lock di sisi Andra. Setelah berhasil, ia keluar dan membanting pintu. Andra tak lagi mencegahnya. Terlebih, Liana terlihat semakin membencinya setelah mendengar ia melamar gadis itu.
__ADS_1
Liana masuk ke dalam rumah dan melihat ibunya duduk di ruang tamu. Ia menarik napas dalam dan berusaha acuh. Sejak kejadian dua hari yang lalu, hubungannya dengan sang ibu sedikit merenggang.
"Mama minta maaf. Mama gak akan paksa kamu memaafkan papamu atau pun menerima Fia sebagai saudaramu lagi."
Langkah Liana terhenti. Ia menghela napas dalam. Kemudian, berbalik menatap sang ibu. Bukan ibunya yang salah dalam hal ini. Hanya saja, Liana tidak bisa memaafkan mereka dengan mudah.
"Gak ada yang perlu dimaafin. Mama gak salah. Aku hanya tidak ingin, mama kembali terluka karena mereka." Liana pun memeluk ibunya erat.
***
Selama satu minggu, Andra terus berusaha mendekati Liana. Namun gadis itu seolah tak tersentuh. Setiap kali bertemu, Liana akan menunjukkan sikap tak suka. Bukan hanya pada Andra, tetapi Fia pun mendapatkan penolakan yang sama.
"Sampai kapan kamu menghindar dariku?" tanya Andra.
Sore itu, Liana kembali berpapasan dengan Andra. Pria itu menahan lengan Liana. Gadis itu pun menarik napas dalam dan menghelanya.
"Gue gak pernah menghindar!" elaknya.
"Lalu apa namanya, jika bukan menghindar? Setiap kali aku datang menemuimu, kamu selalu menghilang dan tak ingin bertemu denganku!"
"Karena kita tidak memiliki urusan. Tida ad kepentingan, yang mengharuskan saya bertemu dengan, Anda!" Liana mulai berbicara formal dan menunjuk dada Andra.
Mendengar cara bicara Liana yang semakin formal, membuat Andra menggeram marah. Liana pun melepas cengkeraman Andra dan berlalu meninggalkannya.
Sepertinya, dia sudah mulai menyerah. Ini jauh lebih baik, gumam Liana.
Sekuat apa pun ia menyemangati hatinya, Liana tetap merasa ada yang hilang. Ponselnya berbunyi, membuat Liana secepat mungkin menyambar benda itu. Wajahnya berubah kecewa, saat nama tetangganya yang muncul.
"Halo," sapanya.
Orang di seberang sana mulai bicara. Kedua mata Liana membelalak lebar.
"Saya segera ke sana!" Liana mematikan ponselnya.
Ia segera menyambar tas dan kunci mobilnya. Kemudian, segera melajukannya dengan kecepatan tinggi. Seakan tak mempedulikan keselamatannya, ia menerobos beberapa lampu lalu lintas. Bahkan, mengacuhkan umpatan pengguna jalan lainnya. Mobilnya memasuki kawasan rumah sakit. Segera, ia menuju ruang IGD.
"Bu, gimana kondisi mama saya?" tanyanya.
"Masih diperiksa dokter," jawab wanita yang menunggu di sana.
"Terima kasih, ibu, sudah menjaga mama," ucapnya tulus.
__ADS_1
"Bagaimana pun, mamamu orang baik. Pasti banyak yang membantunya."
Liana menganggukkan kepala. Tak lama, dokter keluar. Liana segera menghampiri dokter dan menanyakan kondisinya.
"Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Mohon tunggu sebentar," jawab sang Dokter.
"Lakukan yang terbaik, Dok," pinta Liana.
***
Liana kini berada di ruangan dokter. Ia sedang mendengarkan penjelasan dokter, yang mengatakan, bila ibunya membutuhkan biaya operasi di bagian kepala serta resiko yang akan menyertai pasca operasi.
"Beruntung, pembuluh darahnya tidak pecah. Karena itu akan sangat berbahaya bagi keselamatan pasien."
"Apa tidak ada jalan lain, tanpa harus melakukan operasi?" tanya Liana.
"Tidak ada. Sebelumnya, bukankah pasien sudah menjalani terapi obat-obatan?"
Liana menganggukkan kepala. "Apa tidak berpengaruh?"
"Dengan menyesal saya katakan, ya."
Tubuh liana melemas. Resiko terparah yang akan ibunya alami adalah, kelumpuhan total, atau kematian otak. Liana berada dalam dilema.
"Lakukan saja operasi itu. Saya yang akan tanggung biayanya!"
Liana menoleh cepat mendengar suara itu. Di ambang pintu, pria yang dibencinya kembali hadir mencampuri kehidupan mereka.
"Anda, tidak berhak memutuskan tindakan yang harus diambil!" geram Liana.
"Kau lebih suka membiarkan mamamu menderita dengan penyakitnya?"
"Lalu, apa menurut, Anda, lebih baik mama saya mengalami kelumpuhan atau mati otak?" Liana begitu marah mendengar ucapan ayahnya.
"Ah, saya lupa jika memang itu yang, Anda harapkan. Melihat mama saya mati!"
Sebuah tamparan keras melayang mengenai pipi Liana. Membuat sudut bibir Liana pecah.
"Papa!" teriak seseorang.
Liana sangat mengenal suara itu. Itu suara sahabatnya Fia. Liana menatap tajam pada ayahnya. Ia melepaskan tangan Fia yang merangkul pundaknya.
__ADS_1
"Anda, tidak punya hak dalam mengurusi kehidupan kami. Urus saja keluarga bahagia, Anda!"
Liana meninggalkan ruangan Dokter tanpa berpaling. Sementara pria yang berstatus ayahnya itu, menatap tangan yang telah menampar anak kandungnya.