
Tiga hari berlalu, Liana kini sudah diperbolehkan pulang. Sejak kejadian itu, Andra menjadi lebih posesif. Untuk sekedar ke toilet pun, Liana tidak dibiarkan sendiri. Sejak itu pula, Andra mengambil alih pekerjaan Liana. Ia tak membiarkan sang istri melakukan pekerjaannya.
Liana sempat menolak karena Andra juga harus mengurus perusahaan keluarga dan bisnisnya sendiri. Ia pasti akan sangat sibuk, bila mengambil alih pekerjaan miliknya. Namun, Andra tak menerima penolakan. Dengan yakin, ia menyanggupi semua itu. Liana pun tak bisa berbuat apa-apa, selain menyetujui keinginan suaminya.
Siang ini, Andra menjemput Liana dari rumah sakit. Tiba-tiba saja, sebuah ide muncul dalam benak istri dari pria itu.
"Aku punya ide!" Liana menatap Andra dengan senyum mengembang.
Andra mengerutkan dahinya melihat wajah sang istri yang tersenyum bahagia. Dengan malas ia bertanya, "Apa?"
"Biar aku yang tetap menjadi pimpinan di perusahaanku ...." Ucapan Liana terpotong oleh Andra.
"Tidak! Sekali tidak, tetap tidak!" tolak Andra tegas.
"Aku belum selesai bicara. Bisa dengar dulu sampai selesai, 'kan," pinta Liana.
__ADS_1
Andra menghela napas kasar. "Oke!" Andra memberi isyarat, agar Liana melanjutkan ucapannya.
"Kau bisa menyewa atau mungkin mencari bodyguard yang bisa menjagaku," lanjut Liana.
Pria itu terkekeh, membuat Liana mengerutkan dahi mendengar hal itu. Apa ada yang lucu dari ucapanku? Atau dia meremehkanku?
"Aku tidak akan mengambil resiko, yang memungkinkan kau berdekatan dengan pria lain!" Lagi, Andra menolak ide Liana.
Rasa kesal membuat Liana menghampiri Andra, lalu mencengkeram kerah kemeja pria itu. Andra terkejut dengan apa yang Liana lakukan. Hanya sesaat, setelahnya ia menatap penuh tantangan pada Liana.
Andra menarik tangan Liana yang mencengkeram dirinya. Menatap sang istri penuh peringatan. Ia berdiri menantang di hadapan Liana.
"Aku tidak pernah menganggapmu lemah. Bukankah jauh lebih baik, bila berjaga-jaga? Atau kau lebih ingin kejadian ini terulang dulu, baru mempercayai kata-kataku?" Ucapan Andra terdengar lirih, tetapi penuh dengan intimidasi.
Liana menarik tangannya. Ia yang sejak dulu selalu mandiri, tidak terbiasa dengan sikap posesif orang lain, termasuk suaminya sendiri.
__ADS_1
"Terserah. Yang pasti, aku akan melakukan apa pun yang kumau!" Liana mengambil tas tangannya dan keluar dari kamar rawat lebih dulu.
Andra menghela napas perlahan. Kemudian, menyusul Liana dengan membawa perlengkapan yang ada. Selama perjalanan pulang, Liana lebih memilih diam. Moodnya hancur seketika. Tak hanya itu, ia merasa diremehkan.
Memangnya, yang kuat hanya laki-laki, ya? pikirnya.
Tiba di rumah mertuanya, Liana disambut dengan hangat. Silviana kembali meminta maaf, atas kejadian yang menimpa sang menantu.
"Itu bukan salah, Mama. Semua itu hanya kecelakaan. Lagi pula, seharusnya aku tak mempermasalahkan tabrakan kecil itu. Mungkin saja pengemudinya ketakutan dan akhirnya memacu mobil dengan kecepatan tinggi," jelas Liana.
"Jangan terlalu berpikir positif! Kau tidak tahu, 'kan kalau seseorang sudah mengincarmu sejak lama," sambung Andra.
Dalam hati Liana mengumpat. Raut wajah Liana berubah kesal. Bukannya aku tidak tahu siapa orang di dalam mobil itu. Tapi, tidak bisakah kau menenangkan ibumu sedikit? Kau pikir aku akan tinggal diam, melihat dia menyakitiku juga anakku?
"Liana naik dulu, ya, Ma," pamitnya.
__ADS_1
Andra pun mengikuti sang istri. Ia tahu, lagi-lagi sudah membuat kesal Liana.