
Suasana terasa amat canggung di sana. Andra tidak mengerti apa yang sudah terjadi. Mengapa sikap Liana dan Fia, berubah begitu tiba di sini. Apa mungkin Dia ingin mengajak Liana ke suatu tempat? Tapi, karena aku datang, Liana menolak, pikir Andra.
"Kenapa pada diem?"
Ketiga orang itu menoleh ke sumber suara. Tanpa permisi, laki-laki itu bahkan duduk di samping Fia. Hanya Liana dan Andra yang menyambutnya dengan senyum.
"Hai, Nin," sapa Liana.
"Sayang!" Andra menatap Liana.
"Apa? Aku, 'kan hanya menyapa Nino, masalah buat kamu?"
"Gak, sih," jawab Andra lirih.
Nino tergelak melihat wajah Andra yang cemberut. Andra yang merasa ditertawakan, melempar Nino dengan tisu yang ia ambil di atas meja. Liana hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Andra dan sepupunya itu.
"Eh, ngomong-ngomong siapa cewek cantik ini?" tanya Nino.
Andra dan Liana saling lirik. Kemudian, menatap Fia bersamaan. Yang ditatap mengerjapkan kedua matanya cepat.
"Kenapa kalian liatin gue begitu?" tanyanya.
"Itu, cowok samping Lo mau kenalan," ujar Liana.
Fia menoleh dan baru menyadari kehadiran orang lain di sana. "Oh, hai. Gue Fia, sahabatnya Liana." Fia mengulurkan tangan sebagai tanda perkenalan.
"Nino, sepupunya Andra." Nino membalas uluran tangan Fia.
"Nino, ini dokter. Kalau berhubungan dengan kesehatan, dia akan berubah serius. Tapi, dalam kondisi seperti ini, dia itu suka banget bikin kesel orang," ujar Liana.
"Yaelah, Li. Ceritain tentang aku yang bagusan dikit, napa. Sama aja kaya Andra," protes Nino dengan bibir manyun.
"Dih, rajin banget. Ogah, ya. Aku itu, orangnya jujur, apa adanya."
"Ternyata, Nino, dapet lawan juga." Andra tertawa melihat wajah Nino yang berubah kesal.
"Puas banget ketawanya," kesal Nino. Pria itu pun mengalihkan tatapan pada Fia. "Gak usah didengerin, Fi. Mereka itu pasangan yang paling suka ngebully aku!" seru Nino pada Fia.
"Ih, fitnah. Kamu yang suka ngebully kita, ya," protes Andra.
Mereka pun saling bercanda ria. Tawa di wajah Liana, tak luput dari pandangan Fia. Ia terus menatap sahabatnya intens.
Pantas lo bisa dengan mudah jatuh cinta pada Andra. Semudah itu dia bisa bikin lo bahagia. Selama hampir tujuh tahun kita saling mengenal, ini kali pertama gue liat lo tertawa lepas. Semoga, kehadiran Andra, bisa membuat hidup lo lebih ceria, harap Fia dalam hatinya.
"Fi!" panggil Liana.
"Hmm," jawab Fia.
__ADS_1
"Lo, gak apa-apa, 'kan?" tanya Liana khawatir.
"Gak, kok," jawabnya. Fia memasang senyum terbaiknya.
"Duh, Neng. Senyummu mengalihkan duniaku," goda Nino.
"Gombal!" ejek Andra.
"Biarin! Namanya usaha," ujar Nino.
"Usaha apa? Jangan bilang kamu pengen jadiin Fia pacar?" tuding Liana.
"Biarin aja, Yang. Biar dia gak terus-terus jomblo. Kasian, jadi obat nyamuk kita terus," kelakar Andra.
"Sialan!" dengus Nino.
Mereka tertawa bersama. Begitu pun Fia. Meski Nino selalu menggodanya, ia tak terlalu menanggapi candaan yang Nino lontarkan. Fia yang awalnya terlihat kaku, mulai terbawa dengan suasana ceria yang mereka ciptakan.
Malam pun semakin larut. Kebersamaan mereka, harus berakhir. "Liana boleh pulang bareng gue, 'kan?" Fia meminta ijin Andra.
Liana menganggukkan kepala pada Andra. Pria itu hanya bisa menghela napas kasar.
"Padahal, aku masih kangen sama kamu," rengek Andra.
Liana hanya terkekeh mendengar rengekan Andra. Ia pun berinisiatif mengecup pipi kekasihnya. Mendapat serangan mendadak dari Liana, seakan melumpuhkan saraf Andra. Ia terpaku ditempat, hingga tanpa sadar, Liana sudah pergi bersama Fia.
Andra pun tersadar. Namun, hanya bisa pasrah ketika melihat sang kekasih sudah lebih dulu pergi meninggalkannya.
"Gak usah bucin! Alay, tahu gak!" ejek Nino pada Andra.
"Jones, dilarang bicara!" Andra berlalu meninggalkan Nino.
"Untung sepupu, coba kalau bukan," gumam Nino. Ia pun masuk ke dalam mobilnya.
***
Fia mulai mengarahkan mobilnya, menuju apartemen Liana.
"Eh, Fi. Gue lupa ngomong sama lo. Gue udah pindah dari apartemen," ujar Liana.
"Ha? Sejak kapan?" tanya Fia yang terkejut.
"Kurang lebih, lima bulan yang lalu. Setelah mama keluar dari rumah sakit," jawab Liana.
"Tante sakit? Sakit apa?"
"Ada penyumbatan di pembuluh darahnya."
__ADS_1
"Terus, apa hubungannya sama lo pindah?"
"Gak ada, sih. Gue pikir, kalau tinggal di apartemen, bakal susah kalau terjadi sesuatu lagi sama mama. Intinya, biar lebih mudah. Itu, aja."
Fia menganggukkan kepala mengerti. "Sekarang kemana?" tanya Fia kemudian.
Liana pun menunjukkan jalan ke rumahnya. Setelah menempuh waktu selama hampir satu jam, mereka tiba di rumah Liana. Wajar, jarak tempuh mereka semakin lama. Karena sebelumnya, Fia terlanjur mengarahkan mobil ke apartemen.
"Mau mampir?" tawar Liana.
"Boleh. Udah lama gak ketemu Tante."
Mereka pun turun bersamaan. Pintu pun terbuka. Menampakkan wajah Clarissa—mama Liana—di sana. Wanita yang masih terlihat cantik, diusianya yang tak lagi muda itu, tampak terkejut.
"Hai, Tante," sapa Fia.
"Hai! Ayo, masuk!" ajaknya. "Kemana aja? Kok, udah lama gak main?" tanya mama Liana.
"Biasa, Tante. Banyak kerjaan," bohong Fia.
Liana yang mendengar alasan Fia, hanya tersenyum miring. Lo gak bakal bisa bohongin mama.
"Oh, begitu."
Mereka pun mulai saling bertukar cerita. Hanya mama Liana dan Fia. Liana sendiri, memilih diam. Apalagi, saat mamanya menyinggung masalah orang tua Fia. Liana merasa jengah sendiri.
"Fia, pamit dulu, ya, Tan. Lain kali, Fia mampir lagi, deh," ucapnya.
"Iya, Sayang. Hati-hati di jalan, ya," pesan mama Liana.
"Hati-hati, Fi. Makasih, ya, udah nganterin gue," ucap Liana seraya mengantar Fia ke depan.
Fia mengacungkan ibu jarinya. Setelah itu, Liana kembali menutup pintu.
"Kamu, kenapa mendiamkan Fia begitu? Kamu ingatkan, pesan mama?" tegur Clarissa.
"Menjaga dan menyayangi Fia, seperti adik sendiri. Yang nyatanya, dia adalah adik tiriku! Apa aku salah?" ujar Liana.
"Kamu ... sudah tahu?" tanya Clarissa tergagap.
"Sudah. Jujur, sulit bagiku untuk bersikap biasa saja, saat aku sudah mengetahui kenyataan itu. Sakit. Sangat sakit. Saat banyak orang menghina aku sebagai anak haram, dia menikmati kasih sayang lengkap seperti yang aku inginkan. Saat kita hidup serba pas-pasan, dia menikmati hidup mewah dengan pria, yang sayangnya adalah ayahku juga! Salahkah aku yang ingin membenci mereka? Selama ini, mama selalu menutupinya dariku. Tapi, Tuhan punya banyak cara untuk memberitahuku."
Liana menarik napas dalam kemudian, "Sudahlah. Aku lelah."
Liana berlalu meninggalkan mamanya sendiri. Tanpa keduanya sadari, Fia mendengarkan semua pembicaraan mereka. Ia sempat kembali. Berniat untuk menginap di sana. Namun, kenyataan menyakitkan ia temukan.
Dengan langkah gontai, Fia memasuki mobilnya. Memacu kendaraan beroda empat itu meninggalkan rumah sahabat, sekaligus kakak tiri, yang baru ia ketahui. Inikah alasan mama melarangku berteman dengan Liana?
__ADS_1
Air mata Fia jatuh berderai. Merasa bersalah pada Liana dan ibunya. Hatinya sakit, sedih, hancur dan tak lagi berbentuk.