
Hari pernikahan pun tiba. Liana merasa sangat sedih. Di hari bahagianya, tidak ada seorang pun yang mendampingi dirinya. Sang ibu, kini telah duduk di pangkuan Yang Maha Kuasa. Sementara ayahnya, Tidak akan mungkin menemaninya. Sudah pasti, pria itu lebih memilih menghabiskan waktu bersama keluarga barunya.
Sahabat, ia mulai menertawakan dirinya, ketika kata itu muncul. Hubungan mereka, kini terasa amat tak menyenangkan. Terutama, sejak Fia mengetahui rahasia keluarga mereka. Suara ketukan pintu, membuat Liana menghapus air matanya.
"Masuk," ucapnya mempersilakan orang yang mengetuk pintu.
Sebuah kepala terlihat menyembul dari balik pintu. Liana tersenyum manis pada Bianca.
"Ih, cantik banget." Bianca menghampiri Liana dan memeluknya.
"Makasih," ucap Liana.
"Oh, iya. Fia kemana?" tanyanya lagi.
"Papanya masuk rumah sakit. Makanya dia gak bisa datang," jelas Liana.
Anggukkan kepala Bianca berikan sebagai jawaban. Bianca tersenyum misterius pada Liana.
"Apaan, sih?" tanya Liana malu.
Wajahnya memerah, mendapat tatapan seperti itu dari Bianca. Melihat wajah memerah sang sahabat, gadis itu terkekeh.
"Sejak kapan kalian balikan?" tanya Bianca.
Tidak ada jawaban yang Liana berikan Gadis itu hanya tersenyum, seraya mengendikkan bahunya acuh. Bianca mencebikkan bibirnya, mendapat jawaban seperti itu. Kemudian, Bianca mengambil ponsel dan berfoto bersama Liana. Ia menatap puas foto itu.
__ADS_1
Tak lama, calon ibu mertuanya datang dan menuntun Liana menuju aula pernikahan. Dibantu oleh Bianca, Liana melangkah anggun.
***
Setelah melewati serangkaian ritual agama, kini mereka memasuki acara resepsi. Tak tanggung-tanggung, keluarga Andra mengundang setiap koleganya. Bukan hanya itu, seluruh karyawan dari perusahaan yang dipimpin Andra dan ayahnya pun, semua hadir. Sementara dari perusahaan Liana, hanya beberapa orang.
Liana terus tersenyum pada para tamu yang hadir. Sampai satu jam kemudian, rasa lelah mulai menderanya. Andra menyadari hal itu.
"Mau istirahat di ruang ganti?" tanya Andra berbisik.
Liana menganggukkan kepala setuju. Kakinya terasa sangat sakit. Andra pun menuntun Liana menuruni stage. Ia juga mengantar wanita yang kini menjadi istrinya itu, ke ruang ganti.
"Biarkan aku sendiri. Pergilah temui para tamu," ujar Liana, ketika ia sudah duduk berselonjor.
"Kau yakin?" tanya Andra.
Andra pun menganggukkan kepala. Kemudian, ia meninggalkan ruangan itu. Andra kembali berbalik, sebelum menutup pintu.
"Hubungi aku, jika terjadi sesuatu," pinta Andra.
"Iya," jawab Liana.
Setelah pintu tertutup, Liana menaikkan kakinya ke atas sofa. Tak lama, seseorang masuk ke ruangannya. Liana terjingkat kaget saat pintu terbuka dengan kuat. Di ambang pintu, terlihat istri kedua ayahnya.
Liana hanya menghela napas kasar melihat kedatangannya. Belum sempat ia berbicara, dua orang bodyguard segera menyeret dirinya keluar dari sana. Mereka bahkan menutup mulut wanita itu paksa. Meski tidak mengerti dengan yang terjadi, Liana tak ingin ambil pusing.
__ADS_1
***
Acara pun usai. Andra membawa Liana ke istana yang telah ia persiapkan untuk mereka. Ia menunjukkan kamar yang akan Liana gunakan.
"Seperti perjanjian, Senin nanti, aku akan mentransfer uang yang kau minta," ujar Andra.
"Oke!" jawab Liana.
"Oh, iya." Andra mendekati nakas.
Pria itu mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat dari sana. Kemudian, menyerahkannya pada sang istri. Liana menatap bingung amplop itu. Namun, Andra terus mendorongnya.
Ia pun mengambil dan membuka amplop yang Andra berikan. Senyumnya merekah, saat mengetahui isi amplop itu. Tidak hanya itu, matanya pun berbinar cerah.Andra sangat menyukai ekspresi itu.
"Terima kasih," ucap Liana tulus.
"Bagaimana soal kepemimpinan?" tanya Andra.
"Aku belum terlalu paham. Bisakah kau mengajariku?" pinta Liana.
Andra menganggukkan kepala setuju. "Mandilah. Aku akan kembali ke kamarku di samping," ucap Andra.
Ia mengusap lembut kepala sang istri. Mulai sekarang, ia harus ekstra bersabar. Ia tak ingin bertindak gegabah, hingga berakhir dengan kebencian Liana yang semakin menggunung padanya.
"Akhirnya, rencanaku berhasil." Andra tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Misi selanjutnya, membuat Liana kembali mencintaiku, dan membuatnya yakin dengan hubungan pernikahan." Andra menghela napas kasar.
"Semangat Andra. Kau pasti bisa," ucapnya pada diri sendiri.