
"Bu-bukan begitu, Nak. Dengarkan papa ...."
"Tidak usah membuat drama di depanku. Jika tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan, silakan pergi dari sini!" usir Liana.
Gadis itu berbalik meninggalkan ayahnya lebih dulu. Tak peduli seberapa menyedihkannya wajah pria tua itu. Selama ini, pria itu bahkan tak peduli dengan dirinya.
Sandi menghela napas lelah. Ia tak lagi bisa meyakinkan sang putri. Ia sadar, sudah banyak mengecewakan dan menyakiti hati putrinya. Sekali pun ia ingin membayar kesalahannya, itu sangat tidak mungkin. Liana jelas akan menolaknya secara terang-terangan.
Sebagai ayah, ia tidak pernah menjalankan perannya dengan baik. Saat sang putri membutuhkan kehadirannya, ia bahkan tak pernah ada.
"Maafkan papa, Nak. Maaf," ucapnya lirih.
Air matanya jatuh berderai mengingat setiap kesalahan yang telah ia perbuat. Menyesal pun, rasanya tak akan bisa mengembalikan sang putri.
***
Setelah mendapat penolakan dari Liana, Sandi akhirnya memilih menyerah. Ia kembali ke kota, dan segera menemui Andra. Pria itu bahkan menceritakan, bila Liana tidak peduli dengan perusahaan keluarga yang berada di ujung tanduk.
Mendengar cerita Sandi, Andra kini mengerti sebenci apa Liana pada ayah kandungnya itu. Baiklah! Aku sendiri yang akan turun tangan merencanakan drama dalam keluarga mereka.
Andra pun mengeluarkan berkas yang sudah disiapkannya di dalam laci. Kemudian, melemparkannya pada pria yang berstatus ayah dari wanita yang Andra cintai.
"Ini ... apa?" tanya Sandi.
"Buka saja," titah Andra.
Sandi mulai membolak-balikkan berkas tersebut. Betapa terkejutnya Sandi, saat mengetahui Liana memiliki saham di perusahaannya. Tidak main-main, saham yang dimiliki sang putri cukup besar.
__ADS_1
"35 persen saham," gumam Sandi.
"Ya. Itu milik Liana. Sekarang, Anda punya alasan untuk membuat Liana kembali dan membantu membangun perusahaan."
Senyum miring terlihat menghiasi wajah Andra. Pria itu menyilangkan kakinya dan menatap datar Sandi.
"Baik. Saya akan mencobanya lagi," ucap Sandi lirih.
Mau tidak mau, Sandi harus kembali ke kota tempat Liana tinggal. Berusaha membujuk sang putri untuk kembali ke kota. Semoga dia mau membantu, jika mengetahui saham ini, batin Sandi.
Setelah menempuh dua jam perjalanan, Sandi segera menuju kosan Liana. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore saat ia tiba. Kosan Liana masih terlihat sepi. Seorang security menghampirinya.
"Bapak, cari siapa?" tanyanya.
"Bapak, siapanya Mbak Liana?" Security itu balik bertanya.
"Saya papanya," jawab Sandi.
"Oh, Mbak Liana belum pulang, Pak. Mungkin sebentar lagi."
"Boleh saya tunggu di sini?" tanya Sandi.
"Silakan. Saya permisi dulu, ya, Pak," pamit security tersebut.
Selepas security itu pergi, Sandi menyandarkan tubuhnya ke dinding. Rasa lelah yang mendera, membuat ia tertidur dalam waktu singkat.
__ADS_1
***
Liana baru saja tiba di kosan. Seorang security menghampirinya, dan memberitahu mengenai kedatangan Sandi, sang papa. Mau apa lagi, dia? Aku pikir dia sudah pergi, batin Liana.
"Terima kasih, Pak," ucap Liana.
Ia mendekati tempat Sandi tertidur. Menghela napas sesaat, kemudian membangunkan pria itu. Tidak seperti sang putri yang membangunkan ayahnya. Liana justru hanya menggoyangkan tubuh Sandi tanpa memanggilnya.
Sandi mulai membuka matanya. "Kau sudah pulang?" tanya Sandi.
Pria paruh baya itu mengusap mata dan menegakkan tubuh. Liana menatap datar sang ayah.
"Ada apa kau mencariku lagi? Bukankah sudah kuperjelas, bila aku tak akan membantumu sedikit pun?"cecar Liana.
Tak ingin banyak berkomentar, Sandi menyerahkan berkas yang Andra berikan tadi. Liana menatap berkas di tangan sang ayah, datar.
"Ambil dan buka. Kau harus tahu, jika kau punya andil dalam mengembangkan perusahaan." Sandi menyodorkan berkas itu.
Liana mengambil dan membukanya. Ia terkejut melihat jumlah saham yang ada di sana. Jangan terkecoh Liana. Bisa jadi, ini drama yang dia lakukan untuk kembali menjebakmu! ucap Liana dalam hati.
"Aku tidak akan bisa kau tipu! Sejak dulu, aku tidak memiliki apa pun di sana. Jadi, kau tidak perlu susah payah membuat semua ini."
"Kau bisa mengeceknya sendiri. Tanyakan pada mereka yang mengerti dengan keabsahan saham itu. Jika kau sudah yakin, silakan kembali dan bantu perusahaan," terang Sandi.
Melihat ketidak mungkinan dalam menjelaskan saham itu, Sandi memilih jalan untuk menyuruh Liana mencaritahu sendiri. Ia pun pergi meninggalkan kosan Liana.
Mendengar ucapan Sandi yang tak main-main, membuat Liana mulai berpikir. Benarkah saham itu miliknya? Sejak kapan ia memiliki saham di sana?
__ADS_1